Regian Eersel: “The Immortal” Di ONE Championship

Piter Rudai • 29/09/2026 • 3 min read
Regian Eersel: “The Immortal” Di ONE Championship

Jakarta – Di dunia kickboxing dan Muay Thai, nama Regian “The Immortal” Eersel identik dengan satu hal: konsistensi. Lahir di Paramaribo, Suriname, pada 16 Desember 1992, Eersel pindah bersama keluarganya ke Amsterdam ketika berusia empat tahun. Perpindahan dari lingkungan tropis Suriname ke Belanda menjadi pengalaman besar bagi dirinya. Namun, justru di Amsterdam-lah fondasi kariernya sebagai petarung dibangun.

Ketertarikannya terhadap bela diri muncul sejak kecil. Eersel mulai berlatih taekwondo sekitar usia delapan tahun, terutama untuk belajar membela diri sekaligus menyalurkan energi. Ketika remaja, ia sempat menekuni rugby hingga mencapai level nasional Belanda. Namun, setelah kembali mendapatkan dukungan orang tuanya untuk berolahraga, perhatian Eersel beralih kepada kickboxing. Ia banyak menonton pertandingan K-1 dan terinspirasi oleh nama-nama seperti Giorgio Petrosyan, Badr Hari, dan Alistair Overeem. Pada usia 15 tahun, ia menemukan Sityodtong Amsterdam, sasana yang kemudian menjadi rumah keduanya. Setahun kemudian, ia menjalani pertandingan pertamanya.

Kariernya berkembang cepat. Setelah menempuh sirkuit amatir Belanda, Eersel menjadi profesional pada usia 18 tahun. Menariknya, perjalanan profesionalnya sejak awal banyak berlangsung di luar negeri. Pertandingan profesional pertamanya berlangsung di Azerbaijan, kemudian ia bertarung di Amerika Serikat, Tiongkok, Rusia, Suriname, dan berbagai negara lain. Pada 2016, ketika berusia 24 tahun, ia meraih Lion Fight Super Middleweight World Championship di Amerika Serikat dan kemudian mempertahankan gelar tersebut beberapa kali. Ia juga memenangkan turnamen MIX Fight Championship 2017 sebelum akhirnya memasuki panggung ONE Championship.

Kedatangannya ke ONE menjadi titik balik besar. Eersel memenangkan laga-laga awalnya dan pada Mei 2019 menjadi juara dunia perdana ONE Lightweight Kickboxing. Salah satu kemenangan yang memperlihatkan karakter agresifnya terjadi ketika menghadapi Anthony Njokuani pada 2019. Eersel menekan lawan dengan kombinasi pukulan dan low kick sebelum mengakhiri pertandingan melalui rangkaian hook dan lutut pada ronde kedua. Saat itu, rekor profesionalnya meningkat menjadi 53-4.

Dominasi tersebut berlanjut selama bertahun-tahun. Eersel mempertahankan gelar kickboxing melawan sejumlah nama seperti Nieky Holzken, Mustapha Haida, Arian Sadiković, dan lainnya. Pada 2022, ia menambah sejarah dengan merebut ONE Lightweight Muay Thai World Championship setelah mengalahkan Sinsamut Klinmee. Dengan demikian, Eersel menjadi salah satu petarung ONE yang memegang sabuk dunia dalam dua disiplin striking sekaligus.

Puncak lain datang pada Juni 2023 ketika ia menghadapi Dmitry Menshikov. Eersel hanya membutuhkan 46 detik untuk mengakhiri pertandingan lewat kombinasi body kick dan left hook ke kepala. Namun perjalanan panjang tanpa kekalahan akhirnya terhenti pada April 2024. Alexis Nicolas mengalahkannya melalui unanimous decision dalam perebutan gelar kickboxing. Kekalahan tersebut menjadi yang pertama bagi Eersel dalam delapan tahun.

Ia tidak membutuhkan waktu lama untuk bangkit. Dalam rematch melawan Nicolas pada Oktober 2024, Eersel merebut kembali sabuk kickboxing melalui unanimous decision. Pada April 2025, ia kembali mengalahkan Nicolas melalui majority decision, lalu menghentikan George Jarvis pada ronde pertama Agustus 2025. Kemenangan atas Jarvis membuat rekor profesionalnya menjadi 64-5. Pada 10 April 2026, Eersel kemudian mengalahkan Rungrawee Sitsongpeenong melalui unanimous decision untuk merebut kembali gelar ONE Lightweight Kickboxing yang kosong. Kemenangan tersebut membawa rekor kariernya menjadi 65-5, dengan 27 kemenangan KO/TKO menurut catatan ONE. Di ONE sendiri, catatannya mencapai 14 kemenangan dan 1 kekalahan.

Secara fisik, Eersel bertanding di kelas lightweight ONE, 77,1 kg (170 pound). Tingginya sekitar 1,88–1,89 meter dengan reach sekitar 196 cm, memberikan keunggulan jangkauan yang ia manfaatkan melalui jab, teep, tendangan, knee, serta kombinasi pukulan. Gaya bertarungnya merupakan perpaduan Muay Thai, Dutch kickboxing, dan fondasi taekwondo. Ia terkenal dengan kemampuan mengontrol jarak, volume serangan tinggi, kombinasi pukulan-tendangan yang mengalir, serta flying knee.

Namun kekuatan Eersel bukan hanya teknik. Ia sendiri pernah menggambarkan Muay Thai sebagai sesuatu yang memberinya fokus ketika tumbuh di lingkungan Amsterdam yang keras dan penuh risiko kriminal. Dalam persiapan bertanding, ia juga dikenal memiliki ritual unik: mendengarkan hip-hop Belanda dan menari untuk menjaga tubuh tetap rileks sebelum kemudian meningkatkan intensitas menjelang masuk arena.

Kini, “The Immortal” bukan sekadar julukan. Perjalanan dari anak Suriname yang beradaptasi dengan kehidupan Amsterdam, menemukan disiplin di sebuah sasana kecil, hingga menjadi juara dunia dua disiplin menggambarkan karier yang dibangun melalui adaptasi, konsistensi, dan keberanian menghadapi tantangan baru. Bahkan setelah mengalami kekalahan pertamanya dalam bertahun-tahun, Eersel menunjukkan bahwa mentalitas seorang juara baginya bukan tentang tidak pernah jatuh, melainkan tentang kemampuan kembali berdiri dan merebut kembali apa yang pernah hilang.

(PR/timKB)

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...