Jakarta – Di dunia MMA, ada petarung yang datang ke panggung besar dengan sorotan luar biasa, dan ada juga yang membangun jalan mereka lewat pertarungan demi pertarungan, sampai akhirnya nama itu tak bisa lagi diabaikan. Ilyas Eziyeu termasuk dalam kelompok kedua. Ia adalah petarung MMA asal Belarus yang lahir pada 19 Juli 2001 di Grozny, Chechnya, dan kini menjadi salah satu nama menarik di lintasan ONE Championship. Data menempatkannya dengan rekor profesional 7 kemenangan dan 2 kekalahan, bertarung terutama di kelas featherweight, dengan tinggi sekitar 178 cm, serta tercatat bertarung dari Paris, Prancis. Sementara itu, ONE menampilkan kiprahnya di panggung Friday Fights sebagai petarung yang terus berkembang melalui laga-laga keras di Bangkok.
Perjalanan Ilyas Eziyeu di ONE Championship mulai tercatat jelas pada ONE Friday Fights 52 tanggal 16 Februari 2024, ketika ia menghadapi Asset Anarbayev. Hasilnya adalah kemenangan unanimous decision untuk Eziyeu. Laporan hasil dari Cageside Press menegaskan kemenangan itu secara langsung, dan hasil tersebut penting karena menjadi fondasi awal kiprahnya di panggung ONE. Menang lewat keputusan bulat di laga pertama biasanya menunjukkan beberapa hal sekaligus: kontrol ritme, disiplin strategi, dan kemampuan untuk menjaga kualitas pertarungan selama tiga ronde penuh. Bagi petarung muda, itu adalah tanda yang sangat positif.
Kemenangan atas Asset Anarbayev memberi kesan bahwa Ilyas bukan hanya petarung yang mengandalkan satu momen ledakan. Ia tampak mampu mengelola pertarungan secara utuh. Dalam MMA, terutama di panggung seperti ONE Friday Fights yang sering mempertemukan petarung agresif dari berbagai negara, kemampuan menang angka dengan meyakinkan sering kali lebih berharga daripada yang terlihat. Itu menunjukkan bahwa seorang atlet punya struktur permainan, bukan hanya keberanian bertukar serangan. Pada titik ini, Ilyas mulai terlihat sebagai petarung yang punya fondasi cukup rapi untuk berkembang lebih jauh.
Namun, seperti banyak petarung lainnya, jalannya tidak sepenuhnya mulus. Salah satu ujian besar datang pada ONE Friday Fights 88 saat ia menghadapi Harlysson Nunes. Data mencatat pertarungan ini sebagai duel featherweight MMA, dan konteks sumber-sumber pendukung menunjukkan bahwa laga tersebut menjadi momen sulit bagi Ilyas. Dalam karier petarung, benturan seperti ini sangat penting, karena sering kali justru memperlihatkan apa yang masih perlu diperbaiki. Kekalahan, terutama di panggung besar, bisa menjadi pembatas atau justru menjadi bahan bakar untuk pertumbuhan. Dalam kasus Ilyas, tampaknya yang terjadi adalah yang kedua.
Respons terbaik dari seorang petarung selalu terlihat dari apa yang ia lakukan setelah kalah. Pada Ilyas Eziyeu, jawabannya datang pada ONE Friday Fights 138 tanggal 16 Januari 2026, ketika ia menghadapi Lucas “Tazmania” Ganin. Data mencatat hasil laga itu dengan sangat jelas: Eziyeu menang split decision atas Ganin dalam duel featherweight MMA. Kemenangan ini sangat penting karena Lucas Ganin sendiri datang sebagai petarung agresif dengan reputasi penyelesaian cepat di ONE. Artinya, Ilyas tidak hanya kembali menang, tetapi melakukannya melawan lawan yang cukup berbahaya dan dengan cara yang menunjukkan kedewasaan baru dalam permainannya.
Kemenangan atas Lucas Ganin terasa sangat penting dalam membentuk identitas karier Ilyas. Mengalahkan lawan yang dikenal eksplosif lewat split decision berarti ia sanggup bertahan dalam duel yang rumit, beradaptasi sepanjang pertandingan, lalu meyakinkan juri dalam pertarungan yang tidak mudah. Ini memberi pesan kuat: Ilyas Eziyeu bukan sekadar petarung yang bisa menang ketika semua berjalan sesuai rencana, tetapi juga sosok yang mampu bertarung dalam kondisi sulit dan tetap keluar sebagai pemenang. Untuk petarung muda dengan rekor 7-2, kualitas seperti ini sering jauh lebih penting daripada sekadar highlight knockout.
Dari sisi teknis, kombinasi antara striking dan submission terasa cukup tepat bila membaca profilnya secara menyeluruh. Salah satu sumber memang lebih eksplisit menampilkan bagian kemenangan KO/TKO ketimbang submission, tetapi cara ia bergerak dalam pertarungan dan hasil-hasil keputusan yang diraihnya menunjukkan bahwa ia bukan petarung yang hanya hidup dari satu senjata. Ia tampak punya dasar permainan campuran yang cukup seimbang, dengan striking sebagai wajah utama, tetapi tetap memiliki cukup alat untuk mengelola laga ketika pertarungan tidak selesai cepat. Dalam MMA modern, terutama di kelas featherweight, fleksibilitas seperti ini adalah fondasi penting untuk bertahan lama.
Aspek menarik lainnya adalah soal usia dan momentum kariernya. Lahir pada 19 Juli 2001, Ilyas masih sangat muda untuk ukuran petarung yang sudah mengoleksi 9 laga profesional dan menembus panggung ONE Championship. Ini berarti ia masih berada di fase yang sangat mungkin untuk berkembang lebih jauh, baik dari segi teknik, strategi, maupun kematangan mental. Banyak petarung baru benar-benar menemukan bentuk terbaik mereka justru setelah mengalami beberapa benturan awal di level tinggi. Jika melihat pola karier Ilyas—menang, belajar dari kekalahan, lalu bangkit lagi—ia tampak berada di jalur yang sehat untuk itu.
Kalau berbicara soal prestasi, mungkin Ilyas Eziyeu belum memiliki sabuk besar di ONE. Namun fondasinya sudah cukup menarik untuk diperhatikan. Ia memiliki rekor 7 kemenangan dan 2 kekalahan, pernah meraih kemenangan meyakinkan atas Asset Anarbayev, lalu membalas momentum lewat kemenangan penting atas Lucas Ganin. Ia juga sudah membuktikan bahwa dirinya mampu bersaing di lingkungan ONE Friday Fights yang sangat keras. Untuk petarung muda dari Belarus dengan jalur karier lintas wilayah seperti dirinya, itu adalah bekal yang kuat.
Pada akhirnya, Ilyas Eziyeu adalah kisah tentang petarung yang sedang membangun dirinya di panggung besar dengan cara yang jujur. Ia lahir di Grozny, membawa identitas Belarus, bertarung dari Paris, dan masuk ke ONE Championship dengan kombinasi striking tajam serta kemampuan bertahan dalam duel yang tidak mudah. Rekornya 7-2 belum menjadikannya bintang utama, tetapi justru di situlah letak pesonanya. Ia masih berada dalam fase ketika setiap kemenangan bisa menaikkan nilainya secara signifikan, dan setiap pertarungan terasa seperti bab baru yang membentuk siapa dirinya sebagai petarung. Selama proses itu terus berjalan, nama Ilyas Eziyeu akan tetap layak diikuti di ONE Championship.
(PR/timKB).
Sumber foto: onefc.com
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda