Jakarta – Momen ketika seorang kapten tim mengangkat sebuah piala tinggi-tinggi ke udara di atas panggung juara merupakan salah satu pemandangan paling ikonis dalam dunia olahraga modern. Cahaya lampu kilat kamera yang menyambar, lontaran kertas warna-warni yang membumbung, serta gemuruh sorak-sorai ribuan penonton selalu menyertai gestur tersebut. Gerakan melempar atau mengangkat objek kemenangan di atas kepala ini seolah-olah sudah menjadi bahasa universal yang menyimbolkan kejayaan, perjuangan keras, dan pencapaian puncak. Namun, tradisi ini tidak lahir begitu saja secara instan dalam semalam. Asal-usul ritual mengangkat trofi memiliki akar sejarah yang sangat panjang, melintasi ribuan tahun peradaban manusia dari era peperangan kuno, ritual keagamaan Yunani dan Romawi, hingga berkembang menjadi selebrasi megah di era industri olahraga modern.
Akar paling awal dari tradisi penyerahan dan pengangkatan simbol kemenangan dapat ditelusuri kembali ke peradaban Yunani Kuno. Kata trofi itu sendiri berasal dari bahasa Yunani tropaion, yang berakar dari kata kerja trepein yang berarti memutar atau mengalahkan lawan. Pada masa itu, tropaion bukanlah sebuah piala perak yang indah, melainkan sebuah monumen kemenangan perang yang didirikan langsung di medan pertempuran. Ketika sebuah pasukan berhasil memukul mundur musuh, para prajurit akan mengumpulkan senjata, perisai, dan baju besi milik musuh yang kalah. Barang-barang rampasan perang tersebut kemudian disusun dan diikat pada sebongkah kayu atau pohon di titik persis di mana arah pertempuran berbalik unggul.
Dalam tradisi militer kuno tersebut, objek-objek kemenangan itu diangkat dan dipasang tinggi-tinggi agar bisa dilihat dari kejauhan oleh seluruh pasukan dan masyarakat. Gerakan memamerkan barang-barang ini ke atas udara memiliki fungsi ganda yang sangat krusial. Fungsi pertama adalah sebagai simbol ucapan terima kasih dan persembahan kurban kepada para dewa yang dipercaya telah memberikan kemenangan. Fungsi kedua adalah sebagai pesan intimidasi visual kepada pihak yang kalah serta penegasan dominasi kekuatan sang pemenang. Ritual mengangkat dan memamerkan objek berharga ini kemudian menjadi kebiasaan yang mengakar kuat dalam kebudayaan militer era purba.
Peradaban Romawi Kuno kemudian mengadopsi serta memodifikasi tradisi Yunani ini menjadi sebuah festival yang jauh lebih kolosal dan terstruktur, yang dikenal dengan nama triumph. Ketika seorang jenderal Romawi pulang dari kampanye militer yang sukses di luar negeri, senat akan menggelar parade megah di sepanjang jalan kota Roma. Sang jenderal akan berdiri di atas kereta perang yang ditarik empat ekor kuda, mengenakan jubah ungu bersulam emas. Di sekelilingnya, para prajurit akan mengangkat tinggi-tinggi bendera perang, artefak emas, perhiasan, serta objek-objek berharga hasil rampasan dari wilayah yang ditaklukkan. Gestur mengangkat barang rampasan di atas kepala di hadapan puluhan ribu warga Roma ini dilakukan untuk menunjukkan keagungan kekaisaran sekaligus memperlihatkan bukti nyata dari keberhasilan misi mereka.
Seiring berjalannya waktu dan meredanya era pertempuran kolosal, energi kompetitif manusia mulai bergeser dari medan perang menuju arena olahraga. Bentuk benda yang dipamerkan pun mengalami evolusi secara bertahap. Pada Olimpiade Kuno di Yunani, para pemenang kompetisi tidak menerima piala besi atau emas, melainkan mahkota daun zaitun yang dipetik dari pohon suci. Meskipun bentuk bendanya berbeda, gestur perayaannya memiliki kemiripan. Sang juara akan berdiri di hadapan publik dan mengangkat tangan mereka tinggi-tinggi ke langit sebagai bentuk penghormatan kepada Dewa Zeus dan pertunjukan rasa bangga atas pencapaian fisik mereka.
Memasuki abad pertengahan di Eropa, tradisi ini mulai berakulturasi dengan budaya ksatria dan bangsawan. Pertandingan ketangkasan seperti turnedamen anggar, pacuan kuda, dan pertarungan tombak di atas kuda menjadi hiburan utama para bangsawan. Dalam turnedamen-turnedamen ini, pemenang biasanya dihadiahi wadah minum berupa piala perak, cangkir besar, atau mangkuk yang dihiasi ukiran rumit. Benda-benda ini dipilih karena memiliki nilai fungsi praktis sekaligus nilai estetika tinggi sebagai barang mewah. Ketika seorang ksatria memenangkan turnedamen, ia akan menerima cangkir tersebut dari raja atau putri kerajaan, lalu mengangkatnya ke atas untuk diperlihatkan kepada seluruh penonton yang bersorak di tribun.
Evolusi penting dalam desain trofi terjadi pada abad ke delapan belas dan sembilan belas di Inggris, yang menjadi peletak dasar bentuk piala olahraga modern. Benda yang paling sering dijadikan hadiah kompetisi adalah loving cup atau cangkir kasih sayang. Cangkir perak ini memiliki ciri khas yang sangat menentukan, yaitu keberadaan dua pegangan besar di sisi kiri dan kanannya. Desain dua pegangan ini awalnya dibuat agar cangkir bisa dioperkan dari satu orang ke orang lain dengan mudah dalam acara perjamuan minum bersama. Namun, secara tidak sengaja, keberadaan dua pegangan di sisi samping tersebut terbukti sangat sempurna secara ergonomis untuk dipegang dengan kedua tangan dan diangkat lurus ke atas kepala.
Ketika olahraga terorganisasi mulai tumbuh pesat pada akhir abad ke sembilan belas dan awal abad ke dua puluh, piala berdesain cangkir dua pegangan ini diadopsi secara luas oleh berbagai federasi olahraga di seluruh dunia. Ajang-ajang bersejarah seperti Piala FA di Inggris, kompetisi tenis Wimbledon, hingga Piala Dunia FIFA yang pertama kali digelar pada tahun 1930 mulai memperkenalkan trofi-trofi ikonis yang terbuat dari logam mulia. Pada era awal ini, prosesi penyerahan trofi masih berlangsung sangat formal dan kaku. Seorang kapten tim biasanya hanya menerima piala dari pejabat negara, berjabat tangan, dan memegang piala tersebut di dada atau memeluknya dengan canggung.
Transformasi gestur penyerahan menjadi selebrasi spontan yang eksplosif seperti yang kita kenal hari ini dipicu oleh kehadiran media massa, khususnya televisi berwarna pada pertengahan abad ke dua puluh. Kamera televisi membutuhkan fokus visual yang kuat dan mampu menangkap emosi para atlet secara dramatis. Ketika seorang kapten memegang pegangan piala dan mengangkatnya tinggi-tinggi melampaui kepala, seluruh anggota tim di belakangnya dapat terlihat dalam satu bingkai kamera yang utuh. Gerakan ini secara visual menciptakan komposisi piramida yang sempurna, di mana piala berada di titik tertinggi sebagai puncak kejayaan, dikelilingi oleh wajah-wajah penuh kegembiraan dari para pemain.
Salah satu momen yang semakin memopulerkan gestur ini ke seluruh penjuru planet adalah ketika Pelé dan tim nasional Brasil menjuarai Piala Dunia 1970 di Meksiko. Foto-foto Pelé yang digendong di atas pundak rekan-rekannya sambil mengacungkan trofi Jules Rimet ke udara menjadi gambar abadi yang menghiasi halaman depan surat kabar di seluruh dunia. Momen tersebut menegaskan bahwa mengangkat trofi bukan lagi sekadar formalitas penerimaan hadiah, melainkan sebuah pernyataan kemenangan yang sangat emosional dan puitis.
Dari sudut pandang bahasa tubuh dan psikologi manusia, gerakan mengangkat benda berharga ke atas kepala merupakan ekspresi naluriah yang sangat mendasar. Ketika manusia merasa bangga, menang, atau berhasil mengatasi rintangan berat, tubuh secara alami merespons dengan membuka diri dan meregangkan tangan ke atas. Dengan mengangkat trofi di atas kepala, seorang pemenang secara tidak sadar memperbesar postur tubuhnya untuk menunjukkan kekuatan sekaligus membagikan kebahagiaan tersebut kepada orang-orang di sekitarnya. Piala yang berada di posisi paling tinggi melambangkan bahwa cita-cita dan kerja keras mereka akhirnya telah mencapai puncaknya.
Kini, di era modern yang didominasi oleh media sosial dan siaran digital berdefinisi tinggi, tradisi mengangkat trofi telah dirancang menjadi sebuah pertunjukan spektakuler yang sangat terstruktur. Panggung-panggung megah dibangun di tengah lapangan, semburan kembang api dan obor gas dinyalakan, dan lagu-lagu kebangsaan atau musik perayaan diputar pada desibel tertinggi tepat saat piala diangkat ke udara. Kendati kemasannya telah berubah menjadi sangat modern dan penuh dengan sentuhan teknologi, esensi dasar dari ritual tersebut tetap tidak berubah sejak ribuan tahun lalu.
Secara keseluruhan, tradisi mengangkat trofi merupakan warisan budaya manusia yang terus hidup dan berkembang melintasi berbagai zaman. Berawal dari tumpukan senjata musuh di medan perang Yunani Kuno, berkembang menjadi parade kemenangan kekaisaran Romawi, diserap oleh turnedamen ksatria abad pertengahan, hingga akhirnya diabadikan oleh industri olahraga modern. Gerakan mengangkat piala perak ke angkasa akan selalu menjadi simbol paling murni dari dedikasi, air mata, dan kejayaan manusia dalam menaklukkan batas kemampuan dirinya.
(EA/timKB)
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda