Jan Błachowicz: Perjalanan Sang “Legendary Polish Power”

Piter Rudai • 22/10/2026 • 4 min read
Jan Błachowicz: Perjalanan Sang “Legendary Polish Power”

Jakarta – Jan Błachowicz adalah salah satu petarung Polandia paling berpengaruh dalam sejarah UFC. Lahir di Cieszyn, Polandia, pada 24 Februari 1983, Błachowicz tidak langsung menapaki jalur MMA sebagai seorang bintang. Sebelum menjadi juara dunia, ia menjalani kehidupan yang jauh lebih sederhana, termasuk bekerja sebagai petugas keamanan klub. Ia kemudian menyelesaikan pendidikan sebagai teknisi sipil, tetapi dunia pertarungan perlahan mengambil alih hidupnya. Błachowicz mulai berkarier profesional di MMA pada 2007 dan sejak awal mengembangkan fondasi dari Muay Thai, grappling, serta Brazilian Jiu-Jitsu hingga akhirnya meraih sabuk hitam BJJ. Ia juga pernah menjadi juara dunia amatir Muay Thai di Korea Selatan pada 2008.

Karier profesionalnya dimulai di Polandia, terutama melalui Konfrontacja Sztuk Walki (KSW). Błachowicz mencatat sejumlah kemenangan pada periode awal sebelum mengalami kekalahan dari Rameau Thierry Sokoudjou pada 2011 dalam perebutan gelar KSW Light Heavyweight. Kekalahan itu justru menjadi titik balik. Ia kemudian memenangkan lima pertandingan berturut-turut dan membalas kekalahannya dari Sokoudjou melalui kemenangan angka di KSW 17. Setelah itu, Błachowicz merebut serta mempertahankan gelar kelas light heavyweight KSW. Pada periode tersebut, ia membangun reputasi sebagai petarung lengkap yang mampu menggabungkan striking keras dengan permainan grappling dan submission.

Setelah menguasai KSW, kesempatan terbesar datang pada 2014 ketika Błachowicz menandatangani kontrak dengan UFC. Debutnya berlangsung pada 4 Oktober 2014 melawan Ilir Latifi. Ia langsung memperlihatkan kualitas striking-nya dengan menghentikan Latifi melalui kombinasi tendangan ke tubuh dan pukulan pada ronde pertama. Namun, perjalanan awalnya di UFC tidak sepenuhnya mulus. Ia mengalami kekalahan beruntun dari Jimi Manuwa dan Corey Anderson, kemudian kembali kalah dari Alexander Gustafsson pada 2016. Setelah kemenangan atas Igor Pokrajac, Błachowicz kembali kalah dari Patrick Cummins pada 2017. Rangkaian hasil tersebut membuat kariernya di UFC sempat terlihat tidak stabil.

Justru pada fase tersebut terjadi transformasi penting. Błachowicz mulai memperlihatkan perkembangan yang lebih matang secara teknis dan taktis. Ia mengalahkan Devin Clark melalui submission, kemudian menang atas Jared Cannonier dan Jimi Manuwa. Pada September 2018, ia menaklukkan Nikita Krylov dengan arm-triangle choke. Setelah sempat dihentikan Thiago Santos pada 2019, Błachowicz kembali bangkit dengan kemenangan atas Luke Rockhold, Ronaldo “Jacaré” Souza, dan Corey Anderson. KO atas Anderson pada Februari 2020 menjadi salah satu momen paling penting dalam perjalanan menuju perebutan gelar.

Puncaknya datang di UFC 253 pada September 2020. Dalam pertarungan untuk gelar light heavyweight yang kosong, Błachowicz menghadapi Dominick Reyes dan menghentikannya melalui pukulan pada ronde kedua. Ia akhirnya menjadi juara UFC kelas light heavyweight, sekaligus salah satu dari hanya dua petarung Polandia yang pernah menjadi juara UFC. Pertahanan gelar pertamanya bahkan datang menghadapi Israel Adesanya, juara kelas middleweight yang naik divisi. Dalam lima ronde yang berlangsung disiplin, Błachowicz memenangkan keputusan mutlak dan mempertahankan sabuknya.

Namun, masa pemerintahannya tidak panjang. Pada Oktober 2021, Błachowicz kehilangan gelar setelah dikalahkan Glover Teixeira melalui rear-naked choke. Ia kemudian kembali dengan kemenangan atas Aleksandar Rakić, tetapi setelah itu menghadapi periode yang penuh kontroversi dan hasil ketat. Pertarungannya melawan Magomed Ankalaev pada UFC 282 berakhir imbang setelah lima ronde dalam perebutan gelar kosong. Pada 2023 ia kalah tipis melalui split decision dari Alex Pereira, kemudian kembali mengalami kekalahan dari Carlos Ulberg pada 2025. Pada Desember 2025, ia bermain imbang melawan Bogdan Guskov. Perkembangan terbaru terjadi pada Agustus 2026, ketika Błachowicz dihentikan Navajo Stirling melalui TKO pada ronde pertama. Berdasarkan catatan UFC dan Sherdog, rekor profesionalnya kini 29 kemenangan, 12 kekalahan, dan 2 hasil imbang (29-12-2).

Błachowicz bertanding di kelas light heavyweight (205 pound), dengan tinggi sekitar 188 cm dan reach 198 cm. Senjata utamanya bukan sekadar kekuatan, melainkan kemampuan menggabungkan berbagai aspek MMA. Ia mempunyai pukulan lurus yang kuat, terutama straight left, tendangan kaki dan tubuh yang efektif, serta kemampuan clinch dan kontrol atas yang solid. Di lantai, ia memiliki kemampuan submission yang berbahaya, terutama rear-naked choke, armbar, dan arm-triangle choke. Analisis teknis Sherdog juga mencatat bahwa salah satu kekuatan terbesar Błachowicz adalah kecerdasannya dalam menerapkan game plan dan kemampuannya menyesuaikan pendekatan ketika menghadapi striker maupun grappler.

Filosofi bertarung Błachowicz pada akhirnya tercermin dari perjalanan kariernya sendiri: kesabaran, adaptasi, dan ketahanan. Ia bukan petarung yang selalu menang sejak awal, tetapi justru berkembang ketika kariernya sudah memasuki usia matang. Dalam latihan, ia terbiasa berlatih bersama tim pada pagi hari dan menjalani sesi individual bersama pelatih pada malam hari. Kombinasi disiplin tersebut membantunya mengembangkan kemampuan yang lebih komplet. Dari petarung KSW, melewati masa sulit di UFC, hingga akhirnya merebut sabuk dunia pada usia 37 tahun, perjalanan Błachowicz menjadi gambaran bahwa karier seorang petarung tidak selalu bergerak lurus. “Legendary Polish Power” dibangun bukan hanya dari pukulan keras, tetapi dari kemampuan untuk terus memperbaiki diri ketika kariernya berada di titik paling sulit.

(PR/timKB)

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...