Jakarta – Ada fase dalam hidup Navajo Stirling ketika bela diri belum menjadi tujuan. Petarung asal Upper Hutt, Selandia Baru, ini justru menggambarkan dirinya pada usia 19 tahun sebagai seseorang yang “tidak punya arah” dalam hidup. Dari kondisi tersebut, ia mulai berlatih bela diri dan perlahan menemukan sesuatu yang kemudian mengubah jalan hidupnya. Sebelum menjadi petarung UFC, Stirling bahkan bekerja sebagai picker packer di gudang, mengangkat karton dan membungkus pesanan. Ia kemudian membangun dirinya melalui kickboxing dan Muay Thai, hingga bergabung dengan City Kickboxing di Auckland, salah satu pusat latihan MMA paling dikenal di Selandia Baru.
Perjalanan Stirling menuju level profesional berlangsung relatif cepat, tetapi dibangun melalui pengalaman di berbagai disiplin. Ia meraih dua gelar turnamen King in the Ring, sabuk dunia WKBF World Kickboxing, serta dua gelar MMA di level regional. Ia juga memiliki latar belakang Muay Thai amatir dan sabuk biru Brazilian Jiu-Jitsu. Ketika pandemi COVID-19 menghambat rencananya untuk mengembangkan karier ke luar negeri, Stirling memilih mencari jalan lain. Pada 2021, ia bergabung lebih serius dengan City Kickboxing di bawah Eugene Bareman. Di sana, ia berlatih bersama nama-nama besar seperti Israel Adesanya, Dan Hooker, Carlos Ulberg dan Robert Whittaker. Lingkungan tersebut memberinya kesempatan untuk menguji kemampuannya setiap hari melawan petarung dengan pengalaman level dunia.
Karier MMA profesional Stirling dimulai pada 2022. Ia mencatat kemenangan atas James Craughwell melalui keputusan mutlak pada debutnya, kemudian mulai menunjukkan kemampuan menyelesaikan lawan. Kelvin Fitial dihentikannya melalui TKO pada ronde pertama, disusul Stuart Dare yang dikalahkan lewat kombinasi lutut dan pukulan. Pada Juni 2024, Stirling menghadapi Sam Kei, yang kemudian ia sebut sebagai lawan tersulitnya karena daya tahan dan pengalamannya. Ia tetap menang melalui TKO ronde ketiga. Rangkaian tersebut membawa Stirling ke Dana White’s Contender Series pada September 2024. Menghadapi Phillip Latu, ia mendaratkan left hook keras pada ronde kedua dan mendapatkan kemenangan KO sekaligus kontrak UFC.
Debutnya di UFC berlangsung pada 14 Desember 2024 melawan Tuco Tokkos di Tampa. Alih-alih mencari penyelesaian cepat, Stirling harus menjalani tiga ronde penuh dan memenangkan keputusan mutlak. Hasil serupa terjadi ketika ia menghadapi Ivan Erslan di UFC 315 pada Mei 2025. Dua kemenangan tersebut memberikan pengalaman penting karena ia mulai terbiasa dengan tempo pertarungan UFC dan tekanan bertanding selama 15 menit. Pada September 2025, ia kembali memenangkan keputusan mutlak atas Rodolfo Bellato. Bagi Stirling, tiga pertarungan tersebut menjadi bagian dari proses membangun pengalaman, bukan sekadar mengejar kemenangan spektakuler. Ia sendiri mengatakan bahwa mengambil jalur pengembangan sebagai prospek membuatnya bisa tumbuh secara bertahap sebelum menghadapi lawan dengan tingkat pengalaman lebih tinggi.
Perubahan besar mulai terlihat pada 2026. Stirling mencatat kemenangan TKO atas Bruno Lopes pada ronde kedua di UFC Seattle, kemudian menghadapi veteran Ion Cutelaba pada Juni. Pertarungan melawan Cutelaba menjadi ujian penting karena untuk pertama kalinya ia menghadapi nama yang jauh lebih berpengalaman di level UFC. Stirling kembali menang melalui TKO ronde kedua. Puncaknya datang pada 1 Agustus 2026, ketika ia menghadapi mantan juara UFC Jan Błachowicz. Dalam pertarungan tersebut, Stirling menghentikan Błachowicz melalui kombinasi pukulan dan siku pada ronde pertama, tepat pada 2 menit 56 detik. Kemenangan itu membuatnya tetap tak terkalahkan dan membawa rekor profesionalnya menjadi 11-0. Dari 11 kemenangan tersebut, tujuh diraih melalui KO/TKO dan empat melalui keputusan.
Stirling bertarung di kelas light heavyweight (205 pound). Dengan tinggi sekitar 193 cm dan jangkauan 79 inci, ia mempunyai dimensi fisik yang mendukung permainan striking. UFC mencatat gaya utamanya sebagai kickboxing, sementara fondasi Muay Thai membuatnya nyaman menggunakan pukulan, tendangan, lutut, serta siku. Statistik UFC menunjukkan mayoritas serangan signifikannya datang ketika berdiri, tetapi Stirling tidak menganggap dirinya sekadar striker. Ia mengatakan bahwa dirinya menikmati grappling dan terus mengembangkan kemampuan takedown defense, wrestling back serta pengelolaan jarak. Baginya, kemampuan mempertahankan jarak sambil melakukan serangan balik merupakan bagian penting dari permainannya.
Mentalitas Stirling juga terbentuk dari perjalanan yang tidak selalu langsung menghasilkan sorotan. Ia menyebut dirinya sebagai petarung yang disiplin dan berusaha tetap mengikuti game plan. Namun, ketika keadaan memaksanya, ia merasa mampu menciptakan “chaos” di dalam pertarungan. Di City Kickboxing, ia juga menyerap pengalaman dari para senior. Dari Adesanya ia mendapatkan gambaran tentang kehidupan seorang juara, sementara dari Hooker ia belajar tentang naik-turunnya karier profesional. Stirling mengatakan bahwa berada bersama petarung-petarung tersebut membuat standar latihannya terus meningkat.
Di luar sabuk dan kemenangan, Stirling memiliki motivasi yang lebih personal: ingin menjadi bukti bagi orang-orang dari tempat asalnya bahwa keadaan hidup tidak harus menentukan masa depan seseorang. Dari pekerja gudang, kickboxer regional, hingga petarung UFC yang belum terkalahkan, perjalanannya menunjukkan proses yang bertahap. Kini, dengan rekor 11-0, tujuh kemenangan KO/TKO, serta pengalaman menghadapi mantan juara dunia, Navajo Stirling memasuki fase baru kariernya—bukan lagi sekadar prospek dari City Kickboxing, melainkan petarung yang mulai membangun namanya sendiri di divisi light heavyweight UFC.
(PR/timKB)
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda