Jakarta – Timnas Swiss kembali memastikan tempat di Piala Dunia 2026 dengan membawa reputasi sebagai salah satu tim paling konsisten dari Eropa. Keikutsertaan ini menjadi yang keenam secara beruntun sekaligus yang ke-13 sepanjang sejarah mereka di ajang sepak bola terbesar dunia. Dalam beberapa dekade terakhir, Swiss menunjukkan stabilitas performa yang jarang dimiliki tim papan tengah Eropa. Mereka hampir selalu mampu lolos dari fase grup, tapi kerap gagal melangkah lebih jauh akibat hasil dramatis di fase gugur.
Baca juga: Swiss Lengkapi Jatah Eropa Langsung Lolos Ke Piala Dunia
Generasi saat ini juga datang dengan pengalaman yang lebih matang dan komposisi tim yang seimbang. Kombinasi antara pemain senior dan talenta muda membuat Swiss menjadi lawan yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Dengan bekal tersebut, Piala Dunia 2026 menjadi momentum penting bagi Swiss untuk kembali mencatat sejarah. Target menembus perempat final untuk pertama kalinya sejak 1954 menjadi ambisi realistis yang mereka bawa.
Swiss tampil impresif sepanjang babak kualifikasi menuju Piala Dunia 2026. Mereka membuka langkah dengan kemenangan telak 4-0 atas Kosovo, di mana Breel Embolo mencetak dua gol. Performa solid berlanjut saat mereka mengalahkan Slovenia 3-0 dan menundukkan Swedia 2-0. Tim asuhan Murat Yakin menunjukkan keseimbangan antara lini belakang yang kokoh dan serangan yang efektif.
Pada laga tandang, Swiss tetap menjaga konsistensi dengan hasil imbang tanpa gol melawan Slovenia. Mereka kemudian kembali mengalahkan Swedia dengan skor meyakinkan 4-1. Hasil imbang melawan Kosovo di laga terakhir memastikan Swiss lolos tanpa kekalahan. Mereka menutup kualifikasi dengan selisih gol +12, mencetak 14 gol dan hanya kebobolan dua kali.
Swiss memiliki sejarah panjang di Piala Dunia dengan catatan 13 kali tampil sejak debut pada 1934. Prestasi terbaik mereka adalah mencapai perempat final sebanyak tiga kali, yakni pada 1934, 1938, dan 1954. Meski belum mampu mengulang capaian tersebut dalam era modern, konsistensi Swiss tetap terlihat. Sejak 1994, mereka berhasil mencapai babak 16 besar dalam lima dari enam partisipasi terakhir. Catatan ini memperlihatkan bahwa Swiss selalu menjadi tim yang sulit dikalahkan di fase awal turnamen. Namun, mereka sering tersingkir dengan cara yang menyakitkan, termasuk melalui adu penalti atau kekalahan tipis.
Peran sentral dalam tim Swiss dipegang oleh kapten Granit Xhaka. Pemain berusia 33 tahun ini menjadi figur penting baik di dalam maupun luar lapangan. Xhaka memiliki pengalaman bermain di level tertinggi, termasuk bersama Arsenal dan Bayer Leverkusen. Pada musim 2025/26, ia tampil impresif bersama Sunderland di Premier League.
Sebagai gelandang, Xhaka berfungsi sebagai pengatur tempo permainan sekaligus pemimpin tim. Ia juga menjadi pemain dengan jumlah caps terbanyak dalam sejarah Timnas Swiss. Pengalamannya di tiga edisi Piala Dunia sebelumnya menjadi nilai tambah bagi Swiss. Performa Xhaka di Piala Dunia 2026 berpotensi menjadi faktor penentu perjalanan timnya.
(bP/timKB).
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda