Jakarta – Yuya Wakamatsu tidak tumbuh sebagai anak yang sejak awal bercita-cita menjadi atlet bela diri profesional. Justru sebaliknya, pria kelahiran Kagoshima, Jepang, 9 Februari 1995 ini dikenal sebagai anak yang sangat agresif dan kerap terlibat perkelahian. Energi yang sulit dikendalikan itu akhirnya menemukan jalannya ketika Wakamatsu mulai mengenal tinju. Apa yang awalnya menjadi cara untuk menyalurkan sifat kerasnya perlahan berubah menjadi tujuan hidup. Dari sana lahir sosok yang kemudian dikenal dengan julukan “Little Piranha”, seorang petarung bertubuh relatif kecil tetapi memiliki gaya menyerang yang ganas dan tanpa kompromi.
Saat memasuki usia remaja akhir, Wakamatsu mengambil keputusan besar dengan meninggalkan Kagoshima dan pindah ke Tokyo. Ia ingin menjadikan seni bela diri sebagai profesi, bukan sekadar hobi. Di ibu kota Jepang, ia memperluas kemampuannya dengan mempelajari mixed martial arts dan bergabung dengan lingkungan latihan yang membentuknya menjadi petarung yang lebih lengkap. Sosok penting dalam perjalanan tersebut adalah mantan petarung UFC dan legenda MMA Jepang, Ryo Chonan, yang menjadi pelatih sekaligus mentor. Dari Chonan pula, Wakamatsu mendapatkan julukan “Piranha” yang kemudian melekat kuat pada identitasnya sebagai petarung.
Karier profesional Wakamatsu dimulai pada 2015 ketika usianya baru 20 tahun. Debutnya memang tidak berjalan sempurna. Ia kalah dari Yuto Sekiguchi melalui armbar pada ronde pertama. Namun kekalahan itu justru menjadi titik balik. Wakamatsu bangkit dengan sembilan kemenangan beruntun dan sebagian besar diraih melalui knockout atau technical knockout. Periode tersebut memperlihatkan karakter dasar yang akan menjadi ciri khasnya: tekanan tinggi, pukulan keras, serta keberanian untuk mengejar penyelesaian sejak awal pertandingan. Pada 2016 ia menjuarai Pancrase Neo Blood Tournament kelas flyweight, sebelum kemudian mendapatkan kesempatan menantang gelar Pancrase pada 2018.
Kesuksesan di Pancrase membawanya menuju ONE Championship pada 2018. Debutnya di organisasi tersebut berakhir dengan kekalahan angka dari Danny Kingad. Tidak lama kemudian, Wakamatsu kembali menghadapi tantangan yang bahkan lebih besar ketika masuk ke ONE Flyweight World Grand Prix dan bertemu salah satu petarung terbaik sepanjang sejarah MMA, Demetrious Johnson. Ia kalah melalui guillotine choke, tetapi pertandingan tersebut menjadi pengalaman penting dalam perkembangan kariernya. Berhadapan dengan atlet kelas dunia memaksanya memahami bahwa agresivitas saja tidak cukup untuk bertahan di level tertinggi.
Perkembangannya kemudian semakin terlihat. Pada Agustus 2019, Wakamatsu mencetak kemenangan besar dengan menjatuhkan mantan juara dunia ONE Flyweight, Geje Eustaquio, melalui knockout pada ronde pertama. Ia terus membangun kematangan sebagai petarung dengan kemenangan atas Dae Hwan Kim, Kyu Sung Kim, Reece McLaren, Yong Hu, Xie Wei, Danny Kingad, dan Gilbert Nakatani. Meski sempat kalah dari Adriano Moraes dalam perebutan gelar dunia pada 2022, Wakamatsu tidak membiarkan kegagalan tersebut menghentikan ambisinya. Sebaliknya, ia menjadikan kekalahan itu sebagai bagian dari proses menuju versi dirinya yang lebih lengkap.
Puncak perjalanan itu datang pada 23 Maret 2025 di ONE 172. Dalam laga ulang melawan Adriano Moraes, Wakamatsu tampil dengan kepercayaan diri yang jauh berbeda. Ia tidak lagi sekadar mengandalkan keberanian bertukar pukulan, tetapi menunjukkan ketenangan dalam memilih momen serangan. Kombinasi pukulan kerasnya menjatuhkan Moraes sebelum ia menutup pertandingan melalui TKO pada ronde pertama, tepat pada menit 3:39. Kemenangan itu membuat Wakamatsu menjadi Juara Dunia ONE Flyweight MMA dan menandai salah satu momen terbesar dalam sejarah MMA Jepang modern.
Wakamatsu kemudian mempertahankan gelarnya pada November 2025 melawan juara dunia strawweight, Joshua Pacio. Pertarungan dua juara tersebut menjadi ujian besar bagi sang petarung Jepang. Setelah menghadapi tekanan pada fase awal, Wakamatsu menjatuhkan Pacio dan menghentikannya dengan serangan lutut di bawah pada ronde kedua. Kemenangan tersebut memperpanjang momentumnya dan membuat ONE menobatkannya sebagai MMA Fighter of the Year 2025. Namun perjalanan seorang petarung tidak pernah benar-benar lurus. Pada 29 April 2026, ia kehilangan sabuknya setelah Avazbek Kholmirzaev mengalahkannya dengan knockout melalui spinning back elbow pada ronde kedua di ONE SAMURAI 1.
Kini, Wakamatsu tercatat memiliki rekor profesional 20 kemenangan dan 7 kekalahan. Sebanyak 14 dari 20 kemenangannya diraih melalui KO atau TKO, sebuah angka yang menggambarkan betapa besar orientasinya terhadap penyelesaian. Ia bertarung di kelas flyweight, atau sekitar 61,2 kilogram dalam batas tradisional MMA, dan mewakili Tribe Tokyo MMA. Gaya bertarungnya dibangun di atas fondasi tinju agresif, tekanan konstan, pukulan eksplosif, serta kemauan untuk memaksakan pertarungan berjalan dalam tempo tinggi.
Filosofi bertarung Wakamatsu dapat dilihat dari transformasi kariernya. Dahulu, ia bertarung terutama dengan naluri dan agresivitas. Kini, pengalaman menghadapi kekalahan dari Sekiguchi, Kingad, Demetrious Johnson, Woo Sung Hoon, hingga Moraes telah mengajarkannya bahwa keberanian harus berjalan bersama disiplin. Metode latihannya menuntut pengembangan seluruh aspek MMA—striking, grappling, gulat, serta pengondisian fisik—tetapi kekuatan utamanya tetap terletak pada kemampuan menekan lawan dan melepaskan serangan eksplosif ketika peluang muncul.
Pada usia 31 tahun, Yuya Wakamatsu telah mengalami hampir semua sisi kehidupan seorang petarung: kalah pada debut profesional, membangun kemenangan beruntun, gagal merebut gelar, menghadapi legenda dunia, menjadi juara dunia, mempertahankan sabuk, lalu kembali merasakan pahitnya kekalahan. Namun justru perjalanan seperti itulah yang membentuk “Little Piranha”. Bagi Wakamatsu, pertarungan bukan tentang hidup tanpa kekalahan, melainkan tentang kemampuan untuk terus kembali ke arena. Dari anak agresif di Kagoshima hingga mantan juara dunia ONE, ia telah membuktikan bahwa energi liar dapat berubah menjadi kekuatan—selama seseorang memiliki disiplin untuk mengendalikannya.
(PR/timKB)
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda