Jakarta – Di dunia Muay Thai modern, hanya sedikit petarung yang mampu menggabungkan keindahan teknik dengan daya hancur seperti Tawanchai P.K. Saenchai. Lahir dengan nama Narongsak Kaewmala pada 7 April 1999 di Nong Prue, Bang Lamung, Chonburi, Thailand, Tawanchai tumbuh sebagai anak bungsu dari tiga bersaudara. Ketertarikannya pada Muay Thai muncul ketika masih berusia sekitar tujuh atau delapan tahun. Saat melewati Thepprasit Stadium di Pattaya bersama ayahnya, ia melihat pertandingan Muay Thai dan langsung ingin mencoba. Sang ayah, yang juga pernah menjadi atlet Muay Thai, kemudian membawanya berlatih di Petchrungruang Gym.
Perjalanan itu berkembang sangat cepat. Setelah kurang dari setahun berlatih, Tawanchai sudah menjalani pertandingan pertamanya dengan nama Jatukam Petchrungruang dalam sebuah pertarungan di bar kawasan Pattaya. Ia menang KO ronde pertama melalui tendangan kiri dan mendapatkan uang tip sekitar 800 baht. Dari pertandingan sederhana tersebut, sebuah karier besar mulai terbentuk. Pada usia 14 tahun, ia sudah tampil di Lumpinee Stadium. Tahun 2018 menjadi salah satu tonggak awal penting ketika ia meraih penghargaan Fighter of the Year dari Lumpinee Stadium, Sports Authority of Thailand, dan Siam Kela.
Kehidupan Tawanchai juga dibentuk oleh situasi keluarga. Ia pernah mengalami masa ketika kondisi ekonomi keluarganya berubah dan berbagai barang di rumah mulai dijual. Namun, Muay Thai bukan semata-mata jalan keluar dari kesulitan. Tawanchai memang sudah mencintai olahraga tersebut sebelum masalah finansial datang. Sang ayah kemudian menjadi figur terpenting dalam kariernya—membelikan perlengkapan latihan, mendampinginya berlari setiap pagi dan sore, serta terus memberikan dukungan ketika ia mengalami kekalahan. Hubungan itu membentuk mentalitas Tawanchai: disiplin, tidak mudah menyerah, dan selalu melihat kekalahan sebagai bagian dari perjalanan.
Setelah membangun reputasi di Thailand, Tawanchai bergabung dengan ONE Championship pada 2021. Debutnya langsung menunjukkan kualitasnya ketika ia mengalahkan Sean Clancy melalui KO tendangan tinggi pada Mei tahun tersebut. Ia kemudian menghadapi Sitthichai Sitsongpeenong dan melanjutkan kemenangan atas Saemapetch Fairtex. Namun, pengalaman di kelas bantamweight membuatnya menyadari bahwa batas fisiknya lebih cocok untuk divisi yang lebih besar. Setelah mengalahkan Saemapetch pada Januari 2022, ia memilih naik ke featherweight, sebuah keputusan yang kemudian mengubah kariernya.
Di featherweight, Tawanchai langsung menunjukkan level berbeda. Ia menghentikan Niclas Larsen melalui kombinasi dua pukulan pada ronde kedua dan mendapatkan kesempatan menantang juara dunia saat itu, Petchmorakot Petchyindee. Dalam pertarungan lima ronde di ONE 161 pada September 2022, Tawanchai tampil dalam duel taktis yang ketat. Ia berhasil mengambil momentum pada ronde terakhir dan merebut kemenangan keputusan mutlak untuk menjadi ONE Featherweight Muay Thai World Champion. Kemenangan tersebut menjadi puncak dari perjalanan panjang sejak ring-ring kecil Pattaya menuju panggung global.
Setelah menjadi juara, dominasinya semakin terlihat. Pertahanan pertama melawan Jamal Yusupov pada Februari 2023 berakhir hanya dalam 49 detik, setelah tendangan rendah Tawanchai membuat kaki lawannya tak mampu melanjutkan pertandingan. Ia kemudian mengalahkan Davit Kiria melalui penghentian akibat cedera pada ronde ketiga. Dalam dua laga berikutnya, ia menghadapi Jo Nattawut dan Superbon Singha Mawynn—dua nama elite yang menguji kemampuan Tawanchai dari sisi berbeda. Ia menang atas Nattawut melalui keputusan dan kemudian mengalahkan Superbon melalui keputusan mayoritas pada Desember 2023.
Pertemuan keduanya dengan Nattawut di ONE 167 pada Juni 2024 kembali dimenangkan Tawanchai melalui keputusan mayoritas. Namun, salah satu penampilan terbaiknya datang pada ONE 170 Januari 2025, ketika ia kembali berhadapan dengan Superbon. Kali ini tidak ada ruang untuk perdebatan. Tawanchai menjatuhkan Superbon tiga kali pada ronde kedua dan menang TKO. Kemenangan itu memperkuat statusnya sebagai salah satu striker paling berbahaya di generasinya sekaligus menunjukkan bahwa ia tidak hanya mampu memenangkan pertarungan teknis, tetapi juga menghancurkan lawan kelas dunia ketika menemukan celah.
Gaya bertarung Tawanchai dibangun di atas tendangan kiri, pengaturan jarak, timing, dan kemampuan membaca ritme lawan. Ia dikenal sebagai southpaw dengan tendangan kiri yang sangat keras, tetapi permainannya jauh lebih kompleks daripada sekadar mengandalkan satu senjata. Teep digunakan untuk menjaga jarak, sementara left kick dapat diarahkan ke tubuh atau kaki. Ketika lawan mulai mengantisipasi tendangan, ia mampu mengombinasikannya dengan pukulan dan serangan jarak dekat. Keunggulan lainnya adalah ketenangan: Tawanchai tidak selalu terburu-buru menyerang, melainkan menunggu momen ketika pertahanan lawan terbuka.
Pada Desember 2025, perjalanan dominasinya mengalami hambatan besar. Dalam pertarungan kickboxing melawan Liu Mengyang di ONE Friday Fights 137, Tawanchai mengalami patah kaki dan harus menjalani operasi serta rehabilitasi panjang. Cedera tersebut membuatnya absen dan akhirnya, pada Juli 2026, ia resmi melepaskan gelar ONE Featherweight Muay Thai World Championship agar divisi dapat terus berjalan. Nico Carrillo kemudian diangkat menjadi juara tak terbantahkan. Tawanchai sendiri tetap berambisi merebut kembali sabuk tersebut setelah pulih.
Dalam catatan ONE, Tawanchai memiliki 10 kemenangan dan 3 kekalahan di organisasi tersebut. Secara keseluruhan, Muay Thai Records mencatat rekornya sekitar 41-14-1 dengan 11 kemenangan KO/TKO, sementara beberapa sumber mencatat angka berbeda karena perbedaan cakupan pertandingan lama.
Tawanchai bukan sekadar produk dari sasana terkenal. Ia adalah petarung yang tumbuh dari Pattaya, ditempa sejak kecil, didukung ayahnya, lalu mengubah tendangan kiri menjadi salah satu senjata paling ditakuti di Muay Thai modern. Gelarnya memang kini telah dilepas, tetapi warisannya sebagai salah satu petarung paling komplet di generasinya tetap berdiri. Dan ketika ia kembali setelah rehabilitasi, pertanyaan besarnya bukan apakah Tawanchai masih mampu bertarung di level tertinggi, melainkan apakah ia bisa kembali merebut takhta yang pernah ia kuasai.
(PR/timKB)
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda