Jakarta – Ada petarung muda yang dibesarkan oleh jalur panjang: menang angka, naik kelas pelan-pelan, lalu suatu hari baru terlihat siap. Tapi ada juga petarung yang seperti dilontarkan dari ketapel—baru jadi pro, tiba-tiba sudah pegang sabuk, lalu langsung masuk panggung dunia.
Willie “White Lion” van Rooyen adalah tipe kedua.
Ia lahir di Afrika Selatan pada 2002 (Sherdog mencatat tanggal lahir 7 Oktober 2002) dan dibesarkan di Pretoria. Di usia yang masih muda, ia membawa identitas jelas: fondasi kickboxing yang kuat, gaya bertarung yang agresif, dan naluri menyelesaikan pertarungan yang membuat namanya cepat “membesar” di kancah Afrika Selatan.
Sebelum naik ke ONE Championship, Van Rooyen menjadi juara EFC Flyweight, dan caranya merebut sabuk itu terdengar seperti dongeng untuk petarung muda: KO/TKO hanya dalam 37 detik. Tiga bulan kemudian, ia membuktikan bahwa dirinya bukan sekadar pemukul keras—ia mempertahankan sabuk dengan rear-naked choke.
Dengan rekor 7-0 (tak terkalahkan) sebelum debutnya di ONE, ia tiba di Bangkok untuk debut di ONE Fight Night 37 pada 7 November 2025, menghadapi Avazbek Kholmirzaev. Namun di panggung paling besar, kisah indah selalu menuntut harga: Van Rooyen kalah lewat armbar ronde pertama (3:52).
Bagi sebagian petarung, kekalahan pertama bisa memadamkan api. Tapi bagi petarung dengan julukan “White Lion”, kekalahan sering justru menjadi alasan untuk bertarung lebih buas—dengan arah yang lebih rapi.
Profil singkat
-
- Nama: Willie van Rooyen
- Julukan: White Lion
- Lahir: Afrika Selatan, 2002 (Sherdog: 7 Oktober 2002)
- Kota asal: Pretoria, Afrika Selatan
- Gym: A-Team Stars (pelatih: Nico Mothata tercantum di arsip EFC)
- Divisi: Flyweight MMA (ONE Championship)
- Rekor sebelum debut ONE: 7-0
- Sorotan EFC: Juara Flyweight; KO 37 detik untuk merebut sabuk; defense dengan rear-naked choke
- Debut ONE: Kalah armbar R1 (3:52) vs Avazbek Kholmirzaev — ONE Fight Night 37 (7 Nov 2025, Bangkok)
- Laga berikutnya: vs Jeremy “The Jaguar” Miado — ONE Fight Night 41 (13 Maret 2026, U.S. primetime menurut ONE)
Mimpi yang tumbuh dari gym lokal, bukan dari kemewahan
ONE menggambarkan perjalanan Van Rooyen dimulai dari lingkungan biasa di Pretoria—seorang anak yang tertarik pada combat sports, lalu menekuninya sampai menjadi atlet profesional. Itu penting, karena di Afrika Selatan, jalur menuju panggung global tidak selalu “terbuka lebar”. Banyak petarung harus membangun reputasi dari promosi lokal, lalu menunggu satu momen yang bisa menjadi pintu keluar.
Van Rooyen mendapat momen itu lewat EFC—promosi yang selama bertahun-tahun menjadi jalur paling nyata bagi petarung Afrika Selatan untuk dikenal dunia. Di arsip EFC, ia tercatat berlatih di A-Team Stars dan memiliki latar kickboxing sebagai disiplin utama.
Di titik inilah julukan “White Lion” terasa seperti identitas budaya: hewan yang langka, tapi ketika muncul, semua orang melihat.
Naik cepat karena finishing, bukan karena aman
Van Rooyen memulai karier profesional sejak 2023 (sesuai narasi yang kamu berikan), dan ONE menekankan bahwa ia memasuki organisasi dengan laju yang mengesankan—datang dengan rangkaian kemenangan penyelesaian yang membuatnya sulit diabaikan.
Sherdog merinci distribusi kemenangan pra-ONE: dari 7 kemenangan, ada 4 KO/TKO dan 1 submission (sisanya keputusan). Ini cocok dengan profil petarung muda yang agresif: ia mau menang cepat, tapi tidak selalu memaksakan KO jika jalur lain terbuka.
KO 37 detik yang mengubah status menjadi “prospek dunia”
Dalam pengumuman resmi ONE tentang perekrutan Van Rooyen, ada dua kalimat yang seperti pukulan pembuka:
-
- Ia merebut EFC Flyweight Title dalam 37 detik lewat “piston-like straight right.”
- Tiga bulan setelahnya, ia mempertahankan sabuk dengan rear-naked choke.
Itu bukan sekadar statistik—itu narasi.
-
- KO 37 detik berarti ada timing dan keberanian untuk mengambil risiko sejak bel pertama. Di flyweight, kecepatan tinggi membuat “jendela KO” sering muncul cepat, tapi tak semua petarung cukup presisi untuk menangkapnya.
- RNC untuk mempertahankan sabuk berarti ia bukan striker satu dimensi. Banyak pemukul keras kesulitan ketika lawan memaksa grappling. Van Rooyen menunjukkan dia bisa membalikkan ancaman itu menjadi kemenangan.
Di era MMA modern, petarung yang cepat naik biasanya punya satu “ciri promosi”: highlight yang bisa diputar ulang. KO 37 detik itu jelas highlight yang membuat matchmaker tersenyum.
Kickboxing sebagai fondasi, MMA sebagai ekspansi
ONE menulis bahwa perjalanan Van Rooyen berakar dari kickboxing lokal, dan itu terasa di gaya bertarungnya: agresif, eksplosif, dan percaya diri di striking.
Secara “bahasa ring”, petarung dengan fondasi kickboxing kuat biasanya punya tiga kebiasaan:
-
- Mengambil pusat lebih dulu
Ia ingin membuat lawan bergerak ke belakang, karena saat mundur, timing lawan rusak. - Pukulan lurus sebagai senjata utama
KO 37 detik lewat straight right adalah bukti bahwa ia bukan sekadar swinger. Ia memukul melalui garis tengah—cara paling cepat untuk mematikan pergerakan. - Transisi finishing
RNC pada defense sabuk menunjukkan Van Rooyen tidak panik ketika pertarungan berubah jadi grappling. Ia justru mencari momen untuk mengunci leher saat lawan memberi celah.
- Mengambil pusat lebih dulu
Dengan paket ini, “White Lion” tampak seperti prototipe flyweight modern: cepat, agresif, dan mau menyelesaikan.
Ketika rekor sempurna bertemu realitas panggung dunia
Debut di ONE Fight Night adalah panggung yang berbeda dari promosi lokal. Lampu lebih terang, lawan lebih “terlatih menghadapi tekanan”, dan kesalahan kecil dihukum tanpa negosiasi.
Di ONE Fight Night 37 (Bangkok, 7 November 2025), Van Rooyen menghadapi Avazbek Kholmirzaev dan kalah lewat submission armbar pada 3:52 ronde pertama.
Banyak yang bisa dipelajari dari satu kekalahan seperti ini:
-
- Grappling level internasional: satu scramble yang salah bisa langsung jadi submission.
- Pengelolaan agresi: petarung yang agresif kadang “memberi” kesempatan untuk counter grappling saat terlalu memaksa posisi.
- Adaptasi pacing: di panggung global, tempo bukan hanya soal cepat—tapi soal kapan harus cepat.
ONE kemudian mengangkat narasi bahwa Van Rooyen belajar dari debutnya dan ingin comeback besar.
Comeback melawan Jeremy Miado di ONE Fight Night 41
ONE mengumumkan Van Rooyen akan kembali bertarung melawan Jeremy “The Jaguar” Miado di ONE Fight Night 41, pada 13 Maret 2026 (U.S. primetime).
Pertarungan comeback untuk petarung muda selalu terasa seperti ujian karakter:
-
- Apakah ia tetap agresif, atau jadi ragu?
- Apakah ia menambal celah grappling tanpa menghilangkan “gigi” striking-nya?
- Apakah kekalahan pertama menjadi beban, atau bahan bakar?
Aspek menarik yang membuat Willie van Rooyen wajib dipantau
1. Jalur pendakian super cepat
Dari pro debut (2023) ke juara EFC, lalu langsung ONE Fight Night—itu lompatan yang jarang terjadi tanpa finishing yang “berisik.”
2. Identitas “finisher”
Rekor pra-ONE menunjukkan dominasi penyelesaian (KO/TKO dan submission) yang membuat setiap pertarungannya berpotensi selesai lebih awal.
3. Kekalahan pertama datang cepat—dan itu bagus untuk pertumbuhan
Kalah armbar di debut adalah pelajaran keras, tapi datang pada usia 23 berarti ruang perbaikan masih sangat luas.
4. Misi besar: jadi juara dunia ONE pertama dari Afrika Selatan
ONE menyorot ambisi itu dalam fitur perjalanan kariernya—ambisi yang akan terus memberi narasi kuat bagi setiap langkah berikutnya.
“White Lion” baru saja belajar berburu di hutan yang lebih besar
Willie “White Lion” van Rooyen datang ke ONE Championship dengan reputasi yang tidak main-main: KO 37 detik untuk merebut sabuk, lalu submission untuk mempertahankan. Tapi ONE Fight Night 37 menunjukkan hukum lama MMA: ketika level naik, kesalahan kecil jadi akhir cepat.
Sekarang ceritanya bukan lagi tentang rekor sempurna. Ceritanya tentang evolusi: apakah singa muda ini bisa kembali, menambal celah, dan membuktikan bahwa ia tidak hanya “prospek viral”, melainkan petarung yang benar-benar siap mengukir sejarah Afrika Selatan di panggung ONE.
(PR/timKB).
Sumber foto: onefc.com
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda