Ketika Cheerleading Pertama Kali Menggema Di Lapangan

Eva Amelia 02/11/2025 3 min read
Ketika Cheerleading Pertama Kali Menggema Di Lapangan

Jakarta – Pada tanggal bersejarah 2 November 1898, di jantung Midwest Amerika Serikat, sebuah fenomena budaya yang kini merajai arena olahraga di seluruh dunia secara resmi dilahirkan. Di lapangan American Football yang menjadi saksi pertarungan sengit antara University of Minnesota Golden Gophers melawan tim kuat Princeton Tigers, lahir sebuah peran baru yang mengubah interaksi antara penonton dan atlet: Pemandu Sorak (Cheerleading). Momen ini diinisiasi oleh tindakan berani seorang mahasiswa bernama Johnny Campbell.

Kondisi Sosial dan Kebutuhan akan Semangat yang Terorganisir

Pada akhir abad ke-19, olahraga antar-universitas, terutama American Football, telah menjadi tontonan utama yang menarik perhatian publik yang besar. Namun, dukungan penonton seringkali bersifat individual dan tidak terkoordinasi. Penonton yang bersemangat berteriak, menggerutu, atau bersorak secara acak, yang meskipun penuh gairah, gagal menciptakan gelombang dukungan yang efektif dan berdampak psikologis pada tim di lapangan.

Beberapa sejarawan mencatat bahwa ide tentang “teriakan terorganisir” sebenarnya sudah dibawa ke Amerika oleh alumnus Princeton, Thomas Peebles, pada tahun 1884, yang menyarankan agar sekelompok orang ditunjuk untuk memimpin sorak-sorai di Minnesota. Meskipun gagasan itu ada, implementasinya belum pernah diformalkan atau diakui secara luas.

Pada pertandingan melawan Princeton, tim Minnesota sedang tertinggal dalam skor dan moral tim tampak menurun. Kegelisahan dan frustrasi para penonton terasa di udara. Ini adalah konteks yang melatarbelakangi intervensi sejarah yang dilakukan oleh Johnny Campbell.

Intervensi Sejarah Johnny Campbell

Johnny Campbell, seorang mahasiswa kedokteran di University of Minnesota, merasa bahwa timnya membutuhkan lebih dari sekadar teriakan acak. Mereka membutuhkan unit suara yang tunggal, terpusat, dan berirama. Pada 2 November 1898, Campbell melangkah maju ke depan kerumunan yang ramai. Ia tidak hanya berteriak; ia memimpin.

Campbell secara lantang dan penuh semangat membimbing massa untuk melantunkan sorakan yang ia ciptakan:

“Rah, Rah, Rah! Ski-U-Mah! Hoo-Rah! Hoo-Rah! Varsity! Varsity! Minn-E-So-Tah!”

Sorakan ini, yang kini menjadi bagian dari fight song University of Minnesota, adalah katalisatornya. Untuk pertama kalinya, ribuan suara penonton diinstruksikan untuk bertindak sebagai satu kesatuan. Ini adalah kelahiran resmi cheerleading. Campbell menjadi “pemandu sorak” pertama yang secara historis didokumentasikan. Tindakannya segera ditiru. Pihak universitas dengan cepat mengakui nilai dari dukungan yang terorganisir ini dan membentuk regu khusus yang disebut “Yell Leaders” (Pemimpin Teriakan), dengan Campbell sebagai anggota perintis.

Eksklusivitas Pria dan Pergeseran Gender (1898–1940-an)

Sangat kontras dengan gambaran modern tentang pemandu sorak, peran ini selama sekitar 25 tahun pertama didominasi dan bahkan secara eksklusif diisi oleh pria. Posisi pemandu sorak pada masa itu dianggap sebagai peran kepemimpinan yang terhormat, layaknya kapten tim atau presiden organisasi mahasiswa. Pemandu sorak laki-laki sering kali memakai jas dan dasi, menunjukkan keseriusan dan otoritas mereka dalam memimpin massa.

Pergeseran gender dalam cheerleading terjadi secara bertahap, didorong oleh peristiwa sosial berskala besar.

    1. Perang Dunia I (1914-1918): Banyak pria universitas mendaftar untuk berperang, meninggalkan kekosongan dalam regu Yell Leaders. Untuk mempertahankan tradisi dukungan, universitas mulai mengizinkan wanita untuk mengambil alih peran tersebut.
    2. Perang Dunia II (1939-1945): Tren ini dipercepat. Ketika lebih banyak pria lagi berangkat ke luar negeri, cheerleading di banyak universitas dan sekolah menengah didominasi oleh wanita.
    3. Keterlibatan Fisik: Seiring waktu, elemen akrobatik dan tarian mulai berkembang, mengubah cheerleading dari sekadar teriakan menjadi aktivitas yang lebih fisik dan koreografis, menarik lebih banyak partisipasi wanita.

Pada pertengahan abad ke-20, peran pemandu sorak wanita menjadi begitu ikonik, sehingga citra pria yang memimpin sorak-sorai nyaris hilang, meskipun pria tetap menjadi bagian penting dari cheerleading kompetitif modern, terutama karena tuntutan akrobatik.

Evolusi Menjadi Disiplin Modern

Sejak tahun 1898, cheerleading terus berkembang. Tokoh seperti Lawrence Herkimer memainkan peran penting. Pada tahun 1948, ia mendirikan National Cheerleaders Association (NCA), yang memulai kamp dan lokakarya untuk melatih dan menstandardisasi gerakan. Hal ini mengubah cheerleading dari aktivitas ekstrakurikuler informal menjadi disiplin yang terstruktur.

Hari ini, cheerleading diakui sebagai olahraga yang menuntut atletis tingkat tinggi. Pemandu sorak modern harus menguasai stunts yang rumit (seperti membangun piramida), tumbling (gimnastik), tarian, dan lompatan, sambil tetap mempertahankan tugas tradisionalnya dalam memimpin sorak-sorai di pinggir lapangan. Bahkan ada perdebatan global untuk mengakui cheerleading kompetitif sebagai olahraga Olimpiade.

Warisan dari tindakan Johnny Campbell pada 2 November 1898 adalah abadi. Itu adalah awal dari sebuah budaya dukungan, sebuah profesi, dan sebuah olahraga yang menyatukan jutaan orang di bawah bendera semangat dan gairah, semua berkat seorang mahasiswa yang memutuskan bahwa teriakan yang terorganisir jauh lebih kuat daripada teriakan yang kacau.

(EA/timKB).

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Berita Lainnya

Loading next article...