Garrett Gross: Kisah “Glory to God” Di UFC

Piter Rudai 29/05/2026 4 min read
Garrett Gross: Kisah “Glory to God” Di UFC

Jakarta – Di dunia MMA, tidak semua petarung tiba di panggung besar dengan karier yang rapi dan mulus. Ada juga petarung yang harus menempuh jalan yang lebih sunyi, lebih keras, dan lebih berliku. Garrett Gross adalah salah satu nama yang lahir dari jalur seperti itu. Ia berasal dari Du Quoin, Illinois, Amerika Serikat, lahir pada 8 Agustus 1988, dan dikenal sebagai petarung dengan julukan “Glory to God.” Data terbaru dari UFC, dan beberapa sumber sama-sama menempatkannya sebagai petarung dengan gaya orthodox, berakar pada striking, dan pernah tampil di Dana White’s Contender Series.

Garrett Gross bertarung di kelas lightweight, dengan tinggi sekitar 175 cm menurut beberapa sumber. Reach yang paling konsisten tercatat adalah 69 inci, dan tim yang paling sering dikaitkan dengannya adalah Sabens Martial Arts. Perbedaan kecil seperti tinggi badan memang sering muncul antar basis data MMA, terutama untuk petarung regional, tetapi identitas umumnya tetap sama: ia adalah petarung kelas ringan Amerika yang bertumpu pada striking orthodox dan datang dari lingkungan gym yang serius.

Yang menarik dari Garrett Gross adalah bentuk kemenangannya. Sebuah sumber mencatat bahwa dari 13 kemenangan profesionalnya, 9 diraih lewat KO/TKO, 2 lewat submission, dan 2 lewat keputusan juri. Ini memberi gambaran yang cukup jelas bahwa meskipun ia bertarung di lightweight, pendekatannya sangat berorientasi pada tekanan dan kekuatan pukulan. Ia bukan petarung yang mencari pertarungan aman sampai kartu juri, melainkan sosok yang cenderung mencoba menghentikan lawan. Dalam banyak hal, inilah yang membuat jalannya ke Contender Series menjadi masuk akal: UFC selalu tertarik pada petarung yang bisa menciptakan penyelesaian.

Sebelum tampil di Contender Series, Garrett Gross membangun namanya melalui ajang-ajang regional seperti Shamrock FC. Riwayat yang tampil di ESPN menunjukkan dua kemenangan penting sebelum DWCS, yaitu saat ia menghentikan Franklin Sloan lewat TKO-I pada Juni 2017 dan mengalahkan Garrett Mueller lewat TKO pukulan pada Desember 2017. Dua hasil ini sangat penting, karena memberi gambaran tentang fase ketika Gross sedang membangun momentum. Ia datang ke 2018 bukan sebagai petarung tanpa arah, tetapi sebagai striker yang sedang mengumpulkan kemenangan dan terlihat cukup menarik untuk diuji di panggung yang lebih besar.

Lalu tibalah momen paling penting dalam kariernya, yaitu Dana White’s Contender Series: Season 2, Week 7 pada 31 Juli 2018. Malam itu, Garrett Gross menghadapi Roosevelt Roberts. Dari luar, ini adalah kesempatan besar. Tetapi di dalam kandang, ia harus berhadapan dengan lawan yang lebih siap memanfaatkan celah. Hasil akhirnya adalah kekalahan lewat rear-naked choke pada ronde kedua menit 2:13. Catatan ini muncul konsisten di UFC Stats, dan beberapa sumber. Secara hasil, tentu malam itu bukan akhir yang ia inginkan. Namun secara naratif, itulah malam ketika Garrett Gross benar-benar berdiri di ambang pintu UFC, meski akhirnya tidak berhasil membukanya.

Kekalahan itu penting karena memperlihatkan sisi paling manusiawi dari karier seorang petarung. Banyak orang hanya melihat siapa yang “masuk UFC” dan siapa yang tidak. Tetapi sering kali, yang lebih menarik justru adalah mereka yang sempat nyaris sampai. Garrett Gross termasuk di situ. Ia datang ke DWCS dengan modal kemenangan TKO beruntun, kepercayaan diri tinggi, dan gaya menyerang yang khas. Namun pada level seperti itu, satu detail bisa mengubah seluruh arah karier. Lawan yang lebih tenang, sedikit kesalahan di transisi, dan kesempatan besar itu pun hilang.

Setelah Contender Series, jalan Garrett Gross tidak berakhir, tetapi juga tidak berubah menjadi jalur lurus menuju UFC. ESPN mencatat bahwa ia masih bertarung sesudahnya, termasuk kekalahan dari Sean Fallon pada September 2019 dan dari Y. Oduwole pada Februari 2021, keduanya lewat keputusan bulat. Sebuah sumber juga menunjukkan bahwa ia masih aktif dalam konteks regional hingga setidaknya Desember 2024, dan bahkan mencatat bahwa ia sempat mencetak kemenangan terbaru, yang membuat status streak-nya menjadi 1 kemenangan beruntun. Ini menegaskan bahwa meskipun ia tidak berhasil mendapatkan kontrak UFC pada 2018, ia tetap melanjutkan karier profesionalnya.

Dari sisi teknik, Garrett Gross tetap mudah dikenali sebagai striker orthodox yang ingin membuat laga berjalan dengan ritme keras. Statistik ESPN menampilkan bahwa ia punya proporsi kemenangan KO/TKO yang tinggi, sementara sebuah sumber memperjelas bahwa sebagian besar kemenangannya memang datang lewat pukulan. Ini membuatnya terasa seperti petarung regional klasik Amerika: tidak terlalu banyak gaya, tetapi selalu mencoba memaksa lawan masuk ke wilayah berbahaya. Ia mungkin tidak memiliki paket grappling selengkap banyak prospek modern, tetapi justru itulah yang membentuk identitasnya dengan sangat jelas.

Ada pula sisi menarik pada julukannya, “Glory to God.” Julukan ini memberi gambaran bahwa identitas Gross tidak hanya dibentuk oleh pertarungan, tetapi juga oleh keyakinan pribadi. Dalam olahraga sekeras MMA, julukan seperti ini sering terasa lebih dari sekadar nama panggung. Ia seperti penanda arah hidup, sesuatu yang dibawa ke dalam arena dan dijadikan bagian dari cara seorang petarung memaknai perjalanan mereka. Pada Garrett Gross, julukan itu terasa cocok dengan kisahnya yang penuh usaha, tetapi tidak selalu berujung manis. Ada nuansa ketekunan dan penerimaan dalam cara kariernya berjalan.

Kalau berbicara soal prestasi, Garrett Gross memang bukan petarung yang berhasil membangun karier UFC panjang. Namun bukan berarti kisahnya tidak punya nilai. Ia membangun rekor profesional yang solid di sirkuit regional, mencetak banyak kemenangan KO/TKO, mendapat kesempatan tampil di Dana White’s Contender Series, dan terus bertarung sesudah kesempatan itu lewat jalan yang tidak mudah. Untuk banyak petarung, karier seperti ini justru lebih dekat dengan kenyataan dunia MMA yang sesungguhnya: keras, kompetitif, dan tidak selalu memberi hadiah besar meskipun kerja keras sudah dikeluarkan.

Pada akhirnya, Garrett Gross adalah kisah tentang petarung yang sempat sangat dekat dengan panggung besar, tetapi harus menerima bahwa tidak semua jalan berakhir di tempat yang diimpikan. Ia lahir di Du Quoin, Illinois, pada 8 Agustus 1988, bertarung di lightweight, membawa gaya orthodox striker, dan dikenal dengan julukan “Glory to God.” Rekornya di basis data independen kini berada di 13 menang dan 11 kalah, dan meski ia tidak benar-benar masuk UFC setelah DWCS 2018, perjalanan itu tetap layak dikenang. Sebab dalam MMA, tidak semua kisah besar adalah kisah juara. Kadang, kisah besar justru milik mereka yang terus bertarung meski dunia tidak selalu memberi mereka panggung utama.

(PR/timKB).

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Berita Lainnya

Loading next article...