Bebeto: Di Balik Selebrasi Paling Ikonik Dalam Sejarah Sepak Bola

Eva Amelia 12/02/2026 4 min read
Bebeto: Di Balik Selebrasi Paling Ikonik Dalam Sejarah Sepak Bola

Jakarta – Dalam sejarah sepak bola Brasil yang bertabur bintang, nama José Roberto Gama de Oliveira—yang lebih dikenal sebagai Bebeto—memiliki tempat yang sangat istimewa. Ia bukan sekadar penyerang tajam; ia adalah simbol keanggunan, kecerdasan bermain, dan salah satu pemilik momen paling ikonik dalam sejarah Piala Dunia. Dengan postur yang relatif ramping untuk ukuran striker, Bebeto membuktikan bahwa kecerdasan posisi dan teknik murni jauh lebih mematikan daripada sekadar kekuatan fisik.

Awal Mula Sang Bintang

Lahir pada 16 Februari 1964 di Salvador, Brasil, bakat Bebeto mulai terasah di klub lokal Vitória sebelum akhirnya mencuri perhatian raksasa Brasil, Flamengo. Di sinilah ia mulai membangun reputasi sebagai pemain depan yang lincah. Selama enam musim di Flamengo (1983–1989), ia menjadi idola baru Maracana, memenangkan gelar nasional dan membuktikan bahwa dirinya siap untuk panggung yang lebih besar.

Gaya mainnya sangat khas Brasil: sentuhan pertama yang halus, kemampuan membaca ruang yang luar biasa, dan penyelesaian akhir yang tenang. Ia tidak hanya menunggu bola; ia terlibat dalam permainan, menarik bek lawan keluar dari posisinya, dan memberikan ruang bagi rekan setimnya.

Penaklukan Spanyol bersama Deportivo La Coruña

Banyak pemain Brasil yang kesulitan saat pertama kali pindah ke Eropa, namun tidak bagi Bebeto. Pada tahun 1992, ia bergabung dengan Deportivo La Coruña di Spanyol. Kedatangannya mengubah klub yang sebelumnya dianggap medioker menjadi kekuatan yang disegani di La Liga, yang kemudian dikenal dengan julukan “Super Depor”.

Di Spanyol, Bebeto mencapai puncak ketajamannya. Ia memenangkan gelar Pichichi (pencetak gol terbanyak La Liga) pada musim pertamanya dengan 29 gol. Selama empat musim di Deportivo, ia mencetak 86 gol dalam 131 pertandingan liga. Meski Deportivo gagal menjuarai liga secara dramatis pada tahun 1994 karena kegagalan penalti di menit terakhir pada laga penutup, Bebeto tetap dianggap sebagai legenda terbesar yang pernah mengenakan seragam klub tersebut.

Duet Maut “Ro-Be” dan Kejayaan Piala Dunia 1994

Puncak karier Bebeto tentu saja terjadi di Amerika Serikat pada Piala Dunia 1994. Di turnamen ini, dunia menyaksikan salah satu kemitraan penyerang paling serasi sepanjang masa: Romario dan Bebeto.

Hubungan mereka di lapangan sering digambarkan seperti telepati. Romario yang eksentrik dan eksplosif sangat klop dengan Bebeto yang taktis dan tenang. Bersama-sama, mereka mencetak delapan dari 11 gol Brasil di turnamen tersebut. Brasil pun berhasil mengakhiri puasa gelar dunia selama 24 tahun setelah mengalahkan Italia di final melalui adu penalti.

Selebrasi “Timang Bayi” yang Abadi

Namun, momen yang paling diingat dari Bebeto bukanlah gol kemenangan di final, melainkan selebrasinya di babak perempat final melawan Belanda. Setelah mencetak gol kedua Brasil, ia berlari ke pinggir lapangan dan mengayunkan kedua tangannya seolah sedang menimang bayi.

Aksi ini diikuti oleh Romario dan Mazinho. Selebrasi tersebut merupakan bentuk penghormatan bagi putranya, Mattheus, yang lahir hanya beberapa hari sebelum pertandingan. Hingga hari ini, selebrasi tersebut tetap menjadi salah satu pose paling ikonik dalam sejarah olahraga, yang ditiru oleh ribuan pesepakbola di seluruh dunia hingga saat ini.

Konsistensi dan Warisan di Timnas

Bebeto bukan hanya “keajaiban satu turnamen”. Ia mewakili Brasil di tiga Piala Dunia (1990, 1994, dan 1998). Pada Piala Dunia 1998 di Prancis, meski usianya sudah tidak muda lagi, ia tetap menjadi andalan dan membantu Brasil mencapai final sebelum akhirnya kalah dari tuan rumah.

Secara total, ia mengoleksi 75 caps untuk Selecao dan mencetak 39 gol. Selain Piala Dunia, ia juga membawa Brasil menjuarai Copa América 1989 dan Piala Konfederasi 1997. Prestasi ini menempatkannya di jajaran elite penyerang terbaik yang pernah dimiliki negeri Samba, sejajar dengan nama-nama seperti Pele, Zico, dan Ronaldo Nazario.

Kehidupan Setelah Pensiun

Setelah gantung sepatu pada tahun 2002, Bebeto tidak sepenuhnya meninggalkan dunia yang membesarkannya. Ia sempat menjajal dunia kepelatihan, namun kemudian menemukan panggilan baru di dunia politik. Sejak 2010, ia terpilih sebagai anggota legislatif di negara bagian Rio de Janeiro, fokus pada program-program sosial dan olahraga untuk anak-anak muda.

Bebeto juga sering terlihat dalam kegiatan FIFA dan acara amal sepak bola. Putranya, Mattheus Oliveira—bayi yang menjadi inspirasi selebrasi ikoniknya—juga tumbuh menjadi pesepakbola profesional, meneruskan warisan nama besar sang ayah di lapangan hijau.

Bebeto adalah pengingat akan era di mana sepak bola dimainkan dengan kegembiraan dan kecerdasan teknis yang tinggi. Ia adalah pemain yang dicintai bukan hanya karena jumlah golnya, tetapi karena sportivitas dan senyuman yang selalu ia bawa ke lapangan.

Bagi para penggemar sepak bola era 90-an, Bebeto adalah wajah dari kebangkitan kembali kejayaan Brasil. Ia membuktikan bahwa untuk menjadi raksasa di lapangan, seseorang tidak perlu memiliki tubuh yang paling besar, melainkan visi yang paling tajam dan hati yang paling besar. Legenda nomor punggung 7 ini akan selalu dikenang setiap kali ada pemain yang berlari ke pinggir lapangan dan menimang bayi sebagai bentuk kebahagiaan.

(EA/timKB).

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...