Gable Steveson: Juara Gulat Olimpiade Yang Jadi Petarung UFC

Piter Rudai 28/05/2026 5 min read
Gable Steveson: Juara Gulat Olimpiade Yang Jadi Petarung UFC

Jakarta – Di dunia olahraga tarung, ada atlet yang tumbuh sepenuhnya di MMA sejak awal, lalu ada pula sosok langka yang datang dari cabang lain dengan aura luar biasa, membawa reputasi besar bahkan sebelum benar-benar masuk ke Oktagon. Gable Steveson adalah salah satu nama itu. Ia lahir pada 31 Mei 2000 di Portage, Indiana, Amerika Serikat, lalu menjelma menjadi salah satu pegulat terbaik generasinya sebelum akhirnya menyeberang ke MMA profesional. Steveson kini tercatat sebagai atlet heavyweight, dengan tinggi sekitar 185 cm, berat tanding terbaru sekitar 249 lbs atau kurang lebih 113 kg, dan rekor MMA profesional 3 kemenangan tanpa kekalahan.

Yang membuat kisah Gable Steveson sangat menarik adalah latar belakangnya yang luar biasa kuat. Sebelum dunia MMA benar-benar membuka pintunya, ia lebih dulu menjadi raksasa di dunia gulat. Universitas Minnesota mencatat bahwa Steveson adalah peraih medali emas Olimpiade Tokyo 2021 di kelas 125 kilogram, dua kali juara NCAA Division I pada 2021 dan 2022, lima kali All-American, serta dua kali pemenang Dan Hodge Trophy, penghargaan paling prestisius dalam gulat perguruan tinggi Amerika Serikat. Dengan daftar prestasi seperti itu, ia tidak datang ke MMA sebagai atlet biasa, melainkan sebagai fenomena olahraga.

Warisan gulat itulah yang membentuk identitas dasarnya. Ia digambarkan sebagai grappler dengan dasar wrestling, dan itu sangat tepat. Bahkan UFC sebelumnya pernah memasukkan namanya dalam daftar pegulat paling berbakat yang belum sempat bertarung di MMA, jauh sebelum ia benar-benar masuk ke cabang ini. Artinya, transisi Gable Steveson ke MMA sudah lama dipandang masuk akal oleh banyak pengamat. Ia memiliki fondasi kontrol, ledakan atletik, dan kemampuan menjatuhkan lawan yang sangat jarang dimiliki atlet lain.

Namun perjalanan Steveson menuju MMA tidak sesederhana berpindah cabang lalu langsung bertarung. Setelah meraih emas Olimpiade dan mendominasi gulat kampus, ia juga sempat menempuh jalur hiburan olahraga. WWE mengumumkan bahwa Steveson menjadi bagian dari program Next In Line, bahkan disebut sebagai salah satu nama besar dalam pengembangan talenta masa depan mereka. Ini menunjukkan bahwa sejak awal, Gable memang dipandang sebagai atlet dengan daya tarik besar, bukan hanya karena prestasinya, tetapi juga karena kharisma dan nama besarnya.

Menariknya, meski sempat bersinggungan dengan WWE, Gable Steveson akhirnya benar-benar masuk ke MMA profesional dan melakukannya dengan sangat eksplosif. Berbagai sumber mencatat bahwa ia menjalani debut profesionalnya di LFA 217 pada September 2025 melawan Braden Peterson, dan menang lewat TKO ronde pertama. Kemenangan itu langsung memberi gambaran seperti apa sosok Steveson di kandang: sangat atletis, sangat kuat, dan tidak butuh banyak waktu untuk membuat lawan berada dalam masalah besar.

Setelah itu, ia melanjutkan momentumnya dengan kemenangan kedua yang bahkan lebih cepat. Pada Anthony Pettis FC 21 bulan November 2025, Steveson menghadapi Kevin Hein dan kembali menang, kali ini dalam hitungan 24 detik. Sebuah data menampilkan hasil itu dengan jelas, sementara sumber lain menegaskan dalam artikel Januari 2026 bahwa setelah dua laga tersebut, Steveson sudah dipandang sebagai salah satu prospek heavyweight paling menarik di luar UFC. Dalam dunia heavyweight, kemampuan mencetak dua penyelesaian cepat beruntun jelas membuat namanya sulit diabaikan.

Laju itu berlanjut pada pertarungan ketiganya. Pada 19 Februari 2026 di Mexico Fight League 3, Gable Steveson menghadapi lawan paling berpengalaman dalam karier MMA-nya saat itu, Hugo Lezama, dan kembali menang untuk membawa rekornya menjadi 3-0. Sebuah sumber menyorot laga ini sebagai langkah besar bagi Steveson, sementara sumber lain mencatat kemenangan itu sebagai penegasan bahwa ia bukan hanya atlet crossover, tetapi benar-benar petarung yang sedang membangun fondasi serius di MMA. Menariknya, seluruh kemenangan profesionalnya sejauh ini datang lewat KO/TKO, sesuatu yang membuat profilnya terasa lebih berbahaya dari sekadar grappler murni.

Di sinilah letak aspek paling menarik dari Gable Steveson. Secara teori, banyak orang mengira ia akan datang sebagai pegulat yang hanya mengandalkan takedown dan kontrol atas. Tetapi jejak awalnya di MMA justru menunjukkan sesuatu yang lebih ganas: ia menang cepat, agresif, dan memanfaatkan keunggulan fisik serta atletismenya untuk menciptakan penyelesaian. Sebuah sumber bahkan menulis bahwa sebelum pertarungan ketiganya, ia telah mencetak satu KO di LFA, satu KO di Anthony Pettis FC, dan satu penyelesaian 15 detik dalam format dirty boxing di sela-sela itu. Ini memberi kesan bahwa Steveson sedang membangun identitas sebagai heavyweight yang tidak hanya bisa menjatuhkan lawan, tetapi juga menghancurkan mereka.

Meski begitu, inti dari daya tarik Gable Steveson tetap berada pada fondasi gulatnya. Di kelas heavyweight, atlet dengan dasar wrestling elit selalu punya potensi khusus karena mereka dapat mengendalikan posisi, ritme, dan arah pertarungan dengan cara yang tidak bisa dilakukan banyak striker. Pada Steveson, keunggulan itu menjadi lebih istimewa karena ia bukan sekadar pegulat bagus. Ia adalah juara Olimpiade dan dua kali juara NCAA, sesuatu yang menempatkannya di tingkat yang sangat jarang. Kombinasi ukuran tubuh, kecepatan, dan teknik gulat seperti ini membuat banyak orang memandangnya sebagai proyek yang sangat menarik untuk UFC.

Aspek lain yang patut diperhatikan adalah usianya. Lahir pada 2000 berarti Gable Steveson masih sangat muda untuk ukuran heavyweight. Banyak petarung kelas berat baru mencapai bentuk terbaik mereka di akhir 20-an atau awal 30-an, karena divisi ini sangat bergantung pada kedewasaan fisik dan pengalaman bertarung. Itu berarti Steveson masuk ke UFC dengan waktu pengembangan yang masih sangat panjang. Ia belum perlu terburu-buru menjadi penantang besar sekarang. Justru yang membuatnya menarik adalah fakta bahwa dasar atletiknya sudah luar biasa, sementara ruang pertumbuhannya masih besar.

Soal afiliasi latihan tercatatcatat Jackson Wink MMA Academy, salah satu gym paling dikenal di dunia MMA. Ini penting karena menunjukkan bahwa Steveson tidak masuk ke cabang ini tanpa sistem pendukung yang kuat. Sebuah sumber juga menulis bahwa ia sempat berlatih dengan Jon Jones, sesuatu yang memberi bayangan tentang lingkungan latihan yang ia masuki. Bagi petarung baru, terutama heavyweight dengan ekspektasi sebesar dirinya, kualitas tim latihan akan sangat menentukan apakah bakat mentah bisa berubah menjadi ancaman nyata di level elite.

Kalau berbicara soal prestasi, mungkin Gable Steveson belum punya pencapaian besar di UFC karena ia baru saja menandatangani kontrak. Namun fondasinya sudah sangat luar biasa. Ia adalah peraih emas Olimpiade, dua kali juara NCAA Division I, dua kali Hodge Trophy winner, dan kini memiliki rekor MMA profesional 3-0 dengan seluruh kemenangan lewat KO/TKO. Dalam konteks atlet crossover, itu adalah paket yang sangat langka. Tidak banyak orang masuk ke UFC dengan reputasi seperti itu.

Pada akhirnya, Gable Steveson adalah kisah tentang atlet yang belum selesai menulis bab terbesar dalam hidupnya. Ia lahir di Portage, Indiana, pada 31 Mei 2000, menaklukkan dunia gulat, lalu memutuskan untuk menantang dirinya di medan baru. Rekor 3-0, dasar wrestling elit, kemenangan-kemenangan cepat, dan kontrak resmi UFC pada 2026 membuat namanya sangat layak diikuti. Ia belum benar-benar membuktikan semuanya di Oktagon, tetapi justru di situlah daya tariknya: Gable Steveson masih berada di awal cerita, dan semua tanda menunjukkan bahwa cerita itu bisa menjadi sangat besar.

(PR/timKB).

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Berita Lainnya

Loading next article...