Rico DiSciullo: Kisah Petarung Dari Boston Di UFC

Piter Rudai 30/05/2026 5 min read
Rico DiSciullo: Kisah Petarung Dari Boston Di UFC

Jakarta – Di dunia MMA, tidak semua petarung tiba di panggung besar lewat jalan yang rapi. Ada yang harus menempuh jalur lebih panjang, lebih keras, dan lebih sunyi, sampai akhirnya namanya benar-benar masuk radar publik. Rico DiSciullo adalah salah satu petarung dengan kisah seperti itu. Ia berasal dari Cambridge, Massachusetts, Amerika Serikat, lahir pada 12 Oktober 1986, dan kini dikenal sebagai petarung bantamweight dengan gaya orthodox yang berakar pada Muay Thai. Ia adalah petarung di kelas 135 pon, dengan tinggi sekitar 175 cm, reach sekitar 71–74 inci, dan rekor profesional yang kini tercatat 11 kemenangan dan 3 kekalahan, plus satu no contest di sebagian basis data.

Yang membuat Rico DiSciullo menarik bukan hanya perjalanan itu, tetapi bentuk dari gaya bertarungnya. Ia memang dikenal sebagai striker ortodoks dengan latar Muay Thai, tetapi rekornya menunjukkan bahwa ia bukan petarung satu dimensi. Sherdog mencatat dari 11 kemenangan profesionalnya, 5 diraih lewat KO/TKO, 2 lewat submission, dan 4 lewat keputusan. Artinya, meskipun wajah utamanya tetap striking, Rico juga punya cukup kemampuan grappling untuk menutup laga bila peluang terbuka. Ia bukan sekadar pemukul keras, melainkan petarung yang sudah cukup lama belajar bertarung secara lengkap.

Latar timnya juga memberi konteks yang kuat. Rico adalah petarung dari Team Sityodtong, gym yang punya akar panjang dalam Muay Thai dan striking. Ini membuat profil tekniknya terasa logis. Ia tampil seperti petarung yang dibesarkan dalam kultur berdiri yang disiplin: percaya pada ritme, kombinasi, dan tekanan, tetapi tetap punya kedewasaan untuk tidak bertarung serampangan. Dalam MMA, terutama di bantamweight yang sangat cepat, fondasi seperti ini sangat penting.

Sebelum dikenal luas lewat TUF, Rico lebih dulu meniti jalan panjang di panggung regional. Profil BKFC yang merangkum karier MMA-nya menyebut bahwa ia mulai bertarung sebagai amatir sejak 2010, merebut beberapa sabuk di promotor regional, lalu menjalani debut profesional di Bellator. Ringkasan itu penting karena menunjukkan bahwa Rico bukan nama baru saat tampil di layar UFC. Ia sudah lama bertarung, sudah melewati banyak level, dan sudah cukup teruji sebelum kesempatan besar benar-benar datang.

Salah satu titik penting dalam karier regionalnya datang pada Combat FC 1 tahun 2022, ketika ia mengalahkan Gareth de la Cruz lewat TKO akibat doctor stoppage. Beberapa sumber sama-sama menandai hasil itu sebagai kemenangan penting sebelum TUF. Laga seperti ini membantu memperkuat kembali momentumnya setelah masa-masa sulit sebelumnya, dan membuat namanya kembali relevan dalam percakapan soal petarung yang layak diberi peluang lebih besar.

Saat tampil di The Ultimate Fighter 31, kisah Rico mulai mendapatkan sorotan yang lebih luas. UFC secara resmi menerbitkan feature “Meet Bantamweight Rico DiSciullo” pada Mei 2023, yang memperkenalkannya kepada publik sebagai salah satu peserta TUF 31. Dalam konteks ini, Rico bukan hanya petarung yang datang untuk mengisi slot. Ia datang sebagai veteran regional yang akhirnya mendapat kesempatan menunjukkan dirinya di lingkungan UFC secara langsung. Ada nuansa lapar dan sabar sekaligus di sana: ia bukan prospek mentah, melainkan petarung yang sudah menunggu cukup lama untuk panggung seperti ini.

Di TUF 31, Rico mencatat salah satu kemenangan terpenting dalam hidupnya saat mengalahkan Hunter Azure lewat KO/TKO ronde kedua. Beberapa sumber sama-sama mencatat hasil itu dengan jelas. Kemenangan ini sangat penting karena memperlihatkan bahwa Rico tidak hanya hadir untuk menjadi bagian dari acara, tetapi benar-benar bisa menghasilkan momen besar di bawah tekanan. Menang KO di panggung TUF selalu punya nilai emosional tinggi, karena itu berarti seorang petarung mampu mengubah peluang televisi menjadi bukti nyata di dalam kandang.

Namun seperti banyak kisah petarung lain, jalannya tidak sepenuhnya mulus. Setelah menang atas Hunter Azure, Rico kemudian kalah dari Cody Gibson lewat arm-triangle choke di TUF 31. Hasil ini juga tercatat di beberapa sumber. Kekalahan itu menunjukkan bahwa meskipun Rico punya striking yang kuat, level kompetisi di TUF dan UFC menuntut lebih dari sekadar satu kekuatan utama. Ia dipaksa menghadapi lawan yang bisa membawa pertarungan ke area yang lebih rumit, dan itu menjadi bagian penting dari pembentukan kariernya.

Justru di situlah kisah Rico DiSciullo terasa hidup. Ia bukan petarung yang datang dengan jalur sempurna. Ia sempat gagal di Contender Series, lalu kembali lewat TUF, menang dengan KO, kemudian kalah lagi di fase berikutnya. Dalam MMA, jalur seperti ini sering kali lebih berbobot daripada cerita yang terlalu mulus. Ia memperlihatkan satu hal yang sangat penting: kemampuan untuk tetap bertahan dalam permainan meski pintu tidak langsung terbuka pada percobaan pertama.

Dari sisi gaya, Rico tetap mudah dikenali. Ia adalah petarung orthodox, dengan latar Muay Thai, nyaman bertukar di atas kaki, dan punya naluri penyelesaian yang cukup nyata. Statistik menunjukkan proporsi kemenangan KO/TKO dan submission yang seimbang untuk ukuran striker, sementara Sherdog menegaskan bahwa ia juga cukup mampu menutup laga lewat grappling. Ini membuatnya menarik, karena ia tidak sekadar “petarung stand-up.” Ia tetap punya lapisan lain dalam permainannya, meski identitas utamanya selalu kembali pada striking.

Aspek lain yang memberi warna pada kisahnya adalah usianya. Lahir pada 1986 berarti Rico bukan petarung yang masuk ke panggung UFC dalam usia sangat muda. Justru sebaliknya, ia datang sebagai petarung yang lebih matang, lebih teruji, dan mungkin juga lebih sadar bahwa setiap peluang besar tidak datang berkali-kali. Itu membuat narasinya berbeda dari banyak prospek lain. Ia bukan mengejar masa depan yang jauh, tetapi berusaha memaksimalkan jendela yang ada di depan matanya sekarang. Dalam olahraga seperti MMA, jenis urgensi seperti ini sering membuat cerita seorang petarung terasa lebih dalam.

Kalau berbicara soal prestasi, Rico DiSciullo memang belum dikenal sebagai nama besar divisi bantamweight UFC. Namun fondasi kariernya tetap layak dihargai. Ia membangun rekor profesional 11-3, merebut sabuk di level regional, sempat menembus Dana White’s Contender Series, lalu tampil di The Ultimate Fighter 31 dan akhirnya resmi masuk ke ekosistem UFC. Untuk petarung yang menempuh jalur panjang dari regional New England menuju panggung global, itu bukan pencapaian kecil.

Pada akhirnya, Rico DiSciullo adalah kisah tentang petarung yang tidak berhenti setelah pintu pertama tertutup. Ia lahir di Cambridge, Massachusetts, pada 12 Oktober 1986, tumbuh sebagai striker orthodox dengan akar Muay Thai, lalu meniti jalan panjang lewat regional, Contender Series, dan akhirnya The Ultimate Fighter 31. Rekornya 11 kemenangan dan 3 kekalahan, julukannya “Glory to God,” dan warisannya dibangun bukan dari jalan yang mudah, melainkan dari kemauan untuk terus datang lagi sampai akhirnya sorotan itu benar-benar tiba.

(PR/timKB).

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...