Jakarta – Dunia sepak bola selama lebih dari satu abad dikenal sebagai olahraga yang sangat menjunjung tinggi tradisi dan unsur kemanusiaan di dalam lapangan. Selama berdekad-dekad, keputusan wasit dianggap sebagai sesuatu yang mutlak, meskipun tidak jarang melahirkan perdebatan sengit yang bertahan hingga bertahun-tahun. Keputusan kontroversial seperti gol tangan Tuhan Diego Maradona pada Piala Dunia seribu sembilan ratus delapan puluh enam atau gol Frank Lampard yang tidak disahkan saat melawan Jerman pada Piala Dunia dua ribu sepuluh menjadi bukti nyata betapa keterbatasan pandangan manusia dapat mengubah jalan sejarah sebuah pertandingan. Desakan untuk menghadirkan keadilan yang lebih presisi melalui bantuan teknologi pun semakin menguat, hingga akhirnya melahirkan sebuah sistem yang kini mengubah wajah sepak bola modern, yaitu Video Assistant Referee atau yang lebih dikenal dengan singkatan VAR.
Gagasan awal mengenai penggunaan rekaman video untuk membantu tugas wasit sebenarnya bukan timbul dari federasi dunia secara mendadak, melainkan lahir dari sebuah proyek ambisius di tingkat domestik. Asosiasi Sepak Bola Kerajaan Belanda atau KNVB menjadi pelopor utama yang merintis konsep ini pada awal dekade dua ribu puluhan. Melalui sebuah proyek ilmiah dan teknis yang diberi nama Referee dua titik nol, KNVB mulai melakukan serangkaian simulasi untuk menguji apakah rekaman video dapat digunakan secara efektif tanpa merusak alur dan ritme alami permainan sepak bola. Tokoh penting di balik gerakan ini, seperti Gijs de Jong, secara konsisten mendorong gagasan bahwa teknologi seharusnya hadir bukan untuk menggantikan peran wasit utama, melainkan sebagai jaring pengaman untuk mengoreksi kesalahan yang sangat fatal dan nyata.
Pada tahap awal pengembangan di Belanda, pengujian dilakukan secara tertutup dan tidak memengaruhi keputusan di lapangan secara langsung. Para petugas yang berada di dalam truk siaran atau ruang monitor menyaksikan pertandingan secara waktu nyata dan mencatat seberapa cepat mereka dapat mengidentifikasi kesalahan teknis yang dibuat oleh wasit di lapangan. Hasil dari uji coba luring ini menunjukkan potensi yang sangat luar biasa. Data yang dikumpulkan oleh KNVB membuktikan bahwa kehadiran asisten video mampu menekan angka kesalahan krusial yang kerap luput dari pengamatan mata telanjang. Momen ini menjadi landasan kuat bagi KNVB untuk mempresentasikan hasil temuan mereka kepada badan pembuat aturan sepak bola tertinggi, yaitu International Football Association Board atau IFAB.
Langkah KNVB tidak langsung berjalan mulus karena IFAB dan FIFA pada awalnya sangat berhati-hati serta skeptis terhadap intervensi teknologi. Khawatir akan potensi terhentinya alur pertandingan yang terlalu sering, IFAB membutuhkan waktu beberapa tahun untuk menganalisis setiap risiko yang mungkin timbul. Namun, tekanan publik yang kian meluas serta suksesnya implementasi teknologi garis gawang pada Piala Dunia dua ribu empat belas memberikan dorongan moral yang sangat besar. Pintu perubahan akhirnya terbuka lebar pada Sidang Umum Tahunan IFAB yang berlangsung di Cardiff pada bulan Maret dua ribu enam belas. Dalam pertemuan bersejarah tersebut, IFAB secara resmi menyetujui periode uji coba langsung selama dua tahun untuk sistem Video Assistant Referee.
Keputusan IFAB tersebut menandai dimulainya fase baru dalam sejarah sepak bola global. Uji coba langsung pertama dengan komunikasi secara waktu nyata antara wasit video dan wasit lapangan terjadi pada pertandingan Liga Sepak Bola Antarklub di Amerika Serikat pada bulan Agustus dua ribu enam belas. Tak lama kemudian, KNVB mengukir sejarah di kancah domestik Eropa dengan menerapkan sistem VAR secara penuh pada laga piala domestik antara Ajax melawan Willem II pada bulan September dua ribu enam belas. Pertandingan tersebut menjadi momen monumental ketika wasit Danny Makkelie menggunakan bantuan rekaman video untuk mengubah kartu kuning menjadi kartu merah bagi pemain Willem II, Anouar Kali. Peristiwa ini menjadi bukti nyata pertama di dunia bahwa VAR dapat bekerja secara efektif dalam pertandingan resmi.
Melihat keberhasilan uji coba domestik tersebut, FIFA di bawah kepemimpinan Presiden Gianni Infantino mulai bergerak cepat untuk mengadopsi teknologi ini di panggung internasional. Infantino yang memang menginginkan modernisasi dalam tata kelola sepak bola melihat VAR sebagai instrumen vital untuk menjaga integritas turnamen terbarunya. Debut internasional pertama penggunaan VAR terjadi pada laga persahabatan antara Italia melawan Prancis pada bulan September dua ribu enam belas di Bari. Uji coba skala besar kemudian dilanjutkan pada turnamen resmi FIFA, yaitu Piala Dunia Antarklub dua ribu enam belas di Jepang. Pada turnamen tersebut, wasit Viktor Kassai membuat sejarah sebagai wasit pertama yang memberikan hadiah penalti setelah melihat tayangan ulang pada monitor di pinggir lapangan dalam laga semifinal antara Kashima Antlers melawan Atletico Nacional.
Keberhasilan di Jepang disusul dengan pengujian yang lebih komprehensif pada Piala Konfederasi FIFA dua ribu tujuh belas di Rusia. Turnamen ini menjadi ajang gladi bersih yang sangat krusial bagi FIFA untuk menyempurnakan protokol komunikasi, melatih para wasit papan atas dunia, serta mempercepat durasi pengambilan keputusan. Meskipun sempat diwarnai beberapa kecanggungan dan kebingungan di antara para pemain serta penonton di stadion, evaluasi menyeluruh menunjukkan bahwa VAR berhasil mencegah berbagai keputusan salah yang berpotensi merugikan tim yang bertanding. Komite Wasit FIFA yang dipimpin oleh mantan wasit legendaris Pierluigi Collina terus bekerja keras menyusun standar operasional prosedur yang sangat ketat agar penerapan VAR dapat berjalan secara seragam di seluruh belahan dunia.
Puncak dari perjalanan panjang gagasan VAR terjadi pada tanggal tiga Maret dua ribu delapan belas, ketika IFAB secara resmi menyetujui penggunaan VAR ke dalam Hukum Permainan Sepak Bola secara permanen. Hanya berjarak sepuluh hari kemudian, Dewan FIFA secara bulat mengesahkan penggunaan VAR untuk digunakan pada putaran final Piala Dunia dua ribu delapan belas di Rusia. Momen ini menjadi tonggak sejarah terpenting dalam perjalanan sepak bola modern, di mana turnamen olahraga terbesar di bumi secara resmi dikawal oleh teknologi video asisten wasit.
Selama gelaran Piala Dunia dua ribu delapan belas di Rusia, VAR terbukti menjadi aktor kunci yang mengubah dinamika pertandingan. FIFA menetapkan empat skenario utama di mana VAR boleh mengintervensi keputusan wasit, yaitu proses terjadinya gol, keputusan penalti, pelanggaran yang berpotensi kartu merah langsung, serta kesalahan identifikasi pemain yang diberi sanksi. Sepanjang turnamen tersebut, ratusan insiden ditinjau secara cermat oleh tim VAR di pusat kontrol Moskow, yang menghasilkan puluhan koreksi keputusan di lapangan dan menetapkan rekor jumlah penalti terbanyak dalam sejarah Piala Dunia. Evaluasi akhir FIFA menunjukkan bahwa tingkat akurasi keputusan wasit meningkat drastis hingga mencapai sembilan puluh sembilan koma tiga persen berkat bantuan teknologi tersebut.
Sejak keberhasilan di Rusia, penerapan VAR menyebar dengan sangat cepat ke berbagai kompetisi bergengsi di seluruh dunia, mulai dari Liga Champions UEFA, Premier League Inggris, Serie A Italia, La Liga Spanyol, hingga kompetisi domestik dan internasional di Asia serta Afrika. Momen perjalanannya dari sekadar gagasan eksperimental di Belanda hingga diakui secara resmi oleh FIFA membuktikan bahwa sepak bola mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan esensi dasarnya. Walaupun perdebatan mengenai batas intervensi dan konsistensi keputusan masih sering mewarnai jagat sepak bola hingga hari ini, tidak dapat dipungkiri bahwa kehadiran Video Assistant Referee telah membawa era baru yang lebih transparan, adil, dan terukur dalam sejarah olahraga terpopuler di dunia ini.
(EA/timKB)
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda