Xiao Long: Petarung Di Panggung UFC

Piter Rudai 07/06/2026 5 min read
Xiao Long: Petarung Di Panggung UFC

Jakarta – Di dunia MMA, ada petarung yang datang ke UFC sebagai sensasi instan, dan ada pula yang menapaki jalannya lewat pertarungan panjang, pengalaman pahit, lalu kemenangan yang harus direbut sedikit demi sedikit. Xiao Long termasuk dalam kelompok kedua. Ia adalah petarung asal Tiongkok yang lahir pada 13 April 1998 di Beijing, dan kini dikenal sebagai salah satu nama dari China yang pernah menembus divisi bantamweight UFC. Profil resmi UFC menempatkannya sebagai atlet bantamweight asal China dan data UFC Stats mencatat rekornya saat ini di angka 27 kemenangan dan 11 kekalahan.

Xiao Long memang merupakan petarung bantamweight dengan gaya bertarung yang berakar pada striking agresif, dan jejak kariernya juga menunjukkan bahwa ia bukan hanya mengandalkan pukulan semata. Data UFC Stats mencatat rekornya 27-11-0, sementara basis data publik lain menampilkan bahwa ia punya reputasi sebagai petarung yang cukup tahan banting dan belum pernah kalah lewat finis dalam kiprah UFC-nya sejauh ini. Ini memberi gambaran tentang petarung yang nyaman bertarung keras, tetap berdiri, dan memaksa lawan bekerja penuh selama tiga ronde.

Yang membuat kisah Xiao Long menarik adalah bahwa ia tidak datang ke UFC sebagai nama yang benar-benar baru. Sebelum menembus promosi utama, ia sudah punya jam terbang yang panjang di Asia, termasuk tampil di ajang Road to UFC dan bahkan sempat mencoba jalur Dana White’s Contender Series pada 2021, meski saat itu belum berhasil mendapatkan kontrak. Artikel resmi UFC berjudul “Xiao Long: I Am A Savage” menulis dengan jelas bahwa ia pernah tampil di Contender Series, gagal, lalu kembali membangun jalannya sampai akhirnya mendapatkan panggung lebih besar. Kisah ini penting, karena menunjukkan bahwa Xiao Long bukan petarung yang langsung lolos pada percobaan pertama. Ia harus kembali, memperbaiki diri, dan datang lagi.

Perjalanan itu menemukan bentuk yang lebih nyata saat ia tampil di Road to UFC Season 2. ESPN mencatat bahwa pada 27 Agustus 2023, Xiao Long mengalahkan Shohei Kamikubo lewat majority decision. Kemenangan ini sangat penting karena menjadi salah satu hasil yang mendorong namanya semakin dekat ke UFC. Ia tidak menang lewat ledakan cepat, tetapi lewat pertarungan rapat yang menuntut kedewasaan, ritme, dan ketahanan. Bagi petarung yang sedang berusaha menembus level tertinggi, kemenangan seperti ini sering lebih bernilai daripada sekadar menang mudah.

Namun, seperti banyak petarung lain, jalannya tetap tidak sepenuhnya lurus. Pada 22 Juni 2024, Xiao Long menghadapi ChangHo Lee di final Road to UFC, dan ESPN mencatat bahwa ia kalah lewat split decision. Artikel resmi UFC tentang ChangHo Lee juga menegaskan bahwa pertarungan melawan Xiao Long adalah final bantamweight Road to UFC musim kedua. Kekalahan tipis seperti ini sering kali paling menyakitkan, karena artinya jarak dengan kemenangan sangat dekat. Tetapi justru dari situlah nilai seorang petarung sering terlihat: apakah ia tenggelam, atau justru menjadikan kegagalan itu sebagai bahan bakar.

Jawaban Xiao Long datang beberapa bulan kemudian. Pada 23 November 2024, beberapa sumber mencatat bahwa ia mengalahkan Quang Le lewat KO/TKO ronde ketiga pada 1:28 di UFC Fight Night: Yan vs. Figueiredo. Inilah salah satu momen paling penting dalam kariernya, karena kemenangan itu menjadi penegasan bahwa ia tidak hanya cukup bagus untuk sampai ke UFC, tetapi juga cukup berbahaya untuk mencetak penyelesaian di panggung utama. Menang KO di level itu memberi pesan yang sangat jelas: Xiao Long bukan sekadar petarung pengisi roster, melainkan lawan yang bisa menghukum siapa pun bila diberi ruang.

Kemenangan atas Quang Le juga memberi warna kuat pada identitas bertarungnya. Jika sebelumnya ia lebih sering dibaca sebagai petarung China dengan gaya agresif dan pengalaman panjang, maka hasil itu menambah satu lapisan penting: ia bisa menghadirkan momen penentu di panggung besar. Beberapa sumber analitik publik bahkan menyorot bahwa seluruh kemenangan UFC-nya sejauh ini datang lewat KO/TKO, sesuatu yang membuat profilnya di bantamweight terasa semakin menarik. Ia mungkin tidak selalu mendominasi, tetapi ketika momentum datang, ia tahu cara menutup pertarungan dengan tegas.

Tetapi lagi-lagi, jalan Xiao Long tidak dibangun dari stabilitas yang nyaman. Pada 23 Agustus 2025, ia menghadapi Su Young You di UFC Shanghai, dan hasil resminya adalah kekalahan unanimous decision. Halaman skor resmi UFC untuk event tersebut menampilkan keputusan juri dengan jelas, sementara beberapa sumber lain  juga mencatat hasil yang sama. Kekalahan ini memperlihatkan bahwa setelah satu kemenangan penting, ia tetap harus bergulat dengan realitas keras divisi bantamweight: satu malam bagus tidak otomatis berarti segalanya akan menjadi mudah setelah itu.

Ujian berikutnya datang pada 7 Maret 2026 di UFC 326, ketika Xiao Long menghadapi mantan juara Cody Garbrandt. Lagi-lagi, hasilnya tidak berpihak padanya. UFC 326, beberapa sumber lain dan UFC Stats sama-sama mencatat bahwa Xiao Long kalah lewat unanimous decision setelah tiga ronde. Kekalahan dari nama sekelas Garbrandt memang bukan aib, tetapi tetap menjadi tanda bahwa Xiao Long masih berada di fase ketika ia harus terus membuktikan dirinya di level teratas. Ia cukup tangguh untuk bertahan sampai akhir melawan lawan berpengalaman, tetapi belum cukup untuk membalikkan pertarungan menjadi miliknya.

Dari seluruh perjalanan ini, ada satu pola yang cukup jelas tentang Xiao Long. Ia adalah petarung yang berani, cukup agresif, dan punya daya rusak yang nyata, tetapi juga masih menghadapi tantangan dalam konsistensi melawan lawan dengan pengalaman dan disiplin taktik tinggi. Ia sempat gagal di Contender Series, bangkit lewat Road to UFC, menang KO di UFC, lalu kembali diuji oleh nama-nama berat. Ini membuat kisahnya terasa jauh lebih hidup daripada sekadar angka menang-kalah. Xiao Long tidak pernah benar-benar datang dari jalan yang mudah.

Aspek lain yang membuatnya menarik adalah posisinya dalam lanskap MMA Tiongkok. Ia bukan nama sebesar beberapa petarung China lain yang datang dengan promosi besar, tetapi justru karena itu ia terasa seperti representasi petarung yang benar-benar harus mengerjakan semuanya sendiri. Profil UFC dan beberapa sumber menunjukkan bahwa ia sudah bertarung cukup lama dan punya banyak pengalaman sebelum mencapai panggung ini. Petarung seperti ini sering tidak terlalu glamor, tetapi justru membawa daya tarik karena mereka terlihat nyata: ada keberanian, ada luka, ada fase naik dan turun, dan semua itu terbaca jelas dalam karier mereka.

Kalau berbicara soal prestasi, mungkin Xiao Long belum menjadi penantang utama atau nama elite di bantamweight UFC. Namun fondasinya tetap layak dihargai. Ia punya rekor profesional 27-11, berhasil menembus UFC setelah melewati jalur Road to UFC, mencetak kemenangan KO atas Quang Le, dan sudah menguji dirinya melawan nama seperti Cody Garbrandt. Untuk petarung yang datang dari jalur panjang dan tidak mudah, itu adalah pencapaian yang cukup berarti.

Pada akhirnya, Xiao Long adalah kisah tentang petarung Tiongkok yang terus menekan maju meski jalannya tidak pernah benar-benar lurus. Ia lahir di Beijing pada 13 April 1998, bertarung di bantamweight UFC, datang dengan gaya striking yang agresif, dan membawa pengalaman panjang yang membuatnya sulit dipandang remeh.

(PR/timKB).

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...