Lito Adiwang: Thunder Kid Di Panggung ONE Championship

Piter Rudai • 03/10/2026 • 4 min read
Lito Adiwang: Thunder Kid Di Panggung ONE Championship

Jakarta – Di dunia bela diri Filipina, perjalanan Lito “Thunder Kid” Adiwang adalah kisah tentang tekad, kegigihan, dan keberanian untuk terus mengejar mimpi meski jalan yang ditempuh penuh hambatan. Lahir dan besar di Santo Tomas, kawasan di sekitar Baguio City, Adiwang merupakan anak bungsu dari tujuh bersaudara. Masa kecilnya tidak berlangsung dalam kemewahan. Ia membantu ayahnya bekerja di pertanian dan sejak dini memahami arti perjuangan untuk keluarga. Namun di tengah kehidupan sederhana tersebut, tumbuh pula kecintaannya terhadap olahraga tarung.

Inspirasi awalnya datang dari sosok yang sangat populer di Filipina, Manny Pacquiao. Ketika berusia sekitar 10 tahun, Adiwang mulai berlatih tinju karena ingin mengikuti jejak idolanya. Ia bahkan memperkuat tim tinju sekolah dan mencatat rekor amatir 6-2. Namun ambisinya tidak berhenti di atas ring tinju. Sekitar 2009, ia mulai serius berlatih wushu dan akhirnya masuk tim nasional Filipina. Ia kemudian menjadi juara nasional wushu dua kali serta memperoleh pengalaman berharga di tingkat internasional. Dari sinilah fondasi striking dan kemampuan atletiknya mulai terbentuk.

Menariknya, Adiwang sebenarnya sudah memiliki keinginan untuk bergabung dengan Team Lakay sejak masih kecil. Masalahnya sederhana tetapi sangat menentukan: ia tidak memiliki uang untuk membayar biaya latihan. Setelah pengalaman bersama tim nasional wushu, ia kembali ke Baguio dan bergabung dengan Tribal Submission, yang kemudian membawanya ke dunia MMA profesional. Pada 2012, Adiwang menjalani debut MMA di URCC. Ia tidak langsung mendapatkan jalan mulus menuju panggung besar. Ia bahkan sempat bekerja sebagai pelatih dan buruh konstruksi untuk bertahan hidup sambil terus mengejar karier sebagai petarung.

Perjalanannya kemudian membawanya ke Malaysia, tempat ia bekerja sebagai pelatih di MuayFit. Di sana ia tidak hanya mengembangkan kemampuan striking, tetapi juga memperluas pengalaman grappling. Ia meraih medali emas dalam turnamen Brazilian jiu-jitsu di Johor dan perak di Copa Da Malasia. Setelah menyadari bahwa mengajar sekaligus bertanding membuat fokusnya terbagi, Adiwang memilih menjadi atlet penuh waktu. Ia kemudian berlatih sekitar satu setengah tahun di AKA Thailand untuk memperkaya kemampuan sebelum akhirnya kembali ke Filipina dan mendapatkan kesempatan kedua mengikuti seleksi ONE Warrior Series.

Kegagalan pada seleksi pertama OWS pada 2017 justru menjadi titik penting dalam perkembangan mentalnya. Adiwang menyadari bahwa bakat dan kekuatan fisik saja tidak cukup untuk menjadi petarung elite. Ia kembali berlatih dan akhirnya terpilih pada 2018. Di ONE Warrior Series, ia langsung menunjukkan karakter agresifnya. Manuel Huerta menjadi korban KO pada debutnya, kemudian Alberto Correia da Silva dihentikan lewat TKO. Kemenangan atas Anthony Do melalui keputusan mutlak pada 2019 melengkapi tiga kemenangan OWS dan memberinya kontrak enam digit untuk masuk roster utama ONE Championship.

Debutnya di panggung utama terjadi pada ONE: CENTURY PART I di Tokyo, Oktober 2019. Menghadapi Senzo Ikeda, juara dunia kelas flyweight Pancrase saat itu, Adiwang tidak membutuhkan waktu lama untuk memperkenalkan dirinya. Ia menghentikan Ikeda pada ronde pertama melalui TKO. Setelah itu, ia melanjutkan kiprahnya di kelas strawweight dengan kemenangan atas Pongsiri Mitsatit dan kemenangan-kemenangan penting lainnya, sekaligus membangun reputasi sebagai salah satu petarung Filipina paling eksplosif di generasinya.

Namun karier Adiwang tidak selalu bergerak naik. Cedera serius menjadi salah satu ujian terbesar dalam perjalanannya. Pada 2022, ia mengalami cedera lutut dalam pertarungan melawan Jeremy Miado yang membuatnya harus menjalani masa pemulihan panjang. Setelah kembali, ia sempat kalah dari Miado dalam rematch, sebelum bangkit dengan kemenangan atas Adrian Mattheis. Ia kemudian meninggalkan Team Lakay dan melanjutkan fase baru kariernya dengan berlatih di Soma Fight Club, Bali, Indonesia. Perpindahan tersebut menjadi bagian dari upayanya mencari perkembangan baru dalam karier dan kemampuan bertarung.

Secara gaya bertarung, Adiwang adalah representasi striker eksplosif khas Filipina. Fondasi tinju dan wushunya membuat pukulannya cepat dan agresif, sementara pengalaman MMA serta grappling membuatnya mampu menggabungkan striking dengan takedown dan submission. Ia dikenal senang menekan lawan, menyerang dengan kombinasi cepat dan memanfaatkan ledakan tenaga untuk mencari penyelesaian. Julukan “Thunder Kid” terasa tepat karena gaya bertarungnya sering kali berlangsung dalam tempo tinggi dan penuh energi.

Lebih dari sekadar agresivitas, Adiwang memiliki filosofi bahwa seorang petarung harus terus berkembang. Ia pernah mengatakan bahwa tujuannya adalah menunjukkan versi dirinya yang lebih baik setiap kali memasuki Circle, baik sebagai atlet maupun sebagai manusia. Pengalaman hidupnya turut membentuk mentalitas tersebut: kemiskinan, pekerjaan kasar, kegagalan seleksi, perpindahan sasana, hingga cedera tidak membuatnya berhenti. Ia justru melihat setiap kemunduran sebagai bagian dari proses menuju level berikutnya.

Dalam catatan resmi ONE Championship, Adiwang memiliki 11 kemenangan dan 5 kekalahan dalam 16 pertandingan di ONE, dengan tujuh kemenangan melalui penyelesaian. Ia bertanding di kelas strawweight MMA, divisi yang dikenal memiliki kombinasi kecepatan, teknik dan daya tahan luar biasa. Dari anak petani di Santo Tomas yang dahulu hanya bermimpi menjadi atlet hingga menjadi salah satu nama penting MMA Filipina di ONE Championship, perjalanan Lito Adiwang membuktikan bahwa jalan menuju panggung dunia tidak selalu dimulai dari sasana besar. Kadang-kadang, semuanya bermula dari mimpi sederhana seorang anak yang hanya ingin menjadi seperti idolanya.

(PR/timKB)

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...