Jakarta – Di dunia MMA, ada petarung yang langsung dikenal karena sensasi. Ada pula yang tumbuh lewat proses yang lebih keras, lebih senyap, dan justru karena itu terasa lebih kuat. Daniil Donchenko termasuk dalam kelompok kedua. Ia datang dari Kyiv, Ukraina, membawa gaya bertarung ortodoks, tenaga pukulan yang nyata, dan karakter petarung yang dibentuk oleh kerja panjang, bukan sorotan instan. Ketika namanya mulai masuk percakapan publik internasional lewat The Ultimate Fighter 33, orang tidak hanya melihat seorang atlet muda dengan rekor bagus. Mereka mulai melihat petarung yang tampak benar-benar siap menyeberang dari level prospek ke panggung utama UFC.
Daniil Donchenko lahir pada 4 Agustus 2001 di Kyiv, Ukraina. Sherdog mencatat tingginya 5 kaki 11 inci atau sekitar 180 cm, berat tanding 170 lbs, dan afiliasinya dengan Tiger Muay Thai. Sherdog juga menampilkan rekor profesionalnya saat ini sebagai 13 kemenangan dan 2 kekalahan, dengan distribusi kemenangan 8 KO/TKO, 2 submission, dan 3 keputusan, sementara kedua kekalahannya datang lewat keputusan.
Profil
Daniil Donchenko adalah tipe petarung welterweight yang secara fisik terlihat ideal untuk divisinya. Tinggi 180 cm, berat 170 lbs, dan jangkauan yang juga tercatat sekitar 71 inci/180 cm dalam beberapa basis data membuatnya berada pada ukuran yang kompetitif untuk UFC. Ia tidak mengandalkan tubuh raksasa untuk menang. Justru yang paling menonjol adalah cara ia menggunakan struktur tubuhnya untuk memaksimalkan striking: cukup tinggi, cukup panjang, dan cukup padat untuk bertarung agresif tanpa kehilangan keseimbangan.
Dari segi gaya, Donchenko dikenal bertarung dengan stance ortodoks. Sherdog memperlihatkan bahwa mayoritas kemenangannya datang lewat KO/TKO, yang langsung memberi gambaran tentang identitas utamanya. Ia adalah petarung yang nyaman mendorong pertarungan ke wilayah striking dan percaya pada daya rusak tangannya. Namun keberadaan dua kemenangan submission juga menunjukkan bahwa ia bukan petarung satu dimensi. Ia mungkin lebih dikenal karena pukulannya, tetapi ia tetap memiliki perangkat yang cukup untuk menang saat pertarungan berubah bentuk.
Karier awal
Sebelum publik UFC mengenalnya, Daniil Donchenko sudah lebih dulu menumpuk pengalaman profesional yang signifikan. Sherdog menunjukkan bahwa sebelum TUF, ia telah mengumpulkan kemenangan atas lawan-lawan seperti Gabriel Souza, Amirkhon Alihuzhaev, Rustam Yusupov, Kanybek Janybekov Uulu, dan Rustem Kudaibergenov. Hasil-hasil itu datang lewat beragam cara: knockout cepat, submission rear-naked choke, hingga keputusan mutlak lima ronde. Ini penting, karena menunjukkan bahwa Donchenko bukan prospek yang hidup dari satu malam besar saja. Ia sudah membangun fondasinya secara nyata sebelum kamera TUF menyorotnya.
Yang paling menonjol dari fase awal karier itu adalah pola penyelesaiannya. Ia beberapa kali menang cepat, termasuk KO ronde pertama atas Gabriel Souza di ONE Friday Fights 25 pada Juli 2023, TKO atas Rustam Yusupov pada Maret 2024, dan submission atas Kanybek Janybekov Uulu pada Juli 2024. Pola ini menunjukkan bahwa identitasnya sebagai petarung ofensif memang sudah terbentuk cukup lama. Ia tidak baru menjadi finisher saat TUF. Ia sudah seperti itu sejak sebelum masuk radar UFC.
The Ultimate Fighter 33
Tahun 2025 menjadi titik balik besar bagi karier Donchenko saat ia masuk ke The Ultimate Fighter Season 33. ESPN dalam preview besar mereka tentang TUF 33 menempatkan Donchenko sebagai salah satu wakil Team Cormier di divisi welterweight, dengan catatan bahwa ia berasal dari Kyiv, masih berusia 23 tahun, berlatih di Tiger Muay Thai, dan memiliki tujuh kemenangan KO saat memasuki kompetisi. Itu berarti, sejak awal, ia sudah diposisikan sebagai striker yang harus diperhatikan.
Di TUF, Donchenko tidak hanya hadir sebagai peserta. Ia menang di babak-babak penting. Recap Episode 2 UFC mencatat bahwa ia menjadi welterweight pertama yang lolos ke semifinal setelah meraih kemenangan dua ronde yang jelas atas Richard Martins. Lalu recap Episode 8 dan Tapology menegaskan bahwa di semifinal ia menghadapi Matt Dixon dan menang lewat KO/TKO pada ronde pertama, tepatnya 2:11.
Semifinal melawan Matt Dixon
Semifinal TUF sering menjadi titik ketika seorang prospek mulai benar-benar dilihat sebagai calon UFC serius. Bagi Donchenko, laga itu menjadi momen yang sangat penting. Tapology mencatat ia menghentikan Matt Dixon lewat KO/TKO pada 2:11 ronde pertama, sementara UFC juga memiliki konten pascalaga yang secara khusus menampilkan reaksinya setelah kemenangan semifinal tersebut. Ini menunjukkan betapa besar arti laga itu, bukan hanya secara kompetitif, tetapi juga secara naratif. Ia tidak sekadar lolos. Ia lolos dengan cara yang sangat meyakinkan.
Kemenangan atas Dixon membuat satu hal menjadi sangat jelas: Donchenko bukan hanya petarung yang punya daya pukul, tetapi juga petarung yang tahu kapan harus memaksakan tempo dan kapan harus menutup laga. Pada fase seperti ini, banyak petarung muda justru bermain terlalu hati-hati karena tahu kontrak UFC sudah dekat. Donchenko melakukan sebaliknya. Ia tetap bertarung seperti dirinya sendiri. Dan justru karena itu, kesan yang ia tinggalkan terasa jauh lebih kuat.
Final TUF 33
Setelah semifinal, Donchenko maju ke final welterweight TUF 33 dan menghadapi Rodrigo Sezinando di Noche UFC pada 13 September 2025. UFC mencatat bahwa Donchenko menang lewat TKO (strikes) pada 4:27 ronde pertama dan secara resmi menjadi pemenang TUF 33 welterweight. Jadi, kontrak dan statusnya sebagai pemenang TUF datang dari keberhasilannya menutup turnamen dengan kemenangan final atas Sezinando.
Awal karier UFC
Setelah memenangkan TUF 33, Donchenko tidak berhenti di sana. Profil resminya di UFC menyebut bahwa pada 7 Februari 2026 di UFC Fight Night, ia mengalahkan Alex Morono lewat unanimous decision dalam pertarungan tiga ronde. Ini adalah detail yang sangat penting, karena memperlihatkan bahwa setelah dikenal sebagai striker berbahaya dan juara TUF, ia juga mampu menang dalam duel penuh melawan veteran UFC yang sangat berpengalaman.
Rekor profesional Donchenko saat ini menurut Sherdog adalah 13 kemenangan dan 2 kekalahan. Angka itu sendiri sudah kuat, tetapi yang lebih menarik adalah bentuknya. Delapan kemenangan KO/TKO menegaskan kekuatan utama yang ia bawa sebagai striker. Dua kemenangan submission menunjukkan bahwa ia tidak sepenuhnya hidup dari satu senjata. Tiga kemenangan keputusan menunjukkan bahwa ia juga bisa bertahan dalam laga panjang. Sementara dua kekalahannya sama-sama lewat keputusan, artinya sejauh ini ia belum pernah dihentikan lawan secara KO atau submission. Itu adalah detail yang sangat penting untuk menggambarkan ketangguhan dasarnya.
Mengapa Daniil Donchenko layak diperhatikan
Ada beberapa alasan mengapa Donchenko layak disebut salah satu nama muda yang patut diawasi di welterweight UFC. Yang pertama tentu rekam jejaknya: juara TUF 33, menang semifinal dan final lewat TKO, lalu menang atas Alex Morono di awal karier UFC. Yang kedua adalah usianya. Ia masih sangat muda untuk ukuran welterweight, tetapi sudah punya pengalaman bertarung di berbagai konteks. Yang ketiga adalah lingkungan latihannya di Tiger Muay Thai, yang memberi fondasi kuat untuk terus berkembang. Dan yang keempat adalah gaya bertarungnya sendiri: ortodoks, ofensif, dan sangat percaya pada striking.
Ada pula sisi naratif yang kuat. Donchenko bukan petarung yang dibawa naik oleh promosi semata. Ia masuk ke radar publik melalui sistem seleksi yang keras, lalu menutup semua keraguan dengan cara yang meyakinkan. Petarung seperti ini sering punya daya tahan karier yang lebih baik, karena identitas mereka dibangun oleh ujian, bukan oleh perlindungan. Dalam olahraga sekeras MMA, itu adalah modal yang sangat berarti.
(PR/timKB).
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda