Jakarta – Bagi Andre “Touchy” Fili, perjalanan menuju UFC bukan sekadar cerita tentang seorang anak muda yang ingin menjadi petarung profesional. Di balik kariernya yang telah berlangsung lebih dari 15 tahun, ada masa lalu yang penuh masalah, keputusan untuk mengubah arah hidup, dan sebuah kesempatan yang datang setelah kegagalan. Lahir di Federal Way, Washington, pada 25 Juni 1990, Fili tumbuh dalam lingkungan keluarga yang tidak mudah. Ia kemudian menemukan bela diri ketika berusia sekitar 14–15 tahun. Menurut pengakuannya kepada UFC, motivasi awalnya bahkan sederhana: ia ingin terkenal. Namun, apa yang bermula sebagai keinginan untuk mendapatkan perhatian akhirnya berubah menjadi pekerjaan dan jalan hidup.
Fili kemudian serius menekuni MMA dan bergabung dengan Team Alpha Male di Sacramento, tempat ia berlatih bersama sejumlah petarung elite di bawah lingkungan yang dibangun Urijah Faber. Perpindahan tersebut menjadi titik balik penting. Fili pernah mengakui bahwa ketika pertama kali bergabung dengan tim itu, ia sedang menjalani masa probation dan menggunakan ankle monitor. Ia menggambarkan dirinya saat itu sebagai anak muda yang sering membuat masalah dan dikelilingi lingkungan negatif. Team Alpha Male memberinya struktur, lingkungan kompetitif, sekaligus keluarga baru yang membantu mengubah kehidupannya. Ia bahkan meninggalkan community college untuk mengejar karier MMA secara penuh.
Karier profesional Fili dimulai pada 2009. Pada awal perjalanannya ia bertarung di berbagai promosi regional dan berkembang menjadi salah satu prospek featherweight Amerika yang menarik perhatian. Ia kemudian meraih gelar featherweight WFC dan ISCF. Salah satu momen penting terjadi pada 2010 ketika Fili yang masih berusia 20 tahun mengalami kekalahan akibat cedera lutut melawan Derrick Burnsed. Alih-alih menjauh dari Team Alpha Male, justru setelah pertarungan tersebut ia meminta kesempatan untuk berlatih bersama tim. Urijah Faber kemudian mengundangnya untuk bergabung. Fili bangkit dan membangun rentetan kemenangan hingga akhirnya mendapat panggilan UFC.
Debut UFC Fili berlangsung pada Oktober 2013 melawan Jeremy Larsen. Ia langsung memperlihatkan karakter agresifnya dengan menghentikan Larsen melalui serangan pada ronde kedua. Namun, level UFC segera menunjukkan betapa tipis batas antara kemenangan dan kekalahan. Dalam pertarungan berikutnya ia kalah dari Max Holloway melalui guillotine choke, kemudian menang atas Felipe Arantes sebelum kembali kalah dari Godofredo Pepey melalui flying triangle choke. Ia bangkit dengan kemenangan atas Gabriel Benítez, lalu menghadapi Yair Rodríguez pada 2016 dan mengalami kekalahan KO pada ronde kedua. Setelah itu Fili terus berhadapan dengan nama-nama berpengalaman seperti Hacran Dias, Calvin Kattar, Artem Lobov, Dennis Bermudez dan Michael Johnson.
Salah satu ciri perjalanan Fili adalah kemampuannya bertahan lama di tengah persaingan featherweight yang sangat kompetitif. Ia tidak selalu berada dalam perebutan gelar, tetapi terus mendapatkan kesempatan menghadapi lawan-lawan berkualitas. Dalam beberapa tahun terakhir, kemenangan atas Lucas Almeida pada 2023 melalui TKO ronde pertama menjadi salah satu penampilan terbaiknya. Pada 2024 ia mengalahkan veteran Cub Swanson melalui split decision dalam pertarungan yang juga mendapatkan bonus Fight of the Night. Namun, konsistensi tersebut kembali diuji setelah kekalahan dari Dan Ige dan Melquizael Costa. Fili kemudian mengalahkan Christian Rodriguez pada Agustus 2025 melalui split decision sebelum kalah dari Jose Miguel Delgado pada Maret 2026 dan Vinicius Oliveira melalui TKO pada Juni 2026.
Secara statistik, Fili memiliki rekor profesional 25 kemenangan, 14 kekalahan dan 1 no contest. Dari 25 kemenangannya, 10 diraih melalui KO/TKO, tiga melalui submission dan 12 lewat keputusan. Ia tetap bertarung di kelas featherweight 145 pound, dengan tinggi sekitar 180 cm dan jangkauan 188 cm. Di UFC, ia telah menjalani puluhan pertarungan dan menjadi salah satu veteran yang paling lama bertahan dalam divisi tersebut. Statistik UFC juga menunjukkan bahwa sebagian besar serangan signifikannya dilepaskan saat berdiri, tetapi kemampuan takedown dan pertahanan grappling-nya membuatnya tidak mudah dibaca sebagai striker murni.
Gaya Fili berkembang dari karakter petarung muda yang eksplosif menjadi permainan MMA yang lebih lengkap. Ia dikenal memiliki striking agresif, terutama kombinasi pukulan dan serangan dari jarak menengah. UFC mencatat uppercut sebagai teknik striking favoritnya, sementara flying triangle menjadi teknik grappling yang ia sukai. Ia juga berlatih dua hingga tiga kali sehari di Team Alpha Male, dengan sesi yang mencampurkan striking dan grappling. Karena itu, Fili dapat mengubah pertarungan dari pertukaran pukulan menjadi clinch atau takedown ketika situasi mengharuskannya.
Mentalitas Fili mungkin justru menjadi bagian paling menarik dari kisahnya. Ia pernah mengatakan bahwa bertarung di UFC berarti segalanya karena itu merupakan impiannya sejak kecil. Namun perjalanan panjangnya memperlihatkan bahwa mempertahankan tempat di UFC jauh lebih sulit daripada sekadar mencapainya. Dari masa muda yang penuh masalah, pekerjaan membuat pizza, cedera lutut, hingga puluhan pertarungan melawan generasi petarung yang terus berganti, Fili terus kembali ke Octagon. Pada usia 36 tahun, ia memang bukan lagi prospek muda yang dulu disebut sebagai salah satu talenta menjanjikan dunia MMA. Tetapi justru di situlah nilai kariernya: Andre Fili telah berubah dari anak muda yang mencari ketenaran menjadi veteran yang membangun identitasnya melalui ketahanan, pengalaman, dan kemauan untuk terus bertarung.
(PR/timKB)
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda