Keiichiro Nakamura: Dari Lapangan Baseball Hingga Panggung UFC

Piter Rudai • 02/10/2026 • 3 min read
Keiichiro Nakamura: Dari Lapangan Baseball Hingga Panggung UFC

Jakarta – Di balik kemenangan spektakulernya di UFC 325, Keiichiro Nakamura membawa kisah perjalanan yang jauh lebih panjang daripada sekadar seorang petarung Jepang yang berhasil menembus UFC. Lahir pada 2 Desember 1998 dan tumbuh di Hokkaido, Nakamura memiliki latar belakang yang cukup unik. Sebelum mengenal dunia mixed martial arts (MMA), ia lebih dahulu menghabiskan masa mudanya sebagai pemain baseball. Ia bahkan pernah meninggalkan kampung halaman setelah SMP untuk tinggal di asrama tim dan mengejar karier baseball secara serius. Setelah menyelesaikan sekolah, jalurnya justru berbelok jauh: ia sempat bekerja di bidang kehutanan di Yamanashi dan kemudian bergabung dengan Japan Maritime Self-Defense Force.

Peralihan menuju MMA terjadi ketika usianya sudah relatif dewasa dibandingkan banyak atlet yang sejak kecil menekuni bela diri. Dalam profil UFC, Nakamura menyebut dirinya mulai berlatih sebagai petarung sekitar lima tahun sebelum memasuki UFC. Pengalaman hidup sebelumnya ikut membentuk karakter kompetitifnya. Ia mengaku bahwa pertarungan profesional pertamanya menjadi salah satu pengalaman tersulit karena ketika itu ia belum memahami pertarungan ground dengan baik. Kekalahan tersebut akhirnya menjadi titik penting dalam perkembangan kariernya. Ia kemudian membangun kemampuan yang lebih lengkap dan bergabung dengan EXFIGHT, gym di Tokyo tempat ia terus mengembangkan dirinya sebagai striker.

Karier profesional Nakamura dimulai pada 2022. Debutnya berakhir dengan kekalahan melalui arm-triangle choke pada ronde ketiga melawan Yu Karino. Namun, kekalahan tersebut menjadi satu-satunya noda dalam rekornya hingga saat ini. Pada Desember tahun yang sama, ia bangkit dengan kemenangan TKO atas Tomomitsu Hinuma. Tahun 2023 menjadi momentum penting ketika Nakamura mencatat tiga kemenangan beruntun, semuanya melalui penghentian wasit pada ronde pertama—masing-masing atas Masaya Ishizuka, Taisei Otsuki, dan Shun Murata. Rangkaian tersebut memperlihatkan perkembangan seorang petarung yang semakin nyaman mengandalkan tekanan dan kekuatan pukulannya.

Tahun 2024 membawa Nakamura ke panggung yang lebih besar. Ia terlebih dahulu mengalahkan Guilherme Yuri Nakagawa melalui ground-and-pound pada semifinal Fighting Agent War THE MAX, sebelum menundukkan Thomy Yano melalui unanimous decision di final pada Mei. Kemenangan tersebut memberinya gelar turnamen dan memperkuat reputasinya sebagai salah satu prospek menarik dari Jepang. Beberapa bulan kemudian, ia kembali mencatat kemenangan lewat KO atas Yusuke Kagiyama pada ronde pertama.

Kesempatan menuju UFC datang melalui Road to UFC Season 4. Di perempat final pada Mei 2025, Nakamura menghadapi Eo Jin Park. Pertandingan yang awalnya berlangsung relatif ketat berubah drastis pada ronde kedua ketika Park bergerak maju dan Nakamura melepaskan left knee yang tepat mengenai lawannya. Park langsung terjatuh dan pertandingan dihentikan pada menit 2:24 ronde kedua. Di semifinal, tantangannya semakin berat. Menghadapi Kaiwen Li, Nakamura sempat mendapat tekanan pada ronde pertama, tetapi perlahan mengambil alih pertarungan. Ia terus menekan dengan kombinasi pukulan dan left hand hingga akhirnya memenangkan unanimous decision 29-28, 29-28, 29-27.

Final menjadi ujian terbesar sekaligus panggung debutnya di UFC. Pada 31 Januari 2026 di UFC 325, Nakamura menghadapi Sebastian Szalay dalam final Road to UFC kelas featherweight. Pertarungan berlangsung hingga ronde ketiga sebelum Nakamura menemukan momen penentu. Ia mendaratkan knee yang kemudian diikuti rentetan pukulan, memaksa wasit menghentikan pertandingan pada menit 3:48 ronde ketiga. Kemenangan tersebut menjadikannya petarung Jepang pertama yang memenangkan turnamen Road to UFC kelas featherweight sekaligus mengantarkannya secara resmi ke roster UFC.

Secara gaya, Nakamura dikenal UFC sebagai striker. Ia bertanding di kelas featherweight 145 pound (sekitar 65,8 kg), memiliki tinggi sekitar 178 cm dan reach 70,5 inci. Statistik UFC menunjukkan kecenderungannya yang sangat kuat dalam pertarungan berdiri: 93 persen significant strike yang tercatat dalam karier UFC-nya berasal dari posisi standing. Hingga data resmi UFC saat ini, ia memiliki rekor profesional 8 kemenangan dan 1 kekalahan, dengan tujuh kemenangan melalui KO/TKO dan satu melalui keputusan. Lima kemenangan bahkan berakhir pada ronde pertama.

Filosofi kompetitif Nakamura juga terlihat dari sosok yang ia jadikan inspirasi. Ia menyebut Conor McGregor dan Khabib Nurmagomedov sebagai petarung favoritnya, terutama karena kerja keras, pengorbanan, kesabaran, dan konsistensi latihan. Prinsip tersebut terasa relevan dengan perjalanan Nakamura sendiri: dari baseball, kehutanan, hingga seragam pasukan bela diri maritim sebelum akhirnya menemukan jalannya di MMA. Di EXFIGHT, ia berlatih bersama sejumlah petarung Jepang, termasuk nama-nama seperti Rinya Nakamura dan Yusuke Yachi, sambil terus mengasah kekuatan striking-nya.

Kini, Keiichiro Nakamura bukan lagi sekadar prospek dari Jepang. Dengan rentetan delapan kemenangan setelah kekalahan debut, tujuh kemenangan KO/TKO, serta keberhasilan menjuarai Road to UFC, ia telah membangun identitas sebagai featherweight dengan daya ledak dan mental bertanding yang kuat. Namun, perjalanan menuju puncak UFC masih panjang. Tantangan berikutnya bukan lagi sekadar membuktikan bahwa ia mampu masuk ke panggung terbesar MMA dunia, melainkan menunjukkan bahwa gaya striking, keberanian, dan pengalaman hidup yang membentuk dirinya mampu bertahan menghadapi level kompetisi UFC yang sesungguhnya.

(PR/timKB)

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...