Jakarta – Di dunia combat sports, sangat sedikit atlet yang datang ke MMA dengan reputasi sebesar Bia Mesquita. Sebelum namanya masuk ke Octagon UFC, ia lebih dulu dikenal luas sebagai salah satu legenda hidup Brazilian Jiu-Jitsu, sosok yang begitu dominan di matras hingga dijuluki “The Lady GOAT.” Kini, Beatriz “Bia” Mesquita tidak lagi hanya dibicarakan sebagai ratu grappling, tetapi juga sebagai petarung bantamweight UFC yang masih tak terkalahkan. Bia lahir di Rio de Janeiro, Brasil, bertarung di kelas women’s bantamweight, berstance orthodox, dan memiliki rekor profesional 7 kemenangan tanpa kekalahanTinggi badannya 5’4”, berat 135 lbs, reach 67.5 inci, dan afiliasinya dengan American Top Team.
Bia lahir pada 7 April 1991 dan memiliki rekor 7-0. Ia memulai karier MMA profesionalnya pada Juni 2024, lalu resmi debut di UFC pada Oktober 2025 di UFC Rio. Detail ini penting karena membuat cerita kariernya jauh lebih menarik: ia bukan petarung MMA biasa yang naik perlahan selama bertahun-tahun, melainkan atlet jiu-jitsu kelas dunia yang transisinya ke MMA berlangsung sangat cepat dan sangat efektif.
Yang membuat Bia Mesquita berbeda dari banyak pendatang baru lain adalah warisan yang ia bawa dari dunia grappling. Artikel resmi UFC menyebutnya sebagai salah satu pendatang baru yang sangat berbeda karena ia datang ke MMA setelah menorehkan prestasi luar biasa di BJJ, termasuk banyak gelar dunia di level tertinggi. Sherdog bahkan menyebutnya sebagai ten-time IBJJF gold medalist, sebuah penanda yang langsung menjelaskan mengapa namanya begitu dihormati bahkan sebelum menendang atau memukul satu lawan pun di panggung UFC. Dalam dunia MMA, banyak atlet belajar grappling untuk melengkapi diri. Pada Bia, keadaannya terbalik: ia datang dari puncak grappling dunia lalu mulai menambahkan unsur MMA ke atas fondasi yang sudah hampir sempurna.
Latar seperti itu membuat transisi Bia ke MMA terasa sangat menarik. Banyak juara BJJ besar mencoba masuk ke MMA, tetapi tidak semua berhasil menerjemahkan dominasi matras ke arena pertarungan sesungguhnya. Ada yang kesulitan dengan striking, ada yang sulit menutup jarak, ada pula yang tidak bisa memaksakan lawan masuk ke wilayah yang mereka kuasai. Pada Bia, kekhawatiran itu masih sempat dibahas. Preview Sherdog untuk salah satu laganya bahkan menulis bahwa ia adalah grappler kelas dunia, tetapi tantangan terbesarnya di MMA adalah memastikan pertarungan benar-benar terjadi di tempat dan posisi yang ia inginkan. Penilaian itu sangat masuk akal, karena sejarah MMA penuh dengan spesialis grappling hebat yang kesulitan mengendalikan cara laga berkembang.
Namun justru di situlah Bia mulai mengejutkan banyak orang. Setelah memulai debut MMA profesionalnya pada Juni 2024, ia langsung meraih kemenangan submission ronde pertama. Artikel UFC tentang dirinya menulis bahwa debut MMA itu terjadi dalam ajang Spaten Fight Night, dan Bia langsung membuka kariernya dengan kemenangan submission pada ronde pertama. Dari sana, laju kemenangannya bergerak cepat. UFC juga menulis bahwa sebelum masuk ke UFC, ia sudah melesat ke rekor 5-0, semuanya dengan 100 persen finish rate, sekaligus merebut gelar LFA women’s bantamweight. Itu berarti Bia tidak hanya menumpang nama besar BJJ saat masuk MMA; ia benar-benar membuktikan diri sebagai finisher yang efektif di sangkar.
Pencapaian di LFA menjadi bagian penting dari kisah kariernya. Bagi banyak petarung Amerika dan Brasil, LFA adalah salah satu jalur paling kredibel menuju UFC. Bahwa Bia mampu menembus promotor itu, memenangkan laga-laga awal, lalu merebut sabuk, menunjukkan bahwa peralihannya ke MMA berlangsung jauh lebih mulus daripada dugaan banyak orang. Ia bukan cuma menang karena nama besar atau hype, tetapi menang dalam sistem yang memang sering melahirkan petarung UFC. Ini pula yang menjelaskan mengapa UFC akhirnya membuka pintu untuknya.
Debut resmi Bia di UFC datang di tempat yang secara emosional sangat pas: UFC Rio pada 11 Oktober 2025. UFC dalam artikel “A Different Kind of Newcomer” dan “Fighters on the Rise” secara khusus menyorot bahwa Bia akan debut di kota kelahirannya sendiri, Rio de Janeiro, di depan publik Brasil. Lawannya saat itu adalah Irina Alekseeva, dan hasilnya benar-benar mempertegas identitas Bia. Menurut ESPN, ia menang lewat submission ronde kedua pada menit 2:14. Debut seperti itu sangat penting, karena ia tidak hanya berhasil melewati ujian pertama di UFC, tetapi juga melakukannya dengan cara yang paling mencerminkan siapa dirinya: submission.
Kemenangan atas Irina Alekseeva terasa seperti deklarasi resmi. Banyak petarung debut di UFC hanya berusaha bertahan dan mencari celah untuk lolos dari tekanan awal. Bia justru tampil seperti seseorang yang memang tahu persis apa yang ingin ia lakukan. Ia membawa ketenangan grappler elite ke panggung besar, lalu mengubah laga menjadi wilayah yang ia pahami lebih baik daripada lawan. Dalam konteks naratif, debut itu seperti jembatan yang sempurna antara dua dunia: dunia BJJ yang telah ia kuasai bertahun-tahun dan dunia MMA yang kini sedang ia masuki dengan cepat.
Sesudah debut itu, Bia tidak berhenti. Pada 14 Maret 2026 di UFC Fight Night, ia menghadapi Montserrat Rendon dan kembali menunjukkan sisi paling berbahaya dari permainannya. ESPN mencatat Bia menang lewat submission ronde pertama pada menit 2:07, sementara Sherdog juga menyorot kemenangan itu sebagai rear-naked choke cepat yang menjaga rekor tak terkalahkannya. UFC kemudian memasukkan namanya dalam artikel “Fighters on the Rise”, menegaskan bahwa ia bukan sekadar mantan juara grappling yang sedang mencoba-coba MMA, tetapi salah satu nama baru yang benar-benar mulai naik dalam divisi bantamweight wanita.
Kemenangan atas Montserrat Rendon sangat menarik karena memperlihatkan pola yang mulai konsisten. Bia tidak sekadar menang, tetapi menang dengan cara yang membuat identitasnya semakin jelas. Hingga Maret 2026, rekor profesionalnya tetap 7-0, dengan distribusi kemenangan menurut ESPN berupa 1 KO/TKO dan 5 submission, sedangkan sisanya lewat keputusan. Artinya, mayoritas kemenangannya memang lahir dari grappling, tepat seperti yang Anda gambarkan, tetapi ia juga sudah menunjukkan bahwa dirinya tidak sepenuhnya bergantung pada satu bentuk penyelesaian saja. Ia cukup komplet untuk menambah lapisan striking ke dalam permainannya, meski submission tetap menjadi pusat ancamannya.
Kalau berbicara soal prestasi, Bia Mesquita sudah membawa paket yang luar biasa bahkan sebelum MMA masuk ke dalam daftar pencapaiannya. Ia adalah juara dunia BJJ berkali-kali, lalu masuk MMA dan masih tak terkalahkan dengan rekor 7-0, menjuarai LFA, debut menang di UFC Rio, lalu melanjutkannya dengan submission cepat atas Montserrat Rendon. Profil resmi UFC bahkan menempatkannya di peringkat #15 women’s bantamweight pada Oktober 2025, yang menunjukkan bahwa organisasi ini cukup cepat melihat potensinya. Untuk petarung yang baru mulai karier MMA profesional pada 2024, laju seperti ini sangat luar biasa.
(PR/timKB).
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda