Takuma Ota: Perjalanan Petarung Jepang Hingga Jadi Juara Dunia

Piter Rudai • 18/10/2026 • 4 min read
Takuma Ota: Perjalanan Petarung Jepang Hingga Jadi Juara Dunia

Jakarta – Di usia ketika sebagian anak masih sekadar mengenal olahraga dari layar televisi, Takuma Ota sudah mulai tertarik pada dunia pertarungan. Lahir pada 21 Juni 1999 di Atsugi, Prefektur Kanagawa, Jepang, Ota mulai berlatih kickboxing ketika duduk di kelas lima sekolah dasar. Ketertarikannya muncul setelah menyaksikan pertandingan bela diri di televisi. Baginya, olahraga tersebut terlihat menarik dan memunculkan keinginan sederhana untuk menjadi lebih kuat. Ia kemudian bergabung dengan Shinkoh Muay Thai Gym, tempat yang menjadi basis perkembangan kariernya hingga level profesional.

Perkembangannya berlangsung cepat. Hanya sekitar tiga bulan setelah mulai berlatih, Ota sudah mencoba bertanding di level amatir. Ia kemudian mengumpulkan sekitar 90 pertandingan amatir dengan persentase kemenangan lebih dari 80 persen. Pengalaman tersebut juga membawanya berlatih dan bertanding di Thailand, negara yang memiliki tradisi Muay Thai sangat kuat. Pada usia 15 tahun, Ota lulus ujian profesional NJKF pada Februari 2015 dan bersiap memasuki dunia profesional. Debutnya berlangsung pada 29 April 2015.

Memasuki usia 16 tahun, Ota mulai menunjukkan bahwa dirinya bukan sekadar prospek muda. Pada Januari 2016, ia tampil di Thailand untuk pertandingan profesional pertamanya di negara tersebut dan meraih kemenangan TKO atas petarung tuan rumah setelah menjatuhkan lawan dengan kombinasi serangan yang diakhiri lutut kiri. Pada Juni tahun yang sama, catatannya sudah mencapai 7 kemenangan, 1 imbang dan 3 kemenangan KO dari sembilan pertandingan, sekaligus menempatkannya di peringkat kedua kelas flyweight NJKF. Ketika masih menjadi siswa SMA, ia bahkan sudah mendapat kesempatan tampil dalam perebutan gelar NJKF.

Karier Ota kemudian berkembang melalui berbagai kompetisi kickboxing dan Muay Thai Jepang. Ia berhasil meraih S1 Japan 55 kg Championship, kemudian WBC Muay Thai Japan Unified Featherweight Championship, sebelum menjadi juara NJKF Featherweight. Pada Februari 2024, Ota merebut sabuk NJKF Featherweight setelah mengalahkan Kazuma Sasaki melalui keputusan mutlak 3-0. Setahun kemudian, ia mempertahankan gelar tersebut dengan kemenangan TKO atas TAKAYUKI pada ronde keempat.

Nama Ota semakin dikenal secara internasional ketika ia masuk ke ONE Championship. Debutnya terjadi pada ONE Friday Fights 32, 8 September 2023, menghadapi Jelte Blommaert dan menang melalui unanimous decision. Performa paling mencoloknya datang pada April 2024 ketika menghadapi Copter Sor Sommai. Ota menghentikan petarung Thailand tersebut pada ronde kedua melalui KO menggunakan siku kanan dan mendapatkan bonus 350.000 baht. Setelah itu, ia mengalami kekalahan split decision dari Brazil M. Eakchat pada Agustus 2024, sebelum kembali menang atas Wei Ziqin melalui unanimous decision pada November.

Puncak penting karier Ota datang pada 8 Juni 2025. Di Korakuen Hall, Tokyo, ia menghadapi Antonio Orden dari Spanyol dalam perebutan WBC Muay Thai World Featherweight Championship dengan batas 57,15 kg. Ota tampil sebagai penantang dan berhasil menghentikan sang juara pada ronde ketiga menit 1:49 untuk merebut sabuk dunia. Kemenangan tersebut melengkapi perjalanan panjang yang dimulai dari ring amatir ketika masih anak-anak.

Di atas ring, Ota dikenal dengan gaya orthodox dan permainan Muay Thai yang seimbang. Salah satu senjata utamanya adalah right middle kick, tetapi ia tidak bergantung pada satu teknik. Ia memadukan tendangan, pukulan, lutut, siku, serta permainan clinch sambil membaca respons lawan. ONE Championship juga menyoroti kemampuan Ota menyesuaikan strategi berdasarkan situasi pertandingan. Dalam pertarungannya melawan Copter, misalnya, ia awalnya berusaha menggunakan tendangan dan pukulan untuk mengurangi stamina lawan sebelum mencari peluang penyelesaian.

Pengalaman bertanding di ONE juga memaksanya beradaptasi dengan sarung tangan MMA berukuran kecil. Ota mengakui bahwa ukuran sarung tangan membuat jarak terasa berbeda dan pukulan lawan lebih mudah menembus pertahanan. Tantangan tersebut menjadi bagian dari prosesnya memperluas kemampuan dari kompetisi Muay Thai Jepang ke panggung internasional. Di luar pertandingan, ia juga aktif di gym dan menjalani peran sebagai atlet sekaligus sosok yang berbagi pengalaman latihan kepada generasi berikutnya.

Setelah menjadi juara dunia, Ota menghadapi fase yang tidak mudah. Ia kalah unanimous decision dari Israel Dos Santos pada ONE Friday Fights 136 pada Desember 2025. Pada laga terbarunya, ONE Friday Fights 157 pada 5 Juni 2026, ia kembali kalah melalui unanimous decision dari Jacob Thompson dalam pertandingan Muay Thai kelas flyweight. ONE secara resmi mencatat hasil tersebut sebagai kekalahan Ota.

Untuk rekor profesional, pencatatan dapat berbeda menurut basis data dan organisasi yang dihitung. M News mencatat 30 pertandingan dengan 23 kemenangan, 6 kekalahan, dan 1 imbang, sementara profil resmi K-1 mencantumkan 40 pertandingan, 30 kemenangan, 8 kekalahan, dan 2 imbang. Perbedaan tersebut berkaitan dengan cakupan pertandingan yang dihitung masing-masing sumber. Untuk catatan khusus di ONE Championship, Ota tercatat memiliki 3 kemenangan dan 3 kekalahan, dengan satu kemenangan melalui KO.

Ota bertanding terutama di sekitar kelas featherweight, dengan profil K-1 mencantumkan berat 57,5 kg dan tinggi 173 cm. Hingga 2026, koleksi gelarnya mencakup WBC Muay Thai World Featherweight Championship, NJKF Featherweight Championship, WBC Muay Thai Japan Unified Featherweight Championship, S1 Japan 55 kg Championship, serta IRON FIST World Super Featherweight Championship. Pada 2025, NJKF bahkan memberinya penghargaan MVP tahunan, menandai posisi pentingnya dalam perkembangan Muay Thai Jepang.

Perjalanan Takuma Ota pada akhirnya bukan hanya cerita tentang seorang petarung yang mengumpulkan sabuk juara. Dari anak sekolah yang menemukan ketertarikan pada kickboxing, remaja yang berani bertanding di Thailand, hingga juara dunia yang kemudian menghadapi kerasnya persaingan ONE Championship, kariernya dibentuk oleh proses panjang. Kemenangan dan kekalahan menjadi bagian yang sama-sama membentuk perjalanan tersebut—dan setelah lebih dari satu dekade berada di dunia pertarungan, Ota masih terus mencari tantangan berikutnya di ring.

(PR/timKB)

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...