Jakarta – Di balik sosok petarung yang kini tampil percaya diri di panggung ONE Championship, terdapat kisah seorang remaja Brasil yang pernah merasa terasing dari lingkungannya sendiri. Lucas Gabriel Barbosa, yang lahir pada 4 Februari 2000 di Curitiba, Brasil, tumbuh dalam keluarga sederhana bersama empat saudara. Orang tuanya berpisah ketika ia masih berusia tiga tahun, tetapi sang ibu kemudian membangun keluarga baru bersama ayah tirinya. Keduanya bekerja keras dan menanamkan satu nilai penting kepada Lucas: tidak ada sesuatu yang datang tanpa perjuangan. Nilai itu kelak menjadi bagian penting dari mentalitasnya sebagai petarung profesional.
Masa remaja Lucas tidak berjalan mudah. Ia mengalami kesulitan dalam pendidikan dan menjadi korban perundungan di sekolah. Kondisi tersebut membuatnya semakin tertutup hingga akhirnya berhenti sekolah. Khawatir dengan lingkungan pergaulannya, sang ibu kemudian memasukkannya ke tempat latihan bela diri. Pada hari pertama, Lucas langsung menjalani latihan Muay Thai dan Brazilian Jiu-Jitsu. Justru di atas matras ia menemukan sesuatu yang sebelumnya sulit didapatkan di sekolah: rasa diterima. Kemampuan alaminya segera terlihat, terutama dalam jiu-jitsu. Ia mulai mengikuti berbagai kompetisi, memenangkan sejumlah gelar BJJ, dan semakin serius menekuni Muay Thai. Namun, di dalam dirinya tumbuh ambisi yang lebih besar: menjadi petarung MMA seperti idolanya, legenda Brasil Wanderlei Silva.
Kesempatan pertama menuju MMA datang ketika Lucas masih sangat muda. Ia menerima pertandingan amatir hanya beberapa hari sebelum laga dan mengalami kekalahan. Alih-alih membuatnya menyerah, kekalahan itu justru menjadi titik balik. Sekitar usia 15 tahun, ia memutuskan bahwa MMA adalah jalan yang ingin dikejarnya. Sejak saat itu, latihan menjadi bagian utama kehidupannya. Lucas bekerja bersama keluarganya pada siang hari, memanfaatkan waktu istirahat untuk berlatih, kemudian kembali ke gym pada malam hari. Ia bahkan terbiasa berlatih enam hari dalam seminggu, dengan sesi yang bisa berlangsung hingga mendekati tengah malam. Kerja keras tersebut mulai menghasilkan buah. Hingga akhir 2022, ia telah membukukan rekor 6-1 di sirkuit MMA Brasil, dengan lima kemenangan melalui TKO atau submission.
Titik balik berikutnya datang ketika Lucas mendapat kesempatan pergi ke Thailand. Ia mengumpulkan tabungan sendiri dan berangkat bersama istri serta bayi perempuan mereka. Keputusan tersebut penuh risiko: mereka belum bisa berbahasa Inggris, tidak memiliki jaringan pendukung yang kuat, dan harus memastikan kehidupan keluarga tetap berjalan. Namun, Thailand menawarkan lingkungan yang ideal untuk mengembangkan kemampuan tarungnya. Lucas kemudian menetap di Phuket dan mengasah kemampuannya di Nova União Phuket, sebuah lingkungan latihan yang membantunya menyatukan striking dan grappling. Ia menjalani debutnya di ONE Friday Fights pada 2023 dan meraih kemenangan atas Ibragim Shaymanov melalui keputusan mutlak. Kemenangan itu menjadi awal dari perjalanan panjangnya di organisasi terbesar bela diri dunia tersebut.
Lucas kemudian mengalahkan Kurbanali Isabekov melalui keputusan mutlak pada ONE Friday Fights 39 pada November 2023. Hampir setahun kemudian, ia mencatat salah satu kemenangan paling penting dalam perkembangan kariernya ketika menghadapi Gadzhimurad Amirzhanov di ONE Friday Fights 82. Setelah melewati pertarungan yang ketat, Lucas menemukan kesempatan di ronde ketiga dan mengakhiri laga melalui arm-triangle choke pada menit 3:54. Kemenangan submission tersebut membuat rekor keseluruhannya meningkat menjadi 9-1 dan memperlihatkan bahwa kemampuan grappling yang dibangunnya sejak remaja tetap menjadi salah satu senjata paling berbahaya.
Ujian terbesar kemudian datang ketika Lucas menghadapi veteran China Zhang Lipeng pada ONE Fight Night 31, Mei 2025. Pertarungan tersebut awalnya dinyatakan sebagai kemenangan Lucas melalui keputusan mutlak setelah tiga ronde. Namun, hasil itu kemudian dibatalkan menjadi no contest setelah adanya temuan terkait pelanggaran doping. Karena itu, kemenangan tersebut tidak lagi dihitung dalam rekor profesionalnya. Situasi tersebut menjadi salah satu tantangan terbesar dalam kariernya, bukan hanya karena hasil pertandingan berubah, tetapi juga karena momentum yang telah dibangunnya harus kembali diperjuangkan.
Lucas kemudian bangkit dengan kemenangan atas Magomed Akaev pada ONE Fight Night 40, 13 Februari 2026. Pertarungan di kelas lightweight tersebut berlangsung tiga ronde penuh dan berakhir dengan keputusan mutlak untuk Lucas. Pertemuan itu sendiri sudah dua kali mengalami penundaan akibat cedera dari kedua kubu, sehingga kemenangan tersebut memiliki nilai tersendiri. Lucas menunjukkan kematangan yang semakin berkembang: tidak terburu-buru mengejar penyelesaian, mampu menjaga tekanan, sekaligus memadukan striking dan grappling sesuai kebutuhan pertarungan.
Puncak perkembangan terbarunya datang pada 26 Juni 2026 ketika Lucas menghadapi mantan juara ONE, Rae Yoon Ok, di ONE Fight Night 44. Dalam pertarungan tiga ronde yang berlangsung ketat, Lucas berhasil meraih kemenangan melalui split decision. Hasil tersebut memperpanjang rekor profesionalnya menjadi 11-1, dengan satu laga berstatus no contest. Kemenangan atas veteran berpengalaman seperti Rae menjadi bukti bahwa Lucas bukan lagi sekadar prospek muda dari ONE Friday Fights. Ia mulai mampu mengalahkan lawan yang memiliki pengalaman panjang di level elite.
Gaya bertarung Lucas merupakan perpaduan antara tekanan striking dan permainan grappling. Fondasi BJJ membuatnya berbahaya ketika pertarungan masuk ke ground, sementara pengalaman Muay Thai memberinya kemampuan menyerang dari jarak dekat. ONE menggambarkannya sebagai petarung yang memiliki tekanan tanpa henti dan kemampuan grappling yang kuat, dengan kecenderungan mencari submission. Mentalitas tersebut berakar pada perjalanan hidupnya sendiri: ia terbiasa menghadapi kesulitan, bekerja sambil berlatih, dan mengambil risiko besar demi kariernya. Bahkan ketika pindah ke Thailand bersama keluarga dalam kondisi serba tidak pasti, ia memilih bertahan dan terus berkembang.
Kini, di usia 26 tahun, Lucas Gabriel berdiri di persimpangan penting dalam kariernya. Ia bertarung di kelas lightweight MMA ONE Championship, meski sejumlah catatan resmi mencantumkan kelas welterweight untuk beberapa laga yang mengikuti batas berat ONE. Rekor profesionalnya saat ini adalah 11 kemenangan, 1 kekalahan, tanpa hasil imbang, dan 1 no contest, dengan kemenangan melalui keputusan, submission, maupun TKO. Belum ada sabuk juara dunia di pinggangnya, tetapi perjalanan dari remaja yang pernah dibully di Curitiba hingga menjadi salah satu petarung Brasil yang diperhitungkan di ONE menunjukkan bahwa kekuatan terbesar Lucas bukan hanya teknik. Ia adalah produk dari disiplin, keberanian mengambil risiko, dan kemampuan mengubah pengalaman buruk menjadi bahan bakar untuk berkembang.
(PR/timKB)
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda