Priscila Cachoeira: Kisah “Zombie Girl” Dari Rio de Janeiro

Piter Rudai 03/05/2026 5 min read
Priscila Cachoeira: Kisah “Zombie Girl” Dari Rio de Janeiro

Jakarta – Di dunia MMA wanita, ada petarung yang membangun nama lewat ketenangan taktis, ada yang menonjol karena teknik yang rapi, dan ada pula yang dikenang karena keberanian mereka memasuki bahaya tanpa ragu. Priscila Cachoeira Gomes da Silva berada di kelompok terakhir itu. Petarung asal Rio de Janeiro, Brasil, yang lahir pada 19 Agustus 1988, dikenal dengan julukan “Zombie Girl”, sebuah nama yang terasa sangat pas untuk menggambarkan karakter bertarungnya: keras, lurus, sulit dihentikan, dan selalu siap bertukar pukulan. UFC menempatkannya sebagai petarung Brasil di divisi women’s bantamweight, dengan tinggi 5 kaki 7 inci, bobot 135 lbs, stance orthodox, tim MMA Masters, dan rekor profesional 13 kemenangan serta 8 kekalahan.

Yang membuat kisah Priscila Cachoeira begitu menarik adalah kontras antara gaya bertarung dan dasar tekniknya. Di satu sisi, ia dikenal sebagai orthodox striker yang sangat agresif. Di sisi lain, ia punya latar belakang Brazilian Jiu-Jitsu sabuk ungu, dan meski profil statistik publik saat ini lebih menonjolkan identitasnya sebagai striker, latar bela diri Brasil itu tetap memberi konteks penting pada cara ia memahami pertarungan. Namun fakta paling mencolok dari rekornya justru menunjukkan bahwa kemenangan-kemenangannya lebih banyak datang lewat pukulan: dari 13 kemenangan profesional, tercatat 8 kemenangan KO/TKO dan tidak ada kemenangan submission. Sebaliknya, dari 8 kekalahannya, 4 terjadi lewat submission. Artinya, identitas tempur Priscila sangat jelas: ia hidup dari striking, bukan dari permainan bawah.

Distribusi hasil itu menjelaskan banyak hal tentang siapa “Zombie Girl” sebenarnya. Ia bukan petarung yang datang untuk bermain aman atau mengumpulkan angka di kartu juri. Ia adalah petarung yang hampir selalu membawa ancaman chaos. Bahkan statistik UFC yang lebih luas menunjukkan bahwa Priscila termasuk salah satu petarung dengan rata-rata durasi pertarungan tercepat di divisi wanita bantamweight. Di daftar stat leaders UFC, ia tercatat berada sangat tinggi dalam kategori shortest average fight time, dengan rata-rata sekitar 7 menit 7 detik. Itu artinya laga-laga Priscila jarang berjalan tenang. Biasanya, selalu ada benturan keras, tekanan, atau akhir cepat yang membuat pertarungannya sulit terasa biasa.

Perjalanan Priscila menuju UFC lahir dari tradisi panjang combat sports Brasil. Sebelum masuk organisasi terbesar dunia, ia lebih dulu membangun namanya di panggung regional Brasil dan Amerika Latin. Meskipun sumber yang saya cek untuk percakapan ini lebih banyak menyorot fase UFC dan karier terkini, jejak rekornya menunjukkan bahwa ia datang ke UFC pada 2018 bukan sebagai atlet tanpa dasar, melainkan sebagai petarung yang sudah membawa reputasi striker keras dari sirkuit lokal. Dan reputasi itu memang terus menempel sampai sekarang. Bahkan profil masih mencantumkan fighting style: Striker, seolah menegaskan bahwa inti dari seluruh perjalanan kariernya tetap tidak berubah.

Julukan “Zombie Girl” sendiri juga terasa lebih dari sekadar nama panggung. Dalam olahraga tarung, julukan yang baik biasanya lahir dari sesuatu yang nyata, bukan sekadar tempelan promosi. Pada Priscila, julukan ini terasa hidup karena ia memang bertarung seperti sosok yang terus bergerak maju meski keadaan tidak selalu menguntungkannya. Ia bisa kalah, bisa disakiti, bisa jatuh ke momen sulit, tetapi tetap datang lagi di laga berikutnya dengan energi yang hampir sama. Dalam dunia MMA wanita yang sangat kompetitif, karakter seperti ini membuat seorang petarung mudah diingat, bahkan ketika hasilnya tidak selalu konsisten.

Karier UFC Priscila juga penuh dengan pola yang sangat manusiawi: menang, kalah, bangkit, lalu kembali jatuh dan bangun lagi. Salah satu kemenangan penting dalam beberapa tahun terakhir datang pada 21 Juni 2025, ketika ia mengalahkan Irina Alekseeva lewat unanimous decision. Ini penting karena memperlihatkan sisi lain dari dirinya. Selama ini, Priscila lebih dikenal sebagai finisher dan brawler, tetapi kemenangan angka atas Alekseeva menunjukkan bahwa ia juga bisa menjaga bentuk pertarungan selama tiga ronde penuh dan tetap cukup efektif untuk meyakinkan juri. Bagi petarung yang citranya sangat lekat dengan perang terbuka, kemenangan seperti ini memberi nuansa tambahan pada kariernya.

Namun jalur Priscila tak pernah benar-benar tenang. Sebelum kemenangan atas Alekseeva, ia sempat kalah KO/TKO dari Miranda Mullins pada 9 November 2024, hasil yang menegaskan betapa tipisnya margin dalam karier seorang petarung agresif. Saat seorang atlet bertarung dengan tekanan tinggi dan selalu berada dekat bahaya, risiko semacam ini akan selalu ada. Tetapi justru di situlah identitas Priscila terbentuk. Ia tidak pernah tampak seperti petarung yang ingin menghapus risiko dari permainannya. Ia tetap datang dengan keberanian yang sama, meski tahu harga yang harus dibayar bisa mahal.

Masuk ke 2026, Priscila kembali menghadapi ujian. Pada 7 Februari 2026, ia kalah unanimous decision dari Klaudia Syguła di UFC Fight Night. Hasil ini dikonfirmasi oleh laporan hasil resmi UFC, yang menuliskan bahwa Sygula mengalahkan Cachoeira dengan skor juri 30-27, 30-27, dan 29-28. Kekalahan angka seperti ini tidak selalu menandakan pertarungan sepihak, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa lawan berhasil mengatasi tekanan dan ritme tempur yang dibawa oleh Priscila. Dalam konteks kariernya, laga itu menjadi pengingat bahwa meski ia selalu berbahaya, divisi bantamweight UFC tidak pernah memberi ruang nyaman terlalu lama.

Menariknya, meski hasil-hasilnya naik turun, Priscila tetap menjadi nama yang relevan di divisinya. Sherdog saat ini bahkan sudah menampilkan jadwal laga berikutnya untuknya di UFC Fight Night 278 pada 6 Juni 2026, di mana ia dijadwalkan menghadapi Chelsea Chandler. Fakta bahwa UFC terus memberinya pertarungan baru menunjukkan satu hal penting: Priscila masih dianggap punya nilai. Nilai itu mungkin tidak selalu datang dari posisi ranking atau laju kemenangan panjang, tetapi dari kenyataan bahwa ia tetap menjadi lawan yang sulit, berbahaya, dan selalu bisa membuat laga menjadi hidup.

Aspek paling menarik dari Priscila mungkin justru adalah ketidakrapian yang melekat pada kariernya. Ia bukan petarung yang steril, bukan atlet yang selalu terlihat “aman”, dan bukan pula sosok yang dibungkus narasi sempurna. Ia adalah petarung Brasil yang datang dengan striking mentah, percaya pada kekerasan pukulannya, dan hidup dari insting. Dalam banyak pertarungan, itu bisa menjadi kelemahan. Tetapi dalam banyak pertarungan lainnya, justru itulah yang membuatnya berbeda dari yang lain. Penonton tahu bahwa ketika Priscila masuk ke Octagon, pertandingan bisa berubah liar kapan saja.

Bila berbicara soal prestasi, Priscila memang bukan juara UFC. Tetapi pencapaiannya tetap layak dicatat. Ia berhasil bertahan cukup lama di organisasi terbesar dunia, membangun rekor profesional 13-8, mencatat 8 kemenangan KO/TKO, dan menempatkan dirinya di antara nama-nama yang memiliki pertarungan dengan durasi rata-rata tercepat di divisi bantamweight wanita UFC. Statistik seperti ini mungkin tidak sepopuler sabuk, tetapi sangat mencerminkan gaya dan warisan seorang petarung. Pada Priscila, warisan itu jelas: ia adalah petarung yang tidak pernah membuat pertandingan terasa biasa.

Pada akhirnya, Priscila Cachoeira Gomes da Silva adalah kisah tentang petarung yang bertahan dengan caranya sendiri. Ia lahir di Rio de Janeiro pada 19 Agustus 1988, masuk ke UFC membawa striking mentah yang keras, lalu membangun karier penuh naik turun sebagai “Zombie Girl.” Ia tidak pernah menjadi petarung paling rapi, tetapi justru karena itulah ia mudah diingat. Di dunia MMA, ada tempat khusus untuk petarung yang membawa bahaya ke setiap laga, dan Priscila sudah lama hidup di ruang itu. Selama ia masih bertarung, kisahnya akan tetap punya daya tarik yang sulit diabaikan.

(PR/timKB).

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...