Jakarta – Perjalanan seorang petarung menuju Ultimate Fighting Championship (UFC) tidak selalu dimulai dari ajang pencarian bakat. Sebagian besar justru menempuh jalan panjang melalui organisasi-organisasi besar lainnya sebelum akhirnya mendapat kesempatan tampil di panggung tertinggi Mixed Martial Arts (MMA). Salah satu contoh adalah Mandel Nallo, petarung asal Kanada yang lahir pada tahun 1989. Dikenal dengan julukan “Mango”, Nallo membangun reputasinya sebagai striker berbahaya sebelum akhirnya hijrah dari Bellator MMA menuju UFC. Bertarung di divisi lightweight dengan tinggi 183 sentimeter dan berat sekitar 70 kilogram, ia membawa pengalaman panjang, rekor profesional 14 kemenangan dan 4 kekalahan, serta ambisi baru untuk membuktikan kualitasnya di organisasi MMA terbesar di dunia.
Perjalanan Nallo dimulai di Kanada, negara yang dalam dua dekade terakhir terus melahirkan petarung-petarung berkualitas. Sejak kecil, ia memiliki ketertarikan terhadap olahraga yang menuntut kekuatan fisik dan disiplin tinggi. Berbagai cabang olahraga sempat ia tekuni sebelum akhirnya menemukan dunia bela diri sebagai tempat yang paling sesuai dengan karakternya. Baginya, bertarung bukan hanya soal mengalahkan lawan, tetapi juga tentang menguji batas kemampuan diri dan membangun mental yang tangguh.
Ketika mulai berlatih, Nallo menunjukkan bakat alami dalam teknik striking. Ia memiliki jangkauan pukulan yang baik, koordinasi tubuh yang solid, serta kemampuan menjaga jarak yang efektif. Latihan tinju dan kickboxing menjadi fondasi utama yang membentuk identitasnya sebagai petarung. Seiring waktu, ia mulai mengembangkan kemampuan tendangan, kombinasi serangan, dan pergerakan kaki yang membuat gaya bertarungnya semakin sulit diprediksi.
Memasuki dunia MMA profesional menjadi langkah berikutnya yang penuh tantangan. Selain mempertajam kemampuan striking, Nallo harus mempelajari berbagai aspek lain seperti wrestling, Brazilian Jiu-Jitsu, serta pertahanan terhadap takedown. Ia memahami bahwa MMA modern menuntut seorang atlet untuk mampu bertarung di semua area. Karena itu, ia terus melengkapi kemampuannya agar tidak hanya dikenal sebagai striker, tetapi juga sebagai petarung yang mampu bertahan ketika laga beralih ke permainan bawah.
Karier profesionalnya berkembang melalui berbagai promotor regional di Amerika Utara. Penampilan yang konsisten membuat namanya semakin dikenal, terutama karena kemampuannya mengendalikan tempo pertandingan. Nallo bukan tipe petarung yang terburu-buru mencari penyelesaian. Ia lebih suka membangun tekanan secara bertahap, memancing kesalahan lawan, lalu memanfaatkan celah dengan kombinasi pukulan yang cepat dan akurat. Pendekatan tersebut membuatnya meraih banyak kemenangan dan membuka jalan menuju Bellator MMA.
Bergabung dengan Bellator menjadi tonggak penting dalam kariernya. Di organisasi tersebut, Nallo menghadapi lawan-lawan dengan kualitas jauh lebih tinggi dibandingkan kompetisi regional. Pengalaman bertanding di Bellator membuatnya berkembang sebagai atlet yang lebih matang. Ia belajar menghadapi berbagai gaya bertarung, mulai dari wrestler dengan kontrol kuat hingga submission specialist yang berbahaya di atas matras. Setiap pertandingan menjadi proses pembelajaran yang memperkaya kemampuan teknis maupun mentalnya.
Selama berkarier di Bellator, Mandel Nallo terus memperbaiki kualitas permainannya. Rekor profesionalnya berkembang hingga mencapai 14 kemenangan dan 4 kekalahan, sebuah catatan yang menunjukkan konsistensi di level kompetisi tinggi. Meski beberapa kali mengalami kekalahan, ia tidak pernah kehilangan semangat untuk berkembang. Justru pengalaman tersebut menjadi modal penting dalam memperbaiki kelemahan dan meningkatkan kualitas bertarungnya.
Kesempatan besar berikutnya datang ketika UFC membuka pintu bagi petarung-petarung berpengalaman dari organisasi lain. Berkat performa yang konsisten di Bellator, Nallo akhirnya memperoleh kontrak untuk bergabung dengan UFC. Kepindahan ini menjadi salah satu momen paling penting dalam kariernya karena memberikan kesempatan tampil di panggung yang selama ini menjadi impian hampir semua petarung MMA.
Debut resminya dijadwalkan berlangsung pada tahun 2026 dalam ajang UFC Toronto. Bertanding di hadapan publik Kanada memberikan motivasi tambahan baginya. Lawan pertama yang harus dihadapi adalah Mike Davis, petarung yang dikenal memiliki kemampuan striking agresif dan pengalaman menghadapi lawan-lawan elite. Duel tersebut diprediksi berlangsung menarik karena mempertemukan dua striker yang sama-sama gemar bertarung dalam tempo tinggi.
Julukan “Mango” memang terdengar unik di dunia MMA, tetapi di balik nama tersebut tersimpan karakter petarung yang tenang, percaya diri, dan sulit dipatahkan. Di dalam oktagon, Nallo dikenal mampu menjaga fokus sepanjang pertandingan. Ia jarang membiarkan emosi menguasai permainan dan lebih memilih membangun strategi secara sistematis sebelum meningkatkan intensitas serangan pada momen yang tepat.
Sebagai striker, kekuatan utama Mandel Nallo terletak pada akurasi pukulan dan kemampuannya membaca ritme pertandingan. Ia piawai memanfaatkan jab untuk membuka ruang, kemudian menyusulkan kombinasi hook dan tendangan yang efektif. Pergerakan kakinya juga menjadi salah satu aset penting karena memungkinkannya menjaga jarak sekaligus menciptakan sudut serangan yang menguntungkan. Meski demikian, ia terus mengembangkan kemampuan grappling agar mampu menghadapi tantangan di divisi lightweight UFC yang dikenal sangat kompetitif.
Di luar arena, Nallo menjalani program latihan yang disiplin. Sesi hariannya mencakup latihan striking, penguatan fisik, peningkatan daya tahan, latihan wrestling, Brazilian Jiu-Jitsu, serta sparring melawan berbagai tipe petarung. Ia percaya bahwa proses belajar tidak pernah berhenti, bahkan setelah berhasil mencapai UFC. Menurutnya, seorang atlet harus selalu berkembang jika ingin bertahan di level tertinggi.
Filosofi bertarung Mandel Nallo berpusat pada konsistensi dan ketenangan. Ia meyakini bahwa kemenangan lahir dari persiapan yang matang, disiplin dalam latihan, serta kemampuan mengendalikan tekanan di dalam oktagon. Prinsip tersebut telah membawanya melewati perjalanan panjang dari promotor regional, Bellator MMA, hingga akhirnya menginjakkan kaki di UFC.
Kini, dengan pengalaman bertahun-tahun, rekor 14 kemenangan dan 4 kekalahan, serta bekal sebagai striker berbahaya, “Mango” memasuki babak baru dalam kariernya. Debut di UFC Toronto bukan sekadar pertandingan pertama, melainkan awal dari misi besar untuk membuktikan bahwa dirinya mampu bersaing dengan para petarung terbaik dunia dan mengukir prestasi baru di divisi lightweight UFC.
(PR/timKB)
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda