Jakarta – Dunia sepak bola sering kali didominasi oleh perdebatan mengenai kehebatan Pelé, Diego Maradona, atau Lionel Messi. Namun, di antara jajaran megabintang yang menghiasi sejarah lapangan hijau, terdapat satu nama dari pesisir Pasifik yang kehebatannya diakui langsung oleh sang Raja Sepak Bola, Pelé. Nama itu adalah Teofilo Cubillas. Dikenal dengan julukan “El Nene” (Sang Bocah), Cubillas bukan sekadar pahlawan olahraga bagi masyarakat Peru, melainkan sebuah simbol keanggunan, ketajaman, dan sportivitas yang jarang tandingannya di era modern. Sebagai gelandang serang dengan naluri mencetak gol yang luar biasa, ia berhasil membawa Peru ke panggung tertinggi dunia dan mengukir namanya dalam tinta emas sejarah Piala Dunia.
Kelahiran dan Masa Kecil di Puente Piedra
Teofilo Juan Cubillas Arizaga lahir pada tanggal 8 Maret 1949. Ia dilahirkan di Puente Piedra, sebuah distrik yang terletak di bagian utara Lima, ibu kota Peru. Tumbuh dalam lingkungan yang sederhana, Cubillas kecil menghabiskan sebagian besar waktunya di jalanan berdebu Puente Piedra, bermain sepak bola dengan bola apa adanya bersama teman-teman sebayanya. Di sinilah, di antara gang-gang sempit dan lapangan tanah, bakat alamiahnya mulai terasah.
Sejak usia dini, Cubillas sudah menunjukkan kontrol bola yang luar biasa, visi bermain yang melampaui usianya, dan tendangan bebas yang mematikan. Julukan “El Nene” melekat padanya bukan hanya karena ia memulai karier profesionalnya di usia yang sangat muda, tetapi juga karena wajahnya yang ramah, senyumnya yang polos, dan pembawaannya yang santun di dalam maupun di luar lapangan. Bakat besarnya ini segera menarik perhatian para pemandu bakat lokal, yang menyadari bahwa bocah lelaki dari Puente Piedra ini ditakdirkan untuk sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar kompetisi antar-kampung.
Awal Perjalanan Karier: Bersama Alianza Lima
Perjalanan karier profesional Cubillas dimulai ketika ia bergabung dengan tim remaja Alianza Lima, salah satu klub paling bersejarah dan populer di Peru. Pada tahun 1966, dalam usia yang masih sangat muda, yaitu 17 tahun, Cubillas melakukan debutnya di tim utama Alianza Lima. Dampak yang ia berikan sangat instan dan luar biasa. Di musim pertamanya, ia langsung menjadi pencetak gol terbanyak di Liga Peru dengan torehan 19 gol. Fenomena ini mengejutkan publik sepak bola Peru yang saat itu sedang mencari sosok idola baru.
Bersama Alianza Lima, Cubillas berkembang menjadi gelandang serang modern. Ia tidak hanya bertugas mengalirkan bola atau mengatur ritme permainan, tetapi juga sering kali muncul dari lini kedua untuk mencetak gol-gol krusial. Pada tahun 1970, ia kembali menjadi top skor liga. Gaya bermainnya yang elegan, dikombinasikan dengan kemampuan mengeksekusi bola mati dengan teknik melengkung yang khas, membuatnya menjadi pemain yang paling ditakuti oleh lini pertahanan lawan di seluruh Amerika Selatan.
Panggung Dunia: Keajaiban Piala Dunia 1970 dan 1978
Nama Teofilo Cubillas benar-benar meledak di panggung internasional pada Piala Dunia 1970 yang digelar di Meksiko. Ini adalah penampilan pertama Peru di Piala Dunia setelah absen selama 40 tahun. Di turnamen ini, Cubillas memimpin generasi emas Peru yang bermain dengan gaya menyerang yang indah dan menghibur. Peru berhasil melaju hingga babak perempat final sebelum akhirnya ditumbangkan oleh Brasil yang diperkuat oleh Pelé dalam salah satu pertandingan paling dramatis dalam sejarah Piala Dunia yang berakhir dengan skor 4-2.
Cubillas mencetak gol di setiap pertandingan yang dimainkan Peru di Meksiko 1970, dengan total lima gol. Penampilannya yang memukau membuatnya dianugerahi penghargaan Pemain Muda Terbaik Piala Dunia 1970. Bahkan, Pelé sendiri secara terbuka menyatakan, “Jangan khawatir, saya sudah memiliki penerus, dan namanya adalah Teofilo Cubillas.”
Setelah absen pada Piala Dunia 1974, Cubillas kembali membawa Peru ke panggung dunia pada Piala Dunia 1978 di Argentina. Di turnamen ini, ia kembali menunjukkan sihirnya. Salah satu momen paling ikonik dalam kariernya terjadi saat melawan Skotlandia, di mana ia mencetak gol melalui tendangan bebas luar biasa menggunakan bagian luar kakinya yang bersarang telak di pojok atas gawang. Peru berhasil menembus babak kedua, dan Cubillas kembali mencetak lima gol sepanjang turnamen. Keberhasilan mencetak masing-masing lima gol dalam dua edisi Piala Dunia yang berbeda adalah rekor langka yang menempatkannya sejajar dengan para legenda terbesar jagat raya.
Kejayaan di Copa América 1975
Sebelum pembuktian keduanya di Piala Dunia 1978, Cubillas mempersembahkan pencapaian tertinggi bagi negaranya di tingkat regional. Pada tahun 1975, ia memimpin tim nasional Peru menjuarai Copa América, turnamen sepak bola paling bergengsi di Amerika Selatan. Dalam perjalanannya, Peru harus menghadapi tim-tim raksasa seperti Brasil dan Kolombia.
Di babak semifinal melawan Brasil, Cubillas mencetak gol ikonik lewat tendangan bebas yang disebut-sebut sebagai salah satu yang terbaik dalam sejarah sepak bola Peru, membantu timnya menang 3-1 di kandang Brasil. Di babak final yang berlangsung ketat melawan Kolombia, kepemimpinan dan ketenangan Cubillas menjadi kunci penentu kemenangan Peru. Ia dinobatkan sebagai Pemain Terbaik Turnamen tersebut, menegaskan statusnya sebagai pemain terbaik di benua Amerika Selatan pada masa itu.
Merantau ke Eropa dan Petualangan di Amerika Utara
Keberhasilan di tingkat internasional membuka jalan bagi Cubillas untuk berkarier di luar negeri. Pada tahun 1973, ia memutuskan untuk merantau ke Eropa dan bergabung dengan klub Swiss, FC Basel. Meskipun hanya bertahan satu musim karena masalah adaptasi cuaca dan budaya, ia tetap menunjukkan kelasnya dengan membantu klub meraih performa yang solid.
Petualangan Eropa yang sesungguhnya terjadi ketika ia pindah ke Portugal untuk memperkuat FC Porto pada tahun 1974. Di Porto, Cubillas menjadi idola publik dan kapten tim. Ia mencetak 65 gol dalam 108 pertandingan bersama raksasa Portugal tersebut, sebuah statistik yang luar biasa untuk seorang pemain yang bukan penyerang murni. Bersama Porto, ia memenangkan Taça de Portugal pada tahun 1977 sebelum akhirnya memutuskan untuk kembali ke klub kecintaannya, Alianza Lima.
Memasuki akhir tahun 1970-an, gelombang sepak bola mulai tumbuh di Amerika Serikat dengan berdirinya North American Soccer League (NASL). Mengikuti jejak Pelé, Franz Beckenbauer, dan Johan Cruyff, Cubillas berhijrah ke Amerika Serikat pada tahun 1979 untuk bergabung dengan Fort Lauderdale Strikers. Di NASL, ia bermain selama lima musim dan menjadi salah satu pencetak gol terbanyak dalam sejarah klub tersebut, termasuk mencetak hat-trick dalam waktu tujuh menit yang memecahkan rekor liga.
Akhir Karier dan Warisan Abadi
Cubillas sempat pensiun dari sepak bola profesional pada pertengahan 1980-an. Namun, sebuah tragedi memilukan memanggilnya kembali ke lapangan hijau. Pada Desember 1987, pesawat yang membawa seluruh skuad utama Alianza Lima jatuh ke laut, menewaskan hampir semua pemain dan staf pelatih. Mendengar kabar duka dari klub yang membesarkannya, Cubillas yang saat itu sudah berusia 38 tahun memutuskan untuk turun gunung dari masa pensiunnya. Ia bermain kembali secara gratis untuk Alianza Lima demi membantu klub tersebut bangkit dari keterpurukan dan menyelesaikan sisa musim kompetisi. Tindakan ini semakin mengukuhkan statusnya bukan hanya sebagai legenda, tetapi juga sebagai pahlawan kemanusiaan yang dicintai tanpa syarat oleh rakyat Peru.
Secara keseluruhan, Teofilo Cubillas telah mencetak 26 gol dalam 81 penampilan untuk tim nasional Peru. Ia memegang rekor sebagai pencetak gol terbanyak Peru di Piala Dunia dengan koleksi 10 gol, menjadikannya salah satu dari sedikit gelandang dalam sejarah sepak bola yang masuk dalam daftar pencetak gol terbanyak sepanjang masa Piala Dunia. Lebih dari sekadar angka dan trofi, Cubillas dihormati karena ia tidak pernah menerima kartu merah sepanjang karier profesionalnya yang panjang, sebuah bukti nyata dari sportivitas tinggi yang ia junjung.
Teofilo Cubillas secara resmi pensiun sepenuhnya pada tahun 1989. Setelah gantung sepatu, ia aktif sebagai instruktur FIFA dan duta sepak bola global, terus menginspirasi generasi muda di seluruh dunia. Lahir di sebuah distrik kecil bernama Puente Piedra, ia berhasil melangkah sejauh mungkin hingga mengguncang dunia dengan bakatnya yang luar biasa. Hingga hari ini, nama Teofilo Cubillas tetap hidup sebagai simbol kebanggaan nasional Peru dan salah satu permata paling berkilau yang pernah dilahirkan oleh sepak bola Amerika Selatan.
(EA/timKB).
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda