Roman Dolidze: Petarung Georgia Di Divisi Middleweight UFC

Piter Rudai 19/07/2026 4 min read
Roman Dolidze: Petarung Georgia Di Divisi Middleweight UFC

Jakarta – Di antara para petarung elite divisi middleweight UFC, Roman Dolidze dikenal sebagai sosok yang mampu memadukan kekuatan fisik, kemampuan striking, dan grappling dalam satu paket yang lengkap. Petarung asal Georgia ini tidak hanya mengandalkan pukulan keras untuk meraih kemenangan, tetapi juga memiliki kemampuan Brazilian Jiu-Jitsu yang membuatnya berbahaya di semua area pertarungan. Berkat gaya bertarung agresif dan mental pantang menyerah, Dolidze terus membangun reputasinya sebagai salah satu penantang serius di divisi middleweight UFC.

Roman Dolidze lahir pada 15 Juli 1988 di Batumi, Georgia. Ia memiliki tinggi sekitar 188 sentimeter dengan berat bertanding 84 kilogram di divisi middleweight. Sebelum terjun ke dunia MMA, Dolidze telah mengenal berbagai cabang olahraga sejak usia muda. Ia sempat menekuni sepak bola dan sambo, dua olahraga yang sangat populer di kawasan Eropa Timur. Ketertarikannya terhadap seni bela diri semakin berkembang ketika ia mulai mempelajari Brazilian Jiu-Jitsu. Bakatnya berkembang pesat hingga berhasil meraih sabuk hitam Brazilian Jiu-Jitsu, sebuah pencapaian yang menjadi fondasi penting dalam perjalanan kariernya sebagai petarung profesional.

Sejak muda, Dolidze dikenal memiliki postur atletis dan kekuatan fisik yang luar biasa. Namun ia menyadari bahwa kekuatan saja tidak cukup untuk bersaing di level tertinggi. Karena itu, ia mulai mempelajari berbagai disiplin bela diri, termasuk gulat, tinju, Muay Thai, dan sambo. Kombinasi berbagai teknik tersebut membuat permainannya menjadi semakin lengkap dan sulit ditebak lawan.

Karier profesional MMA dimulai pada 2016. Bertarung di berbagai organisasi regional Eropa dan Asia, Dolidze dengan cepat menunjukkan potensinya sebagai petarung yang mampu menyelesaikan pertandingan melalui knockout maupun submission. Rekor kemenangan beruntun yang ia bangun menarik perhatian organisasi besar, termasuk Cage Warriors dan kemudian UFC. Sebelum bergabung dengan UFC, ia juga sempat meraih gelar juara di organisasi WWFC (World Warriors Fighting Championship) yang semakin mengukuhkan reputasinya sebagai salah satu prospek terbaik dari Georgia.

Kesempatan bergabung dengan UFC akhirnya datang pada 2020. Debutnya berlangsung pada 18 Juli 2020 melawan Khadis Ibragimov dalam ajang UFC Fight Night. Dolidze langsung mencuri perhatian dengan kemenangan melalui TKO pada ronde pertama setelah mendominasi lawannya dengan kombinasi pukulan keras dan ground and pound. Debut impresif tersebut menunjukkan bahwa ia memiliki kualitas untuk bersaing di panggung MMA terbesar dunia.

Perjalanan awalnya di UFC tidak selalu berjalan mulus. Setelah mengalahkan Khadis Ibragimov dan John Allan, ia sempat mengalami kekalahan dari Trevin Giles akibat keputusan juri. Kekalahan tersebut menjadi pelajaran penting yang mendorongnya memperbaiki strategi bertarung, terutama dalam menjaga tempo pertandingan dan efisiensi penggunaan tenaga.

Seiring berjalannya waktu, Dolidze berkembang menjadi petarung yang jauh lebih matang. Ia meraih kemenangan penting atas Laureano Staropoli, Kyle Daukaus, dan Phil Hawes, yang memperlihatkan kemampuannya mengombinasikan striking agresif dengan kontrol grappling yang efektif. Kemenangan atas Daukaus melalui TKO menjadi salah satu penampilan terbaiknya dan memberinya penghargaan Performance of the Night.

Nama Dolidze semakin diperhitungkan ketika berhasil mengalahkan Jack Hermansson pada Desember 2022. Dalam pertandingan tersebut, ia tampil disiplin dan mampu memanfaatkan setiap peluang untuk mendominasi lawan. Kemenangan itu mengangkat posisinya di klasemen middleweight dan membuktikan bahwa ia layak bersaing dengan para petarung elite divisi tersebut.

Perjalanan menuju papan atas terus berlanjut melalui berbagai pertarungan melawan lawan berkualitas tinggi. Ia menghadapi nama-nama besar seperti Marvin Vettori, Nassourdine Imavov, dan Anthony Hernandez. Salah satu momen paling penting dalam kariernya terjadi ketika ia berhasil mengalahkan Marvin Vettori dalam pertandingan ulang pada 2026. Kemenangan tersebut menjadi salah satu hasil terbesar sepanjang karier UFC-nya dan memperkuat posisinya di jajaran sepuluh besar divisi middleweight.

Hingga pertengahan 2026, Dolidze membukukan rekor profesional 15 kemenangan dan 4 kekalahan. Angka ini merupakan pembaruan dari rekor sebelumnya dan mencerminkan perjalanan kariernya setelah beberapa pertarungan tambahan di UFC. Dari total kemenangan tersebut, 8 diraih melalui KO/TKO, 3 melalui submission, dan 4 melalui keputusan juri. Statistik tersebut menunjukkan bahwa ia bukan hanya striker eksplosif, tetapi juga petarung komplet yang mampu mengakhiri pertandingan dengan berbagai cara.

Saat ini Dolidze menjalani pemusatan latihan di Xtreme Couture di Las Vegas, salah satu gym paling bergengsi di dunia MMA. Di sana ia berlatih bersama petarung-petarung elite UFC di bawah bimbingan pelatih berpengalaman. Program latihannya mencakup striking, wrestling, Brazilian Jiu-Jitsu, strength and conditioning, hingga simulasi pertandingan dengan intensitas tinggi. Pendekatan tersebut membuat kualitas permainannya terus meningkat dari tahun ke tahun.

Gaya bertarung Dolidze merupakan perpaduan antara kekuatan dan teknik. Dalam posisi berdiri, ia mengandalkan kombinasi tinju dan tendangan yang eksplosif, sementara di ground ia memiliki kemampuan submission yang sangat baik berkat latar belakang Brazilian Jiu-Jitsu. Ia juga dikenal memiliki daya tahan fisik yang tinggi, sehingga mampu mempertahankan tekanan sepanjang pertandingan.

Filosofi bertarungnya berakar pada disiplin dan keberanian. Dolidze percaya bahwa setiap lawan dapat dikalahkan melalui persiapan yang matang dan kerja keras. Mentalitas tersebut terbentuk sejak masa mudanya di Georgia, tempat olahraga bela diri mengajarkan pentingnya rasa hormat, ketekunan, dan pantang menyerah. Baginya, kemenangan bukan hanya soal kekuatan, tetapi juga kemampuan beradaptasi terhadap situasi di dalam oktagon.

Kini Roman Dolidze tetap menjadi salah satu nama paling berbahaya di divisi middleweight UFC. Dengan pengalaman menghadapi banyak petarung elite, kemampuan striking yang eksplosif, grappling berkualitas tinggi, dan mental juang yang kuat, ia terus menjaga peluang untuk suatu hari mendapatkan kesempatan bertarung memperebutkan gelar juara dunia. “Robocop” dari Georgia ini telah membuktikan bahwa kerja keras dan kemampuan beradaptasi mampu mengantarkannya menjadi salah satu petarung paling disegani di UFC.

(PR/timKB)

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...