Jakarta – Tidak banyak atlet yang mampu membawa nama sebuah kawasan ke panggung Brazilian Jiu-Jitsu (BJJ) dunia dengan cara Osamah Almarwai. Lahir pada 11 April 1992 di Jeddah, Arab Saudi, dari keluarga keturunan Yaman, Almarwai tumbuh sebagai siswa berprestasi sebelum akhirnya menemukan dunia bela diri. Ia bukan produk dari lingkungan bela diri elite sejak kecil. Justru, perjalanan menuju level dunia dimulai dari ketertarikannya pada BJJ saat remaja, mengikuti jejak sang kakak. Dari sana, jiu-jitsu perlahan berubah dari sekadar hobi menjadi bagian penting dalam hidupnya.
Pendidikan tetap menjadi prioritas keluarganya. Almarwai dikenal sebagai siswa yang disiplin dan kemudian meraih gelar sarjana teknik industri serta gelar master di bidang engineering management. Menariknya, disiplin yang ia bangun melalui pendidikan justru menjadi fondasi penting dalam perkembangan kariernya di atas matras. Ia harus membagi waktu antara kuliah, pekerjaan, dan latihan, sebuah pola yang membentuk mentalitas profesionalnya jauh sebelum namanya dikenal sebagai salah satu grappler terbaik dunia.
Pada masa awal karier, Almarwai berlatih di Arab Saudi dan menghabiskan sekitar tujuh tahun membangun dasar tekniknya. Ia berlatih di bawah beberapa pelatih, termasuk Mohammed Dabbas dan Gerardo Dudamell, sebelum kemudian mendapatkan sabuk cokelat dari Karim Shah. Selama periode tersebut, ia terus mengikuti kompetisi di kawasan Timur Tengah. Ketika kemudian pindah ke Amerika Serikat untuk melanjutkan pendidikan, orientasinya terhadap BJJ berubah. Ia mulai melihat kemungkinan untuk benar-benar bersaing di level tertinggi.
Titik balik besar terjadi pada 2019. Setelah mengikuti kamp pelatihan ADCC, Almarwai memutuskan bergabung dengan Atos Jiu-Jitsu di San Diego di bawah legenda BJJ André Galvão. Lingkungan latihan itu mempertemukannya dengan sejumlah grappler terbaik dunia, termasuk Kade dan Tye Ruotolo. Ia bahkan mengakui bahwa suasana latihan di Atos membuat kompetisi sesungguhnya terasa berbeda karena tekanan di dalam ruang latihan sudah sangat tinggi.
Perkembangannya kemudian melesat. Sebagai pemegang sabuk cokelat, Almarwai memenangkan IBJJF No-Gi World Championship pada 2021. Setelah memperoleh sabuk hitam dari Galvão pada awal 2022, ia langsung membuktikan bahwa dirinya bukan sekadar pendatang baru. Tahun tersebut menjadi salah satu periode paling gemilang dalam kariernya. Ia meraih gelar IBJJF No-Gi World, Pan No-Gi, American Nationals No-Gi, dan World Master. Kemenangan di Kejuaraan Dunia No-Gi 2022 membuatnya tercatat sebagai juara dunia sabuk hitam IBJJF pertama dari Timur Tengah.
Prestasi itu membuka pintu menuju panggung ONE Championship. Namun, penting dicatat, Almarwai tidak masuk ONE sebagai petarung MMA. Debutnya terjadi dalam submission grappling, menghadapi juara dunia ONE Flyweight Submission Grappling saat itu, Mikey Musumeci, pada ONE Fight Night 10 pada Mei 2023. Laga tersebut menjadi ujian terbesar dalam kariernya. Almarwai akhirnya kalah melalui rear-naked choke pada ronde pertama, tetapi pertandingan itu sekaligus memperlihatkan keberaniannya menghadapi salah satu spesialis submission terbaik dunia.
Kekalahan tersebut tidak membuatnya kehilangan arah. Sebaliknya, Almarwai memilih mempelajari pertandingan itu secara detail bersama tim pelatihnya. Ia kemudian meningkatkan latihan gulat karena menyadari bahwa kemampuan takedown dan permainan dari posisi berdiri dapat membuat permainan jiu-jitsunya semakin lengkap. Menjelang laga melawan Cleber Sousa di ONE 166 pada Maret 2024, ia bahkan meningkatkan volume latihan hingga beberapa sesi sehari, menggabungkan BJJ, gulat, strength and conditioning, diet, serta pemulihan. Ia menggambarkan dirinya berlatih lebih keras daripada sebelumnya.
Pertarungan melawan Sousa berakhir dengan kekalahan melalui reverse triangle armbar. Setelah itu, Almarwai juga kalah dari Zayed Alkatheeri melalui keputusan bulat di Pit Submission Series 4 pada April 2024. Namun, kariernya kembali menemukan momentum melalui kompetisi IBJJF. Ia memenangkan IBJJF No-Gi American Nationals 2024 dan kemudian merebut gelar Pan No-Gi 2025. Data resmi IBJJF mencatat kemenangan tersebut sebagai bagian dari keberlanjutan prestasinya di divisi roosterweight.
Secara gaya bertarung, Almarwai dikenal sebagai grappler no-gi dengan permainan guard dan guard passing yang kuat. Ia mampu bermain agresif dari atas, mencari celah untuk melewati guard lawan, mengontrol posisi, kemudian memburu submission. Ketika menghadapi lawan dengan permainan leg lock berbahaya seperti Musumeci, ia mempersiapkan diri secara khusus agar tidak terjebak dalam leg entanglement. Latihan bersama Galvão dan keluarga Ruotolo menjadi bagian penting dari perkembangan tersebut.
Yang membuat perjalanan Almarwai semakin menarik adalah beban sebagai representasi kawasan Timur Tengah. Ia pernah mengakui adanya tekanan karena menjadi salah satu nama paling menonjol dari kawasan tersebut. Namun, tekanan itu justru menjadi bahan bakar. Baginya, keberhasilan bukan hanya tentang memenangkan pertandingan, tetapi menunjukkan kepada generasi muda Timur Tengah bahwa mereka juga bisa mencapai level tertinggi.
Almarwai mungkin tidak memiliki rekor MMA profesional seperti para petarung UFC atau ONE MMA. Arena utamanya adalah submission grappling dan Brazilian Jiu-Jitsu, khususnya kelas roosterweight sekitar 57 kilogram. Tetapi justru di sanalah jejaknya menjadi istimewa: seorang keturunan Yaman yang dibesarkan di Arab Saudi, menjalani pendidikan teknik sambil berlatih, kemudian menjadi juara dunia IBJJF dan salah satu representasi penting BJJ Timur Tengah di panggung internasional. Perjalanannya menunjukkan bahwa keahlian, disiplin, dan kemauan untuk terus memperbaiki kelemahan bisa mengubah seorang atlet dari kawasan yang kurang memiliki tradisi grappling menjadi juara dunia.
(PR/timKB)
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda