Jakarta – Kiamran Rashidovich Nabati adalah gambaran petarung yang membangun reputasinya bukan melalui banyak bicara, melainkan lewat konsistensi di dalam ring. Lahir pada 23 November 1994 di Buynaksk, Rusia, Nabati tumbuh menjadi salah satu striker paling berbahaya dari generasinya. Berbasis di Podolsk dan berlatih bersama Archangel Michel, ia dikenal sebagai petarung Muay Thai dan kickboxing dengan gaya orthodox yang memadukan ketenangan membaca lawan dengan kemampuan menciptakan kerusakan dalam waktu singkat. ONE Championship bahkan menggambarkannya sebagai striker dengan naluri seorang finisher sekaligus pendekatan yang kalkulatif.
Perjalanan Nabati menuju level profesional dimulai dari kompetisi amatir Muay Thai. Sejak usia muda, ia sudah mengumpulkan prestasi di Rusia dan ajang internasional. Ia tercatat sebagai juara Russian Muaythai Cup sebanyak lima kali dan beberapa kali menjadi juara Russian Championships. Di level IFMA, Nabati juga meraih sejumlah medali, termasuk emas Kejuaraan Dunia Junior 2010 dan emas Kejuaraan Eropa Junior 2011. Pada 2015, ia memperoleh gelar Master of Sports of Russia tingkat internasional. Pengalaman panjang di level amatir tersebut membentuk fondasi teknis yang kemudian menjadi ciri khasnya: disiplin, penguasaan jarak, serta kemampuan bertarung dengan tempo tinggi tanpa kehilangan kontrol.
Nabati menjalani debut profesional Muay Thai pada 17 September 2015 melawan Jaotalae Lukjaoporongtom di Thai Fight Moscow dan menang melalui keputusan. Setelah itu, perjalanan kariernya sempat menghadapi periode sulit akibat hukuman larangan bertanding dari IFMA. Pada 2017 ia menerima larangan enam tahun setelah pelanggaran terkait doping. Setelah masa tersebut, Nabati kembali membangun karier profesionalnya dan mulai menegaskan dirinya sebagai salah satu petarung striking terbaik dari Rusia.
Kebangkitannya semakin terlihat ketika bergabung dengan Fair Fight. Pada 2022, Nabati memenangkan turnamen kelas featherweight 65 kilogram dan kemudian mempertahankan gelarnya dua kali. Salah satu momen penting datang pada Agustus 2023 ketika ia menghadapi Phal Sophorn di RCC Fair Fight 22. Nabati menghentikan lawannya dengan spinning heel kick pada ronde pertama, sebuah kemenangan yang memperlihatkan bahwa kreativitas serangannya sama berbahayanya dengan kekuatan pukulan konvensional. Tak lama kemudian, ONE Championship membuka pintu untuknya.
Debut Nabati di ONE terjadi pada ONE Friday Fights 35, September 2023. Ia menghadapi Pongsiri PK Saenchai, veteran Thailand dengan pengalaman lebih dari 200 pertandingan dan beberapa gelar dunia Muay Thai. Nabati tidak hanya menang melalui keputusan mutlak, tetapi juga memperlihatkan bahwa dirinya mampu menghadapi petarung berpengalaman dalam tekanan besar. Setelah itu ia mengalahkan Avatar PK Saenchai melalui keputusan mutlak pada Maret 2024.
Terobosan terbesar datang pada Juni 2024. Menghadapi Suablack Tor Pran49 di ONE Friday Fights 68, Nabati melepaskan left hook yang menjatuhkan lawannya pada ronde pertama. Kemenangan tersebut membuatnya memperoleh kontrak bernilai enam digit dengan ONE Championship dan mengukuhkan posisinya di roster global. Tiga bulan kemudian, tantangan yang lebih besar menanti: mantan juara dunia ONE Nong-O Hama. Nabati kembali menunjukkan kedewasaan taktiknya dan menang melalui keputusan mutlak pada ONE Friday Fights 81.
Namun, perjalanan Nabati tidak sepenuhnya mulus. Pertarungannya melawan Ferrari Fairtex pada Januari 2025 sempat berakhir dengan kemenangan KO untuk Nabati, tetapi hasil tersebut kemudian diubah menjadi no contest setelah kedua petarung dinyatakan positif zat terlarang. ONE kemudian menjatuhkan hukuman suspensi kepada Nabati. Situasi tersebut menjadi bagian kontroversial dalam perjalanan kariernya dan membuat pencapaian di ring harus selalu dilihat bersama konsekuensi di luar ring.
Sebelum menghadapi Yod-IQ Or Pimolsri pada 22 Mei 2026, Nabati datang dengan rekor profesional 23 kemenangan tanpa kekalahan. Ia akhirnya merasakan kekalahan pertama setelah Yod-IQ mengalahkannya melalui split decision. Pertandingan tersebut menjadi ujian baru bagi mentalitas kompetitifnya. Nabati kemudian dijadwalkan menghadapi Nontachai Jitmuangnon pada ONE Fight Night 46, tetapi laga itu batal setelah Nontachai mundur karena sakit.
Secara gaya bertarung, Nabati adalah striker yang tidak sekadar mengandalkan agresivitas. Ia mampu menekan lawan, tetapi tetap mencari celah dengan sabar sebelum melancarkan serangan keras. Kombinasi pukulan, tendangan, serangan berputar, serta kemampuan membaca momentum membuatnya sulit ditebak. Ia juga memiliki naluri menyelesaikan pertarungan ketika kesempatan terbuka. ONE menyebutnya sebagai petarung yang menggabungkan naluri penghancur dengan pendekatan taktis.
Detail mengenai rutinitas latihan hariannya tidak banyak dipublikasikan secara rinci. Yang jelas, Nabati dibentuk oleh tradisi Muay Thai Rusia, pengalaman panjang dalam kompetisi amatir, serta lingkungan latihan Archangel Michel. Mentalitasnya terlihat dari cara ia kembali membangun karier setelah hukuman, menaklukkan sejumlah nama besar Thailand, dan kemudian menghadapi kekalahan pertama tanpa menghilangkan ambisinya. Kini, dengan rekor profesional yang tercatat 23–1 dan satu no contest, Nabati masih menjadi salah satu striker berbahaya di kelas bantamweight Muay Thai ONE Championship. Kekalahan dari Yod-IQ mungkin menghentikan rekor sempurnanya, tetapi sekaligus membuka babak baru: bagaimana seorang petarung yang sebelumnya selalu menang merespons untuk pertama kalinya ketika dunia memperlihatkan bahwa dirinya juga bisa dikalahkan.
(PR/timKB)
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda