Jakarta – Bagi generasi yang tumbuh besar menonton sepak bola era 90-an, nama Tomáš Skuhravý bukanlah sekadar nama pemain sepak bola biasa. Ia adalah personifikasi dari kekuatan fisik, dominasi udara, dan karisma yang meluap-luap. Di masa ketika Serie A Italia dianggap sebagai “Lega dei Campioni” atau liga terbaik di dunia, Skuhravý muncul sebagai raksasa asal Cekoslowakia yang mengguncang semenanjung Italia dengan sundulan maut dan salto ikoniknya.
Awal Mula Sang Raksasa dari Praha
Lahir pada 7 September 1965 di Přerov nad Labem, Skuhravý memulai karier profesionalnya bersama Sparta Praha. Di sana, ia mengasah insting membunuhnya di depan gawang. Dengan tinggi badan mencapai 193 cm, ia adalah anomali di lapangan hijau; meskipun memiliki postur bak menara, ia punya kelincahan yang mengejutkan.
Bersama Sparta, ia memenangkan lima gelar liga dan tiga piala domestik. Namun, panggung dunia baru benar-benar mengenalnya pada musim panas 1990 di Italia. Piala Dunia 1990 menjadi titik balik yang mengubah hidupnya selamanya.
Malam Ajaib di Italia ’90
Piala Dunia 1990 mungkin diingat karena air mata Paul Gascoigne atau tarian Roger Milla, tetapi bagi pendukung Cekoslowakia, turnamen itu milik Tomáš Skuhravý. Ia mencetak lima gol dalam turnamen tersebut, menjadikannya pencetak gol terbanyak kedua di bawah Salvatore “Toto” Schillaci.
Momen paling ikonik terjadi di babak 16 besar saat melawan Kosta Rika. Skuhravý mencetak hat-trick yang unik: semua golnya dicetak melalui sundulan kepala. Itu adalah demonstrasi kekuatan udara yang jarang terlihat sebelumnya. Keberhasilannya membawa Cekoslowakia ke perempat final membuat klub-klub besar Eropa berebut tanda tangannya. Namun, hatinya tertambat pada satu tempat: Genoa.
Era Keemasan di Genoa: Pasangan Sehati dengan Pato Aguilera
Kepindahan Skuhravý ke Genoa CFC adalah awal dari kisah cinta yang abadi antara sang pemain dan publik Grifone. Di bawah asuhan pelatih Osvaldo Bagnoli, Skuhravý menemukan pasangan duet yang sempurna dalam diri Carlos “Pato” Aguilera, penyerang mungil asal Uruguay.
Kombinasi mereka sering disebut sebagai “Daud dan Goliath”. Skuhravý yang jangkung akan memenangkan duel udara dan memantulkan bola, sementara Aguilera yang lincah akan menyelinap di antara bek lawan. Pada musim 1990/1991, duet ini membawa Genoa finis di urutan keempat Serie A—pencapaian tertinggi klub dalam sejarah modern.
Skuhravý bukan sekadar striker; ia adalah simbol kebangkitan Genoa. Setiap kali ia mencetak gol, terutama gol-gol krusial di kompetisi Eropa seperti saat menyingkirkan Liverpool di Anfield pada Piala UEFA 1992, kota Genoa seakan meledak dalam kegembiraan. Ia menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang masa Genoa di Serie A dengan 57 gol, sebuah rekor yang bertahan sangat lama.
Karakter di Luar Lapangan: Rambut Mullet dan Gaya Hidup
Apa yang membuat Skuhravý begitu dicintai adalah kepribadiannya yang flamboyan. Ia dikenal dengan rambut mullet panjang yang ikonik, gaya yang sangat modis pada masanya. Ia juga tidak pernah menyembunyikan kecintaannya pada kehidupan malam, mobil mewah, dan bir.
Ada banyak legenda urban tentang Skuhravý di Genoa. Mulai dari ceritanya yang tetap bugar meski sering terlihat di bar lokal, hingga kecintaannya memacu mobil sport di jalanan sempit Liguria. Namun, di lapangan, ia selalu memberikan 100 persen. Dedikasi inilah yang membuatnya dimaafkan atas segala keeksentrikannya di luar lapangan. Ia adalah sosok “anti-hero” yang jujur dan apa adanya.
Warisan dan Masa Pensiun
Cedera lutut mulai menghambat kariernya di pertengahan 90-an. Setelah meninggalkan Genoa pada 1995, ia sempat bermain singkat di Sporting CP dan Viktoria Žižkov sebelum akhirnya gantung sepatu. Meski kariernya meredup perlahan, warisannya tetap kokoh.
Setelah pensiun, Skuhravý tidak bisa jauh-jauh dari Italia. Ia memutuskan untuk menetap di daerah Liguria, dekat dengan kota Genoa yang sangat ia cintai. Ia sering terlihat memberikan analisis sepak bola di televisi lokal atau sekadar menyapa penggemar di pinggir pantai. Baginya, Genoa bukan sekadar klub, melainkan rumah.
Mengenang Sang Raja Udara
Tomáš Skuhravý adalah pengingat akan era romantis sepak bola. Sebuah era di mana pemain tidak hanya dinilai dari statistik di atas kertas, tetapi juga dari koneksi emosional yang mereka bangun dengan suporter. Ia adalah bukti bahwa kekuatan fisik yang dipadukan dengan teknik dan keberanian bisa meruntuhkan pertahanan terkuat sekalipun.
Bagi mereka yang pernah melihatnya melompat tinggi di udara, menahan napas sejenak, lalu menyundul bola dengan kekuatan yang hampir mustahil ke pojok gawang, Skuhravý akan selalu menjadi “Il Gigante Buono” atau Sang Raksasa Baik Hati. Namanya akan selalu bergema di tribun Stadion Luigi Ferraris, sebagai pengingat akan hari-hari ketika seorang pria dari Praha membuat seluruh Italia terpana.
(EA/timKB).
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda