Bernardo Sopaj: Kisah “Lion King” Dari Albania

Piter Rudai 17/04/2026 4 min read
Bernardo Sopaj: Kisah “Lion King” Dari Albania

Jakarta – Di dunia MMA Eropa, ada petarung yang muncul lewat sorotan besar, dan ada juga yang tumbuh dari lintasan kompetisi yang keras, sunyi, tetapi sangat membentuk. Bernardo Sopaj termasuk dalam kategori kedua. Ia lahir pada 25 September 2000 di Fier, Albania, lalu tumbuh menjadi salah satu petarung muda yang perlahan memaksa namanya masuk ke percakapan dunia. Sopaj tercatat sebagai petarung bantamweight dengan tinggi sekitar 168 cm, berat 135 lbs, reach 168 cm, stance orthodox, rekor profesional 12 kemenangan dan 3 kekalahan, serta julukan “The Lion King.” Saat ini ia juga tercatat berlatih di Allstars Training Center, salah satu kamp paling dikenal di kawasan Skandinavia.

Julukan “Lion King” terasa cocok untuk Sopaj karena gaya bertarungnya memang memberi kesan percaya diri, eksplosif, dan tidak pasif. Anda menyebut dirinya sebagai petarung dengan striking dan submission yang menonjol, dan data statistik profesionalnya mendukung itu: dari 12 kemenangan, 7 diraih lewat KO/TKO, 3 lewat submission, dan 2 lewat keputusan juri. Komposisi ini menunjukkan bahwa Sopaj bukan petarung satu dimensi. Ia bisa mengakhiri laga dengan pukulan, tetapi juga cukup nyaman saat pertarungan bergerak ke grappling. Ini penting, karena di kelas bantamweight modern, petarung yang bertahan lama biasanya bukan hanya cepat atau keras, melainkan juga cukup lengkap untuk menang dari lebih dari satu jalur.

Aspek lain yang membuat kisah Sopaj menarik adalah latar geografis dan jalur kariernya. Ia lahir di Albania, tetapi dalam perjalanan profesionalnya dikenal bertarung dari Stockholm, Swedia, dan berkembang di Allstars Training Center. Kombinasi ini memberi warna khas Eropa modern: bakat dari Balkan, ditempa dalam ekosistem latihan Skandinavia yang disiplin dan sangat kompetitif. Dalam MMA Eropa, Allstars punya reputasi kuat sebagai tempat lahirnya banyak petarung berlevel tinggi. Jadi ketika Sopaj muncul dari sana, publik sebenarnya tidak hanya melihat seorang petarung muda Albania, tetapi juga produk dari sistem latihan yang sangat serius.

Dari situlah pintu UFC terbuka. Sopaj direkrut ke UFC setelah membangun reputasi sebagai salah satu prospek bantamweight Eropa yang agresif dan atraktif. Debutnya datang pada 2 Maret 2024 di UFC Fight Night: Rozenstruik vs. Gaziev melawan Vinicius Oliveira. Debut ini langsung keras. Sopaj tampil berani, bahkan sempat memberi kesan bahwa ia mampu membuat laga berjalan rumit. Namun pada akhirnya ia kalah lewat KO ronde ketiga dari flying knee Oliveira, sebuah hasil yang langsung menjadi highlight besar di UFC. Kekalahan ini memang pahit, tetapi justru memperlihatkan sesuatu yang penting: Sopaj datang ke UFC bukan untuk bertahan aman, melainkan untuk benar-benar bertarung.

Kekalahan dari Vinicius Oliveira bisa dibaca sebagai momen patah, tetapi bagi Sopaj itu justru terasa seperti ujian awal. Banyak petarung muda Eropa yang datang dengan hype, lalu hilang setelah debut buruk. Sopaj memilih bertahan. Ia kembali berlatih, kembali merapikan detail, lalu muncul lagi di UFC dengan versi yang lebih tenang. Inilah yang membedakan petarung prospek dengan petarung yang benar-benar punya masa depan: kemampuan merespons kegagalan pertama tanpa kehilangan identitas utama mereka.

Jawaban terbaiknya datang pada 18 Januari 2025 di UFC 311, ketika ia menghadapi Ricky Turcios. Kali ini, Sopaj meraih kemenangan unanimous decision dengan skor 30-27, 30-27, 29-28. Laporan resmi UFC menekankan bahwa ini adalah penampilan full camp pertamanya di Octagon, dan ia tampil jauh lebih rapi, lebih terukur, dan lebih meyakinkan. Kemenangan ini penting bukan hanya karena memberinya angka pertama di kolom menang UFC, tetapi juga karena menunjukkan bahwa ia tidak bergantung pada kekacauan untuk bisa efektif. Ia bisa mengelola pertarungan selama tiga ronde, tetap disiplin, dan mengalahkan lawan yang berpengalaman.

Kemenangan atas Ricky Turcios memberi warna baru pada citra Bernardo Sopaj. Sebelum itu, ia lebih banyak dikenal sebagai petarung dengan finishing power dan gaya agresif. Tetapi kemenangan angka atas Turcios menunjukkan bahwa ia juga bisa menang secara taktis. Untuk bantamweight muda, kualitas ini sangat berharga. Banyak petarung bisa terlihat berbahaya ketika segalanya berjalan sesuai rencana, tetapi hanya sedikit yang bisa tetap menang saat laga memaksa mereka berpikir, beradaptasi, dan bekerja penuh selama 15 menit. Sopaj memperlihatkan bahwa ia mulai punya kedewasaan semacam itu.

Secara teknik, Sopaj menarik karena ia tidak terlalu mudah didefinisikan hanya sebagai pemukul keras. Ya, ia punya power yang nyata untuk ukuran bantamweight. Tetapi statistiknya juga menunjukkan ada 3 kemenangan submission, sesuatu yang menegaskan bahwa ancamannya tidak berhenti di striking. Ia bisa memanfaatkan momen saat lawan lengah atau panik, lalu membawa laga ke jalur grappling yang cukup efektif. Itu sebabnya deskripsi Anda tentang dirinya sebagai petarung dengan striking dan submission terasa tepat. Dalam lanskap bantamweight yang semakin serba lengkap, kemampuan seperti ini bukan kelebihan tambahan, melainkan kebutuhan. Sopaj sudah punya pondasi itu sejak usia muda.

Pada usia yang masih 25 tahun, Sopaj berada di fase yang sangat menarik dalam kariernya. Ia sudah masuk UFC, sudah merasakan kalah brutal dan menang meyakinkan, dan masih punya ruang yang sangat besar untuk berkembang. Di kelas bantamweight, usia seperti ini biasanya berarti seorang petarung baru mulai masuk ke fase pematangan, bukan penurunan. Dengan rekor 12-3, afiliasi Allstars Training Center, dan modal teknik yang cukup lengkap, Sopaj tampak seperti petarung yang masih menyimpan banyak bab penting dalam kisahnya.

Bahkan, kisah itu masih terus bergerak. Dikabarkan bahwa Sopaj dijadwalkan akan menghadapi Timmy Cuamba pada 16 Mei 2026 di Las Vegas. Jadwal ini penting karena memberinya kesempatan untuk melanjutkan momentum setelah kemenangan atas Ricky Turcios. Jika ia menang lagi, maka narasi tentang dirinya akan bergeser dari “prospek yang menarik” menjadi “petarung UFC yang benar-benar mulai menemukan pijakan.” Dalam divisi sepadat bantamweight, perubahan status seperti itu sangat penting.

(PR/timKB).

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...