Jakarta – Dalam jagat sepak bola Inggris, Merseyside Derby yang mempertemukan Everton dan Liverpool adalah salah satu persaingan paling ikonik dan sarat emosi. Namun, banyak penggemar sepak bola modern yang mungkin tidak menyadari bahwa kedua klub raksasa ini sebenarnya berasal dari satu akar yang sama. Hubungan mereka bukanlah sekadar tetangga kota, melainkan hubungan “kakak-adik” yang lahir dari sebuah drama internal, perselisihan finansial, dan sengketa tanah yang terjadi di akhir abad ke-19. Sejarah berdirinya Liverpool FC secara langsung merupakan hasil dari keretakan hubungan di dalam tubuh Everton FC, dan pusat dari seluruh drama ini adalah sebuah stadion yang kini mendunia: Anfield.
Everton: Sang Pionir di Merseyside
Kisah ini bermula pada tahun 1878. Everton Football Club didirikan dengan nama St. Domingo’s FC, sebuah klub yang awalnya dibentuk agar para anggota jemaat Gereja St. Domingo di kwsan Everton, Liverpool, dapat berolahraga sepanjang tahun, tidak hanya bermain kriket di musim panas. Setahun kemudian, namanya diubah menjadi Everton FC seiring dengan meningkatnya popularitas klub di luar lingkaran gereja.
Pada masa-masa awal, Everton adalah klub nomaden. Mereka bermain di taman-taman publik seperti Stanley Park, namun seiring dengan meningkatnya jumlah penonton, mereka membutuhkan markas yang lebih permanen dan tertutup agar bisa memungut biaya tiket. Setelah sempat berpindah-pindah, pada tahun 1884, Everton menyewa sebuah lahan di Anfield Road milik seorang pengembang lokal bernama John Orrell. Di lahan inilah stadion Anfield pertama kali dibangun untuk Everton.
Di Anfield, Everton tumbuh menjadi kekuatan besar. Mereka adalah salah satu dari dua belas anggota pendiri Football League pada tahun 1888. Puncaknya, pada musim 1890-1891, Everton berhasil menjuarai liga untuk pertama kalinya di Anfield. Saat itu, Everton adalah klub yang mapan, sukses, dan memiliki basis massa yang besar. Namun, di balik kesuksesan di lapangan, badai besar sedang merayap di ruang rapat direksi.
Sosok John Houlding dan Benih Konflik
Tokoh sentral dalam sejarah ini adalah John Houlding. Ia adalah seorang pengusaha sukses, pemilik pabrik bir, dan kelak menjadi Wali Kota Liverpool. Houlding adalah presiden Everton sekaligus orang yang menyewa lahan Anfield dari John Orrell untuk kemudian disewakan kembali kepada klub. Ketika Orrell berniat menjual lahan tersebut, Houlding membelinya secara pribadi pada tahun 1885.
Sejak saat itu, Houlding menjadi tuan tanah sekaligus presiden klub. Awalnya, hubungan ini saling menguntungkan. Namun, seiring berjalannya waktu, para anggota dewan direksi Everton lainnya mulai merasa curiga dan tidak nyaman dengan pengaruh Houlding yang terlalu dominan. Mereka menganggap Houlding menggunakan Everton sebagai alat untuk kepentingan bisnis pribadinya.
Ada beberapa poin gesekan yang memicu api perselisihan. Pertama, Houlding mewajibkan Everton untuk hanya menjual produk bir dari pabrik miliknya di area stadion. Kedua, ia meminta para pemain Everton menggunakan pub miliknya, Sandon Hotel, sebagai ruang ganti sebelum dan sesudah pertandingan. Bagi para direktur yang memiliki pandangan berbeda (banyak di antaranya adalah penganut gerakan “teetotalism” atau anti-alkohol), keterikatan klub dengan bisnis bir Houlding dianggap merusak citra klub.
Puncak Sengketa: Kenaikan Sewa Stadion
Perselisihan mencapai titik didih ketika masalah uang masuk ke meja perundingan. Setelah memenangkan liga pada tahun 1891, Houlding mengusulkan agar Everton meningkatkan pembayaran sewa tahunan Anfield. Harga sewa yang awalnya sekitar 100 poundsterling diusulkan naik menjadi 250 poundsterling per tahun.
Houlding beralasan bahwa kenaikan itu wajar mengingat kesuksesan klub dan investasi yang telah ia keluarkan untuk mengembangkan infrastruktur stadion. Namun, direksi Everton melihat ini sebagai bentuk pemerasan. Mereka merasa Houlding mencoba mencari keuntungan pribadi yang berlebihan dari klub yang mereka bangun bersama. Mereka berargumen bahwa sebagai presiden, Houlding seharusnya mendukung stabilitas finansial klub, bukan malah membebaninya dengan biaya sewa yang mencekik.
Situasi semakin memanas ketika John Orrell, pemilik lahan di samping Anfield, menuntut hak jalan di atas tanah tersebut. Houlding mengusulkan agar Everton membeli seluruh lahan (milik Houlding dan Orrell) untuk membentuk sebuah perusahaan terbatas. Namun, direksi Everton menolak mentah-mentah proposal tersebut. Mereka merasa skema yang ditawarkan Houlding akan memberikan kontrol mutlak kepadanya dan menghapus demokrasi di dalam klub.
Perpecahan dan Lahirnya Tetangga Baru
Pada Maret 1892, sebuah pertemuan umum diadakan untuk menentukan masa depan klub. Dalam suasana yang penuh ketegangan, mayoritas anggota klub memberikan suara untuk meninggalkan Houlding dan meninggalkan Anfield. Everton FC, sang juara liga, memutuskan untuk pindah ke sisi lain Stanley Park dan membangun stadion baru yang bernama Goodison Park.
Kejadian ini meninggalkan John Houlding dalam posisi yang sulit. Ia memiliki stadion kelas satu, Anfield, lengkap dengan tribun dan fasilitas pendukungnya, namun ia tidak memiliki tim untuk bermain di sana. Ia sempat mencoba mempertahankan nama “Everton” dan mendaftarkan perusahaan bernama “Everton Football Club and Athletic Grounds Company Limited”, namun otoritas sepak bola Inggris (The FA) menolak permohonan tersebut karena nama Everton sudah menjadi hak milik klub yang pindah ke Goodison Park.
Houlding tidak menyerah. Pada tanggal 15 Maret 1892, ia memutuskan untuk mendirikan klub baru untuk mengisi kekosongan di Anfield. Klub itu diberi nama Liverpool Football Club. Awalnya, ia ingin menamainya “Everton Athletic”, namun karena penolakan FA tadi, ia menggunakan nama kota tersebut. Inilah momen kelahiran Liverpool FC—sebuah klub yang lahir bukan karena aspirasi komunitas tradisional sejak awal, melainkan sebagai respons pragmatis atas sengketa sewa stadion.
Awal Persaingan: Merah dan Biru
Menariknya, pada awalnya Liverpool FC mengenakan warna yang hampir serupa dengan Everton, yaitu biru dan putih. Baru pada tahun 1894, di bawah pengaruh manajer John McKenna, Liverpool mengadopsi warna merah sebagai identitas utama mereka untuk membedakan diri secara total dari sang tetangga.
Klub baru Houlding memulai perjalanannya dari bawah, bermain di Lancashire League sebelum akhirnya masuk ke Football League. Sementara itu, Everton terus berkembang di Goodison Park, yang saat itu dianggap sebagai stadion paling modern di Inggris. Perselisihan antara Houlding dan para mantan rekannya di Everton menciptakan jurang pemisah yang dalam di kota Liverpool. Pendukung kota terbagi dua: mereka yang setia pada identitas klub (Everton) dan mereka yang tetap tinggal mendukung klub di stadion lama (Liverpool).
Rivalitas ini pada mulanya sangat pahit karena luka perpisahan yang masih basah. Namun, sejarah membuktikan bahwa perselisihan sewa stadion ini justru menjadi berkah bagi sepak bola Inggris. Liverpool, di bawah kepemimpinan Houlding dan visi McKenna, tumbuh sangat cepat. Dalam waktu kurang dari sepuluh tahun setelah berdiri, Liverpool berhasil menjuarai Liga Inggris pertamanya pada musim 1900-1901.
Warisan dari Sebuah Perselisihan
Anfield, yang awalnya merupakan rumah bagi kejayaan pertama Everton, bertransformasi menjadi benteng keramat bagi Liverpool FC. Sebaliknya, Goodison Park berdiri tegak sebagai simbol kemandirian dan prinsip para pendiri Everton yang menolak didikte oleh kepentingan bisnis pribadi.
Kini, lebih dari 130 tahun sejak perselisihan itu terjadi, Merseyside Derby tetap menjadi salah satu pertandingan paling dinantikan. Meski atmosfernya kompetitif, rivalitas ini sering disebut sebagai “The Friendly Derby” karena banyak keluarga di Liverpool yang anggotanya terbagi antara pendukung Merah dan Biru. Namun, di balik keakraban tersebut, ada sejarah tentang keras kepala, prinsip ekonomi, dan sengketa tanah yang mengubah peta kekuatan sepak bola dunia.
Tanpa keserakahan—atau visi bisnis—John Houlding, Liverpool FC mungkin tidak akan pernah ada. Dan tanpa keteguhan hati para direktur Everton untuk mempertahankan kedaulatan klub, mereka mungkin tidak akan pernah membangun Goodison Park. Konflik sewa stadion Anfield bukan sekadar catatan kaki dalam sejarah, melainkan peristiwa besar yang menciptakan dua raksasa dari satu benih yang sama, selamanya mengubah wajah kota Liverpool dan sejarah sepak bola internasional.
(EA/timKB).
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda