PayakSurin Or AudUdon: Petarung Southpaw Di Lumpinee

Piter Rudai 12/01/2026 4 min read
PayakSurin Or AudUdon: Petarung Southpaw Di Lumpinee

Jakarta – Di Lumpinee Stadium, Bangkok, semuanya terasa lebih dekat: sorak penonton menekan dari segala arah, lampu memantul di tali ring, dan setiap tebasan tendangan seperti punya gema sendiri. Di panggung inilah ONE Friday Fights melahirkan banyak “nama baru” — petarung yang datang tanpa banyak kata-kata, lalu pulang dengan reputasi. Salah satunya adalah PayakSurin, remaja Thailand kelahiran 20 April 2005 yang tumbuh cepat di bawah sorotan seri Jumat malam, terkenal dengan tangan kiri yang tajam, tempo agresif, dan kebiasaan menutup laga sebelum bel akhir.

PayakSurin bukan tipe petarung yang menunggu momen. Ia lebih mirip gelombang: mendesak, menggulung, kadang berantakan, tapi selalu membawa ancaman. Rekornya di ONE Championship (seri Friday Fights) menunjukkan kisah itu dengan jelas: tiga kemenangan dari empat penampilan, dua di antaranya berakhir TKO, satu lewat keputusan juri mutlak, dan satu kekalahan tipis via majority decision.

Nama yang berubah-ubah, gaya yang konsisten

Di Thailand, nama tanding sering menempel pada gym, sponsor, atau kamp latihan. Itulah sebabnya Anda bisa menemukan PayakSurin dengan beberapa “ekor nama”: PayakSurin Or AudUdon, Payaksurin JP Power, atau PayakSurin Sit JP — tetapi orangnya sama: tinggi 168 cm, tampil di batas ringan (sekitar 118–124 lbs/catchweight), masih 20 tahun, dan terdaftar bersama tim JP Mansion Muay Thai di laman ONE.

Dari sisi gaya, PayakSurin kerap dicatat sebagai southpaw — kuda-kuda kidal — dan itu terasa dalam cara ia menekan: tangan kiri (straight/cross) dan left hook menjadi “tombol cepat” untuk mengubah ritme.

Dari duel tiga ronde sampai TKO: awal cerita di ONE Friday Fights 70

Nama PayakSurin mulai ramai dibicarakan saat ia tampil di ONE Friday Fights 70 (Juli 2024). Lawannya, Tahaneak Nayokatasala, bukan petarung yang mau mundur. Pertarungan berjalan keras — banyak tendangan dan adu tekanan — tapi PayakSurin menemukan pola: setiap kali Tahaneak mencoba masuk, ia membalas dengan pukulan kiri yang tajam, menjaga jarak, lalu memetik poin dengan pukulan terukur.

Di ronde-ronde akhir, ceritanya semakin jelas: PayakSurin “memecahkan kode” dengan menjaga jarak, mengunci timing, dan melepas left hook yang jadi ciri khas. Hasilnya unanimous decision dan sebuah pernyataan: ia bukan sekadar remaja yang numpang lewat.

ONE Friday Fights 87: jatuh, bangkit, lalu mematikan

Jika Friday Fights 70 adalah pengenalan, maka ONE Friday Fights 87 (November 2024) adalah bab yang membuat orang mulai mengingatnya lebih lama. PayakSurin menghadapi Pettapee Rongrienkelasurat dalam duel catchweight yang berubah menjadi kebakaran kecil: cepat, keras, dan penuh pergantian momentum.

PayakSurin memulai kencang, melepaskan serangan “full speed”, tapi ia sempat terkena knockdown oleh right hand di ronde kedua. Pada titik itu, banyak petarung muda kehilangan arah. PayakSurin tidak. Ia membalas dengan kombinasi siku–straight untuk knockdown balasan menjelang akhir ronde kedua, lalu masuk ronde ketiga dengan cara berpikir petarung berpengalaman: menaikkan tekanan, memotong ring, dan menembak kiri-kanan untuk memaksa Pettapee mundur.

Dua knockdown di ronde ketiga membuka jalan untuk penyelesaian: TKO pada menit 1:24 ronde ketiga. Bukan menang “rapi”, tapi menang yang terasa seperti tekad.

Di sinilah salah satu “aspek menarik” PayakSurin terlihat: ia bukan cuma agresif; ia punya kemampuan mengatur ulang mental setelah terkena momen buruk. Banyak striker agresif hidup-mati di momentum. PayakSurin terlihat belajar mengemudi di tengah badai.

ONE Friday Fights 112: “petir” ronde dua yang menguatkan reputasi finisher

Tahun 2025, PayakSurin kembali dengan sesuatu yang lebih tajam: penyelesaian yang lebih cepat. Di ONE Friday Fights 112 (Juni 2025), ia menghadapi Face Erawan dan menang via TKO ronde dua pada detik 0:43. Di atas kertas, itu angka. Di ring, itu adalah tanda: PayakSurin mulai nyaman menjadi eksekutor — petarung yang bisa mempercepat tempo, menutup ruang, lalu menyelesaikan dengan rentetan serangan.

Kemenangan ini juga mempertegas pola: ketika PayakSurin menemukan celah, ia tidak menabung serangan. Ia “menghabiskan” momen itu. Itulah DNA finisher.

ONE Friday Fights 121: kekalahan tipis yang tetap bernilai

Setiap petarung muda yang melesat cepat biasanya bertemu satu malam yang memaksa mereka berhenti sejenak. Untuk PayakSurin, momen itu datang di ONE Friday Fights 121 (Agustus 2025) saat ia berhadapan dengan Rungruanglek TN Muaythai. Hasilnya: kalah via majority decision.

Kekalahan semacam ini sering jadi cermin yang jujur — bukan karena dihancurkan, melainkan karena pertarungan berjalan ketat dan detail kecil menentukan. Untuk striker agresif seperti PayakSurin, duel rapat sering berarti satu hal: disiplin jarak, pertahanan saat masuk-keluar, dan kemampuan “menang tipis” ketika lawan tidak runtuh.

Justru di sinilah nilai kekalahan tipis: ia memberi peta perbaikan yang spesifik, tanpa mematikan kepercayaan diri.

Southpaw, pukulan kiri, dan naluri mengejar akhir

PayakSurin dikenal sebagai petarung yang:

    • Southpaw dengan tangan kiri aktif (straight dan hook) sebagai senjata utama.
    • Menekan lewat tempo: ia nyaman bertukar pukulan, bahkan saat situasi panas (terlihat jelas di duel kontra Pettapee).
    • Punya kebiasaan menutup ronde dengan serangan yang meningkat, seolah ia ingin memastikan juri (atau wasit) tidak ragu.

Yang menarik, ONE sendiri dalam report Friday Fights 70 menyebutnya sebagai “powerhouse” dari kubu Sitjekan—bahasa yang biasanya dipakai untuk petarung dengan tenaga dan agresi yang terus mengalir.

Mengapa PayakSurin mudah “menjual cerita” di era Friday Fights

ONE Friday Fights bukan hanya soal menang-kalah; ini panggung untuk membangun identitas. Dan identitas PayakSurin terangkai dari tiga hal yang mudah dipahami penonton:

    1. Usia muda, tapi mau bertukar keras
      Ia belum 21, tapi bertarung seperti orang yang tak mau buang waktu.
    2. Drama comeback yang nyata
      Sempat jatuh oleh pukulan lawan, lalu membalik keadaan dan menang TKO (vs Pettapee). Ini jenis narasi yang membuat highlight terasa “hidup”.
    3. Finisher instinct
      Dua TKO dalam empat penampilan di ONE Friday Fights adalah sinyal kuat—terutama untuk promosi yang mencari petarung berpotensi kontrak besar.

Dari petarung agresif menjadi petarung lengkap

Jika PayakSurin ingin naik dari “bintang Jumat malam” menjadi nama yang benar-benar mapan di roster global, jalurnya biasanya jelas:

    • mempertajam defense saat menyerang (agar agresi tidak jadi pintu masuk counter),
    • memperkaya variasi serangan (kaki–siku–clinch) agar lawan tidak bisa membaca pola tangan kiri,
    • dan belajar mengontrol laga ketika lawan “tidak mau selesai”.

Namun fondasinya sudah menarik: umur muda, pengalaman panggung besar di Lumpinee, dan gaya yang penonton suka—keras, ofensif, serta berani mengambil risiko.

Pada akhirnya, PayakSurin adalah jenis petarung yang membuat kita menoleh bukan karena ia selalu sempurna, melainkan karena ia selalu datang membawa sesuatu: tempo, keberanian, dan ancaman bahwa pertandingan bisa berakhir kapan saja.

(PR/timKB).

Sumber foto: onefc.com

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...