Josiah Harrell: Kisah “The Muscle Hamster”, Petarung UFC

Piter Rudai 05/06/2026 4 min read
Josiah Harrell: Kisah “The Muscle Hamster”, Petarung UFC

Jakarta – Di dunia MMA, ada petarung yang membangun nama lewat gelar, ada yang melejit karena hype, dan ada pula yang justru menjadi menarik karena kisah hidupnya terasa lebih besar daripada sekadar hasil pertandingan. Josiah Harrell termasuk dalam kelompok terakhir itu. Ia lahir pada 13 November 1998 di Grove City, Ohio, Amerika Serikat, dan kini dikenal sebagai petarung welterweight UFC dengan julukan “The Muscle Hamster.” Data terbaru dari UFC menempatkannya dengan tinggi sekitar 170 cm, berat tanding 171 lbs / 77,5 kg, dan rekor profesional 11 kemenangan serta 1 kekalahan. Tim yang tercatat untuknya saat ini adalah Grove City BJJ Academy.

Yang membuat kisah Josiah Harrell begitu menarik sejak awal adalah bahwa kariernya bukan sekadar soal menang dan kalah. Ia sempat dijadwalkan menjalani debut UFC pada UFC 290 melawan Jack Della Maddalena, tetapi pertarungan itu batal. Belakangan terungkap bahwa ia didiagnosis menderita moyamoya disease, kondisi langka pada pembuluh darah otak, setelah pemeriksaan medis pra-pertandingan. Beberapa sumber menulis bahwa temuan itu menghentikan langkahnya ke UFC untuk sementara dan memaksanya menjalani operasi otak sebelum bisa kembali bertarung.

Di situlah Josiah Harrell mulai menjadi lebih dari sekadar petarung prospektif. Banyak atlet akan runtuh secara mental setelah momen seperti itu. Harrell justru memilih bangkit. Sebuah sumber menulis bahwa setelah operasi pada 2024, ia kembali bertarung dan membangun comeback yang luar biasa, termasuk merebut gelar welterweight di Ohio Combat League dan mengumpulkan kemenangan tambahan sampai rekornya mencapai 11-0 sebelum debut UFC yang sebenarnya akhirnya datang. Dalam olahraga tarung, kisah seperti ini sangat langka. Ia bukan hanya berjuang melawan lawan di kandang, tetapi sempat harus melawan ancaman yang jauh lebih besar terhadap karier dan hidupnya sendiri.

Kalau melihat profil tekniknya, Josiah Harrell juga bukan petarung yang hidup dari satu pola sederhana. Sebuah sumber tentang laga comeback-nya menulis bahwa sebagian besar kemenangannya datang lewat knockout atau submission, dengan hanya satu kemenangan yang tidak berakhir finis. Ini sangat cocok dengan citra Harrell sebagai petarung welterweight modern: punya dasar grappling kuat, tetapi tetap agresif dan sanggup menyelesaikan pertarungan dengan striking ketika peluang datang.

Salah satu bagian paling penting dalam perjalanan kariernya sebelum UFC datang saat ia kembali aktif di sirkuit regional setelah masa pemulihan. Tapology menampilkan pertarungan melawan Bekmyrza Dosmatov di LFA 224, sementara sebuah sumber menulis bahwa salah satu kemenangan comeback pentingnya adalah knockout atas Bekmyrza Dosmatov pada event LFA di Januari 2025. Detail ini sangat berarti, karena menunjukkan bahwa Harrell tidak hanya kembali bertarung setelah operasi, tetapi kembali dengan kualitas yang tetap tinggi. Ia bukan sekadar “survivor.” Ia kembali sebagai petarung yang masih berbahaya.

Momen besar yang akhirnya benar-benar membawanya ke UFC datang pada 21 Februari 2026 di UFC Fight Night: Strickland vs. Hernandez di Houston. Harrell masuk sebagai pengganti mendadak untuk menghadapi prospek tak terkalahkan lain, Jacobe Smith. Sebuah informasi menulis bahwa laga itu menjadi debut UFC yang sangat dinanti karena datang hampir tiga tahun setelah ia pertama kali dijadwalkan bertarung di organisasi tersebut. Ini membuat pertarungan itu terasa lebih besar daripada sekadar duel dua atlet muda. Itu adalah puncak dari perjalanan pulang seorang petarung yang hampir kehilangan segalanya.

Sayangnya, malam besar itu tidak berakhir manis. Laporan resmi UFC dan sumber lain sama-sama mencatat bahwa Jacobe Smith mengalahkan Josiah Harrell lewat KO/TKO ronde pertama, setelah membalikkan posisi ketika Harrell sempat mencetak takedown di awal laga. Sumber lain bahkan menyorot betapa brutal ground-and-pound penutup dari Smith pada laga itu. Kekalahan tersebut menjadi kekalahan pertama dalam karier profesional Harrell, mengubah rekornya menjadi 11-1.

Namun justru dari sana, narasi Josiah Harrell terasa semakin kuat. Banyak petarung bisa membangun rekor tak terkalahkan di panggung regional. Tidak semua petarung bisa tetap menjadi sosok yang relevan setelah kalah di debut UFC, apalagi ketika debut itu datang sesudah perjalanan hidup yang begitu berat. Pada Harrell, kekalahan itu tidak menghapus esensi dari kisahnya. Ia tetap menjadi petarung yang telah membuktikan ketahanan luar biasa, baik secara fisik maupun mental. Ia sudah sampai ke panggung yang sempat nyaris hilang dari hidupnya. Itu sendiri adalah pencapaian yang sangat besar.

Dari sisi teknik, Josiah Harrell masih sangat menarik untuk diikuti. Basis wrestling yang kuat membuatnya berbahaya dalam transisi dan scramble, sementara kemampuan finishing-nya menunjukkan bahwa ia bukan tipe grappler pasif yang hanya ingin mencuri ronde. Ia seperti petarung yang nyaman hidup di area benturan: bisa menekan, bisa menarik lawan ke permainan bawah, dan tetap cukup agresif untuk menciptakan akhir laga. Dengan usia yang masih relatif muda untuk kelas welterweight, ia masih punya ruang besar untuk berkembang.

Aspek yang paling membuat Josiah Harrell berbeda adalah sisi manusianya. Ia bukan hanya petarung Ohio yang menembus UFC. Ia adalah orang yang sempat didiagnosis dengan penyakit langka, menjalani operasi besar, lalu tetap memilih kembali ke kandang dan mengejar mimpi yang sama. Dalam dunia MMA yang sering hanya mengingat hasil, kisah seperti ini memberi makna yang jauh lebih dalam.

Kalau berbicara soal prestasi, mungkin Josiah Harrell belum memiliki kemenangan di UFC. Namun fondasinya sudah sangat layak dihargai. Ia mencatat rekor profesional 11-1, pernah masuk ke UFC sebagai prospek tak terkalahkan, memenangkan sabuk regional setelah comeback medis yang luar biasa, dan tetap dianggap cukup menjanjikan untuk masuk ke kartu utama UFC Houston. Itu bukan perjalanan kecil. Itu adalah perjalanan yang menunjukkan kualitas, keberanian, dan tekad.

Pada akhirnya, Josiah Harrell adalah kisah tentang petarung yang menolak menerima akhir yang dituliskan terlalu cepat untuknya. Ia lahir di Grove City pada 13 November 1998, tumbuh sebagai atlet dengan dasar grappling yang kuat, lalu berubah menjadi welterweight berbahaya dengan naluri penyelesaian yang tinggi. Julukannya, “The Muscle Hamster,” mungkin terdengar ringan, tetapi kisah hidupnya sama sekali tidak ringan. Ia adalah salah satu contoh paling nyata bahwa dalam MMA, kekuatan terbesar seorang petarung kadang bukan pukulannya, bukan submission-nya, melainkan kemampuannya untuk bangkit ketika hidup sendiri mencoba menjatuhkannya.

(PR/timKB).

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Berita Lainnya

Loading next article...