Jakarta – Di Thailand, Muay Thai bukan sekadar olahraga, melainkan bagian dari budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dari ribuan petarung yang tumbuh di negeri tersebut, hanya segelintir yang mampu mengukir prestasi hingga menjadi juara di stadion-stadion paling bergengsi. Salah satunya adalah Suakim Sor Jor Thongprajin, yang memiliki nama asli Chanon Meechai. Lahir pada 15 Agustus 1995 di Provinsi Chanthaburi, Thailand, Suakim tumbuh menjadi salah satu petarung Muay Thai paling disegani di generasinya. Dengan tinggi 175 sentimeter dan berat bertanding 63 kilogram di divisi bantamweight, ia dikenal berkat gaya bertarung agresif, kombinasi pukulan dan siku yang tajam, serta pengalaman panjang di arena Muay Thai elite. Setelah menaklukkan berbagai panggung domestik, Suakim membawa namanya ke ONE Championship, tempat ia kembali membuktikan kualitasnya sebagai petarung kelas dunia.
Seperti kebanyakan petarung Thailand, Suakim mengenal Muay Thai sejak usia dini. Tumbuh di lingkungan yang menjunjung tinggi tradisi bela diri nasional, ia mulai berlatih ketika masih anak-anak. Awalnya, latihan tersebut menjadi sarana membangun disiplin dan membantu perekonomian keluarga melalui hadiah pertandingan lokal. Namun, bakatnya segera terlihat. Suakim memperlihatkan keseimbangan yang baik, refleks cepat, dan keberanian menghadapi lawan yang lebih berpengalaman. Kemampuan itu terus diasah di Sor Jor Thongprajin Gym, sasana yang kemudian menjadi rumah bagi perkembangan teknik dan mental bertarungnya hingga level profesional.
Memasuki usia remaja, Suakim mulai tampil di berbagai arena Muay Thai terkenal di Thailand. Ia berkembang sebagai petarung yang mampu menggabungkan teknik klasik dengan tempo bertarung modern. Berbeda dari petarung yang hanya mengandalkan satu senjata utama, Suakim mampu menyerang dari berbagai sudut menggunakan kombinasi tendangan, pukulan, lutut, dan terutama siku yang menjadi salah satu ciri khasnya. Konsistensi tersebut mengantarkannya meraih berbagai kemenangan penting di stadion-stadion elite Thailand, hingga akhirnya mencatat prestasi yang hanya mampu diraih sedikit petarung.
Salah satu pencapaian terbesar dalam kariernya adalah keberhasilannya menjadi juara Lumpinee Stadium dalam tiga divisi berbeda. Lumpinee merupakan salah satu arena Muay Thai paling prestisius di dunia, sehingga menjadi juara di sana sudah dianggap sebagai pencapaian luar biasa. Lebih istimewa lagi, Suakim mampu meraih gelar di tiga kelas berbeda, sebuah bukti kemampuan beradaptasi terhadap berbagai tipe lawan dan perubahan kelas berat. Selain itu, ia juga pernah menyandang gelar juara Channel 7 Stadium, kompetisi bergengsi lain yang melahirkan banyak legenda Muay Thai Thailand. Prestasi tersebut mengukuhkan reputasinya sebagai salah satu petarung elite sebelum memasuki panggung internasional.
Karier Suakim memasuki babak baru ketika bergabung dengan ONE Championship, organisasi bela diri terbesar di Asia. Di bawah aturan Muay Thai ONE yang menggunakan sarung tangan kecil empat ons, gaya bertarung agresifnya justru semakin berkembang. Ia mampu memanfaatkan kecepatan tangan dan akurasi pukulan untuk menghasilkan serangan yang lebih eksplosif. Debutnya di ONE langsung menunjukkan bahwa pengalaman panjang di arena Thailand mampu diterjemahkan dengan baik ke level internasional. Menghadapi lawan-lawan elite dari berbagai negara, Suakim tetap mempertahankan identitasnya sebagai petarung yang selalu maju menekan dan tidak ragu bertukar serangan.
Seiring berjalannya waktu, Suakim semakin memperkuat posisinya di divisi bantamweight ONE Championship. Ia mencatat sejumlah kemenangan penting melalui penyelesaian cepat maupun keputusan juri. Hingga kini, rekor Suakim di ONE adalah 8 kemenangan dan 2 kekalahan, termasuk 5 kemenangan melalui KO/TKO serta 3 kemenangan lewat keputusan. Catatan tersebut memperlihatkan efektivitas gaya bertarungnya yang mampu mengakhiri laga sebelum bel berbunyi, sekaligus menunjukkan kemampuannya bertahan dalam duel penuh ketika menghadapi lawan yang tangguh.
Filosofi bertarung Suakim dibangun dari nilai-nilai tradisional Muay Thai, yaitu disiplin, keberanian, dan penghormatan terhadap lawan. Ia percaya bahwa kemenangan merupakan hasil dari latihan yang dilakukan secara konsisten, bukan semata-mata bakat alami. Karena itu, program latihannya dikenal sangat intensif. Setiap hari ia mengombinasikan latihan teknik, sparring, lari jarak jauh, penguatan fisik, serta latihan khusus untuk meningkatkan kecepatan kombinasi pukulan dan siku. Ketahanan mental juga menjadi aspek penting dalam persiapannya, mengingat ia kerap menghadapi lawan-lawan dengan gaya bertarung yang sangat berbeda di ONE Championship.
Di dalam ring, Suakim dikenal sebagai petarung yang selalu berusaha mengendalikan tempo pertandingan. Ia gemar menekan lawan sejak awal ronde, memanfaatkan jab dan low kick untuk membuka ruang sebelum melancarkan kombinasi siku atau pukulan keras dari jarak dekat. Kemampuannya membaca ritme pertandingan membuatnya mampu beradaptasi ketika duel berlangsung ketat maupun ketika harus mengejar ketertinggalan. Pengalaman bertahun-tahun di arena Lumpinee dan Channel 7 juga memberinya ketenangan dalam menghadapi tekanan, sehingga ia jarang kehilangan fokus meski berada dalam situasi sulit.
Bagi dunia Muay Thai modern, Suakim Sor Jor Thongprajin merupakan representasi petarung Thailand yang berhasil menghubungkan tradisi dengan era global. Status sebagai juara Lumpinee tiga divisi, juara Channel 7 Stadium, serta salah satu petarung paling berbahaya di divisi bantamweight ONE Championship menjadi bukti kualitasnya di level tertinggi. Meski persaingan di ONE terus berkembang dengan hadirnya talenta-talenta baru dari seluruh dunia, Suakim tetap menjadi sosok yang selalu diperhitungkan. Dengan pengalaman, teknik komplet, dan mentalitas seorang juara, Chanon Meechai terus mempertahankan namanya sebagai salah satu praktisi Muay Thai terbaik yang pernah dilahirkan Thailand.
(PR/timKB)
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda