Jakarta – Dalam dunia mixed martial arts (MMA), Stephen Thompson dikenal sebagai petarung yang membawa keindahan teknik karate ke dalam oktagon. Dijuluki “Wonderboy”, petarung Amerika Serikat ini mengandalkan kecepatan, akurasi, dan kemampuan mengendalikan jarak untuk menghadapi lawan-lawannya. Meski tidak pernah merebut sabuk juara UFC, Thompson berhasil menjadi salah satu striker paling khas dalam sejarah divisi welterweight berkat gaya bertarung yang berbeda dari kebanyakan petarung modern.
Stephen Randall Thompson lahir pada 11 Februari 1983 di Simpsonville, Carolina Selatan. Ia tumbuh dalam keluarga yang akrab dengan bela diri karena ayahnya, Ray Thompson, merupakan petarung profesional sekaligus pemilik sekolah karate. Stephen mulai berlatih sejak berusia tiga tahun. Sejak kecil, ia mempelajari disiplin, keseimbangan, dan ketepatan gerakan yang kelak menjadi fondasi kariernya. Pada usia 15 tahun, ia mendapatkan julukan Wonderboy setelah mengalahkan lawan kickboxing yang jauh lebih tua dan berpengalaman. Sebelum menekuni MMA, Thompson membangun reputasi melalui karate dan kickboxing, dengan rekor gabungan 57 kemenangan tanpa kekalahan menurut profil resmi UFC.
Thompson memulai karier MMA profesional pada 2010 dan menjalani debut UFC pada 4 Februari 2012 di UFC 143 melawan Dan Stittgen. Ia langsung mencuri perhatian dengan kemenangan KO melalui tendangan kepala pada ronde pertama. Namun, perjalanan awalnya tidak sepenuhnya mulus. Pada April 2012, ia kalah angka dari Matt Brown. Kekalahan itu menjadi pelajaran penting bahwa kemampuan striking yang hebat harus dilengkapi dengan pertahanan gulat dan grappling. Thompson kemudian terus mengembangkan permainannya tanpa meninggalkan karakter karate yang menjadi identitas utamanya.
Namanya semakin diperhitungkan setelah mencatat kemenangan penting atas Robert Whittaker, Jake Ellenberger, dan Johny Hendricks. Pada 2016, ia mengalahkan Hendricks melalui TKO ronde pertama, kemudian menundukkan Rory MacDonald lewat keputusan mutlak. Rangkaian kemenangan tersebut mengantarkannya ke perebutan gelar kelas welter UFC melawan Tyron Woodley di UFC 205 pada November 2016. Pertarungan lima ronde itu berakhir imbang mayoritas setelah keduanya saling melancarkan serangan berbahaya. Dalam duel ulang pada Maret 2017, Woodley menang melalui keputusan mayoritas. Thompson memang gagal meraih gelar, tetapi dua pertarungan tersebut mengukuhkan statusnya sebagai salah satu striker terbaik di divisi welter.
Perjalanan berikutnya memperlihatkan konsistensi sekaligus tantangan. Thompson mengalahkan Jorge Masvidal pada 2017, tetapi kalah dari Darren Till pada 2018 dan Anthony Pettis pada 2019. Kekalahan KO dari Pettis menjadi salah satu momen paling mengejutkan dalam kariernya. Ia kemudian bangkit dengan kemenangan atas Vicente Luque dan Geoff Neal. Pada Desember 2022, Thompson kembali menunjukkan kualitasnya ketika mendominasi Kevin Holland hingga sudut Holland menghentikan pertarungan setelah ronde keempat. Namun, kekalahan dari Shavkat Rakhmonov pada 2023, Joaquin Buckley pada 2024, dan Gabriel Bonfim pada Juli 2025 memperlihatkan betapa beratnya mempertahankan posisi elite ketika menghadapi generasi petarung yang lebih muda dan agresif.
Secara teknis, Thompson bertanding di kelas welterweight dengan batas berat 170 pon atau sekitar 77,1 kilogram. Tingginya sekitar 183 sentimeter dengan jangkauan tangan 191 sentimeter. Ia menggunakan posisi karate menyamping, pergerakan kaki yang dinamis, serta tendangan dan pukulan lurus untuk mengontrol jarak. Alih-alih terus menekan, ia sering memancing lawan maju lalu menyerang celah yang terbuka. Gaya ini menuntut refleks, ketepatan, dan konsentrasi tinggi, terutama ketika menghadapi lawan yang mampu memaksanya bertarung dalam jarak dekat atau membawanya ke pertarungan bawah.
Di luar oktagon, mentalitas Thompson dibentuk melalui latihan bersama ayahnya di Upstate Karate dan tim Pitch Black MMA. Rutinitasnya mencakup latihan teknik menggunakan mitt, pengembangan kemampuan fisik, latihan keterampilan bersama tim, serta sparring kickboxing. Ia juga menekankan pentingnya latihan yang terarah dan kesiapan mental. Bagi Thompson, menjadi petarung bukan hanya soal memukul lebih keras, melainkan memahami lawan, mengelola energi, dan terus menyempurnakan teknik. Disiplin tersebut membantunya bertahan di level tertinggi selama lebih dari satu dekade.
Hingga Oktober 2026, rekor profesional MMA Thompson tercatat 17 kemenangan, 9 kekalahan, dan 1 hasil imbang, termasuk delapan kemenangan KO/TKO dan satu kemenangan submission. Ia belum pernah menjadi juara UFC, tetapi dua kali menantang gelar kelas welter dan meninggalkan jejak melalui gaya striking yang unik. Thompson juga tercatat dijadwalkan menghadapi Charles Radtke pada UFC 334, 14 November 2026; laga tersebut masih berstatus mendatang pada saat artikel ini ditulis.
Pada akhirnya, warisan Wonderboy tidak hanya diukur melalui sabuk juara. Ia membuktikan bahwa karate dapat menjadi senjata efektif dalam MMA modern apabila dipadukan dengan adaptasi, kecerdasan taktis, dan disiplin. Di tengah olahraga yang terus berkembang, Thompson tetap dikenang sebagai petarung yang mempertahankan identitasnya sekaligus menantang batas tradisi bela diri di panggung terbesar dunia.
(PR/timKB)
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda