Jakarta – Ada petarung yang membuat penonton terpukau karena ledakan—kombinasi cepat, KO kilat, sorak-sorai pecah sebelum ronde pertama selesai. Tapi ada juga tipe lain yang lebih “sunyi” namun menyiksa: ia menang bukan karena satu momen dramatis, melainkan karena menguasai jarak, mengatur ritme, dan memaksa lawan bekerja dua kali lipat hanya untuk bisa menyentuhnya. Di ranah Muay Thai modern ONE, sosok seperti itulah yang sering dicari—petarung yang bisa membungkam agresi lawan dengan disiplin teknik.
Itulah citra yang melekat pada Sornsueknoi FA Group—petarung Thailand kelahiran 6 Desember 1994 yang dikenal membawa Muay Thai klasik ke panggung global, dengan stance southpaw dan pendekatan yang rapi: tendangan untuk mengunci ruang, pukulan untuk memotong langkah, serta clinch yang membuat lawan seolah terjebak dalam perang kecil yang tak pernah mereka minta. Ia bernaung di FA Group, dan tampil di bawah bendera ONE Championship.
Di atas kertas, rekornya mungkin terlihat sederhana—5 kemenangan dan 2 kekalahan. Namun di balik angka itu ada pola yang jelas: Sornsueknoi adalah tipe petarung yang mengutamakan kontrol jarak dan akurasi serangan, tetapi tetap punya “gigi” untuk menyelesaikan laga ketika lawan mulai kehilangan jawaban.
Data yang Menggambarkan Karakter Petarungnya
ONE mencatat Sornsueknoi dengan tinggi sekitar 165 cm, berasal dari Thailand, dan berada di bawah tim FA Group. Di laman atlet ONE juga tercantum weight limit 127.6 lbs (57.9 kg)—angka yang menjelaskan mengapa ia di ONE kerap tampil pada pertarungan catchweight di kisaran 128–132 lbs, alih-alih berada pada satu kelas yang “kaku”.
Yang menarik, catatan hasilnya di ONE memperlihatkan dua wajah:
Ia mampu menang via KO/TKO saat ritme pertarungan terbuka,
namun juga bisa menang via keputusan juri ketika duel berubah menjadi perang taktik dan detail.
Dengan kata lain, Sornsueknoi bukan petarung yang bergantung pada satu pintu. Ia bisa masuk lewat pintu “teknis”, tapi tetap membawa kunci cadangan bernama finishing.
Southpaw Klasik yang Menyusun Kemenangan Seperti Catur
Di Muay Thai, southpaw sering identik dengan kekacauan: sudut-sudut serangan yang tidak biasa, tendangan kiri yang datang dari jalur yang sulit dibaca, dan ritme yang membuat lawan ragu mengambil langkah. Namun “kekacauan” Sornsueknoi terasa lebih halus—ia menekan bukan dengan liar, melainkan dengan rapi.
Bayangkan seorang petarung yang:
-
- menaruh tendangan kiri seperti patok di ring—sekali mendarat, lawan mulai berhitung ulang kapan harus masuk,
- menyisipkan pukulan untuk memotong jalur, bukan sekadar mengejar KO,
- lalu ketika jarak rapat, clinch berubah menjadi pagar—tempat ia bisa mengunci posisi, mengatur napas, dan mencuri poin sedikit demi sedikit.
Itulah Muay Thai klasik: menang lewat kontrol, bukan lewat kegaduhan. Dan saat kontrol itu sudah terbentuk, barulah finishing datang sebagai konsekuensi.
Satu Tendangan yang Mengubah Segalanya
Nama Sornsueknoi mulai benar-benar “terlihat” saat tampil di rangkaian ONE Friday Fights—panggung yang terkenal keras karena atmosfernya seperti campuran: tradisi Muay Thai Thailand dan tuntutan hiburan global.
Pada ONE Friday Fights 31 (1 September 2023), ia menghadapi Udomlek Nupranburi. Yang terjadi kemudian bukan drama panjang—melainkan satu pernyataan singkat: Sornsueknoi menang KO ronde 1 pada 2:09. Laporan ONE menyebutkan kemenangan itu terjadi lewat KO, dan catatan lain merinci bahwa penyelesaiannya datang dari serangan kaki (leg kick).
Di momen seperti ini, publik biasanya baru sadar: “Oh, dia bukan cuma teknisi.”
Karena KO lewat serangan kaki bukan sekadar kekuatan—itu sering lahir dari timing, dari kemampuan membaca posisi kaki lawan, dan dari kebiasaan menaruh serangan di titik yang sama sampai tubuh lawan menyerah.
Saat Akurasi Berubah Menjadi TKO
Setelah “membuka pintu” lewat KO, Sornsueknoi melanjutkan langkahnya pada ONE Friday Fights 42 (24 November 2023) melawan Petkhaowang Sor Jor Lekmuangnon.
Kali ini, ia menang TKO ronde 2 pada 1:16—sebuah kemenangan yang memperlihatkan sisi lain dari dirinya: ketika pertarungan tidak selesai cepat di ronde pertama, ia tidak kehilangan ketenangan. Ia tetap menyusun ritme, memaksa lawan bereaksi, lalu menghentikan laga begitu celahnya muncul.
Dua kemenangan beruntun dengan penyelesaian seperti ini biasanya membangun reputasi yang spesifik: Sornsueknoi adalah petarung yang bisa menuntaskan pekerjaan.
ONE Friday Fights 60: Ujian dari Jepang dan Pelajaran tentang Detail
Namun karier tidak pernah bergerak lurus. Pada ONE Friday Fights 60 (26 April 2024), Sornsueknoi berhadapan dengan petarung Jepang Eisaku Ogasawara dan kalah melalui majority decision.
Kekalahan majority decision biasanya terasa seperti kalah tipis—bukan runtuh, bukan dihancurkan, tetapi kalah pada detail: mungkin jumlah serangan bersih, kontrol ring, atau momen dominan yang terlihat lebih jelas bagi juri.
Bagi petarung dengan gaya kontrol jarak, duel seperti ini sering menjadi pengingat pahit: di level internasional, rapi saja belum tentu cukup. Kadang kamu harus membuat dominasi terlihat tegas, bukan sekadar “lebih efisien”.
ONE Friday Fights 73: Kembali ke Jalur Menang dengan Disiplin
Sornsueknoi merespons ujian itu dengan cara yang sangat sesuai karakternya: bukan dengan berubah menjadi petarung liar, tetapi dengan kembali pada disiplin.
Pada ONE Friday Fights 73 (2 Agustus 2024), ia mengalahkan Jencherng Pumpanmuang melalui unanimous decision.
Kemenangan unanimous decision seperti ini adalah kemenangan “pekerja”: ia harus menjaga jarak, menghindari momen buruk, dan terus mengumpulkan poin dengan serangan yang tepat sasaran. Ini bukan kemenangan yang selalu meledak, tetapi kemenangan yang menunjukkan IQ bertarung.
ONE Friday Fights 88: Menang Tipis, tapi Menang di Panggung yang Paling Kejam
Lalu datang ONE Friday Fights 88 (22 November 2024). Di sini, Sornsueknoi menghadapi Sing Sor Chokmeechai dan menang melalui split decision.
Split decision sering memecah penonton menjadi dua kubu—ada yang merasa pertarungan bisa ke arah sebaliknya. Tapi justru di situlah nilai sebuah kemenangan split di ONE Friday Fights: kamu menang dalam duel yang margin-nya tipis, di panggung yang intensitasnya tinggi, dan kamu keluar tanpa kehilangan identitas.
Kemenangan tipis semacam ini biasanya menambah satu kualitas penting: ketahanan mental. Karena menang besar itu menyenangkan, tapi menang tipis itu membentuk karakter.
ONE Friday Fights 100: Tumbang dari “El Matador” dan Realitas Kompetisi
Pada ONE Friday Fights 100 (14 Maret 2025), Sornsueknoi kembali diuji dan kali ini kalah lewat unanimous decision dari petarung Skotlandia Stephen Irvine.
Catatan Tapology juga menempatkan pertarungan itu di Lumpinee Boxing Stadium, arena yang sudah seperti altar bagi petarung Muay Thai—tempat menang dan kalah terasa lebih “berat” karena sejarahnya.
Kekalahan UD ini, dalam konteks perjalanan kariernya, terlihat seperti penanda bahwa Sornsueknoi berada di level di mana setiap duel adalah adu detail. Ketika ia menang, ia menang karena detail. Ketika ia kalah, ia pun kalah karena detail.
Prestasi dan Hal Menarik yang Membuat Sornsueknoi Layak Diikuti
1. Finisher yang tidak tergantung “brawl”
Dua kemenangan paling mencoloknya di ONE datang lewat penyelesaian: KO ronde 1 dan TKO ronde 2. Namun cara ia sampai ke sana bukan lewat chaos, melainkan lewat kontrol dan akurasi.
2. Terbukti bisa menang lewat keputusan
Kemenangan UD atas Jencherng dan kemenangan SD atas Sing menunjukkan ia bisa bertahan dalam duel ketat dan tetap mengamankan hasil.
3. Terbiasa bertarung di catchweight keras
Di ONE Friday Fights, banyak pertandingan berlangsung di kisaran 128–132 lbs. Sornsueknoi sudah “hidup” di zona itu—melawan lawan Thailand maupun Jepang, dengan gaya dan ritme yang berbeda.
4. Identitas jelas: southpaw teknis, bukan sekadar agresif
Di era ketika banyak petarung mengejar highlight KO, Sornsueknoi justru menonjol karena ia bisa membuat pertarungan terlihat “terkendali”—dan itu kualitas langka di panggung sebesar ONE.
Petarung yang Menang dengan Cara “Membuat Lawan Salah”
Jika ada benang merah dari perjalanan Sornsueknoi FA Group di ONE, itu adalah satu konsep: ia menang dengan membuat lawan mengambil keputusan yang salah.
Masuk terlalu cepat—kamu kena tendangan atau pukulan balasan. Terlalu ragu—kamu tertinggal poin. Memaksa clinch tanpa posisi—kamu terjebak dan kehabisan napas. Dan ketika lawan sudah kehilangan ritme, barulah Sornsueknoi menutup pintu: KO atau TKO.
Dengan rekor 5-2 dan pengalaman menghadapi berbagai tipe lawan di ONE Friday Fights, Sornsueknoi berdiri sebagai contoh bahwa Muay Thai klasik belum mati—ia hanya berevolusi, menemukan panggung baru, dan tetap menang… lewat cara yang cerdas.
(PR/timKB).
Sumber foto: onefc.com
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda