Jakarta – Di antara kerasnya persaingan Muay Thai di Thailand, nama Sonrak Fairtex muncul sebagai representasi petarung Myanmar yang membangun kariernya bukan melalui jalan yang mudah. Lahir pada 14 Februari 1997 dan tumbuh di kawasan perbatasan Thailand-Myanmar, Sonrak harus menghadapi keadaan keluarga yang sulit sejak usia muda. Ia kehilangan ayahnya ketika berusia 15 tahun, sementara ibunya kemudian menikah lagi dan pindah ke Kamboja. Dalam situasi tersebut, dunia bela diri perlahan menjadi jalan yang bukan hanya memberinya identitas, tetapi juga kesempatan untuk mengubah kehidupan keluarganya.
Perjalanan Sonrak menuju level profesional tidak langsung dimulai dari fasilitas latihan kelas dunia. Dalam wawancaranya dengan ONE Championship, ia mengakui bahwa ketika mengikuti Road to ONE: Thailand pada 2022, dirinya masih berlatih sendiri di daerah pedesaan dan belum memiliki persiapan yang memadai. Ia berhasil melaju hingga final turnamen, tetapi harus mengakui keunggulan Dedduanglek Torfunfarm. Kekalahan tersebut terasa sangat menyakitkan karena selain kehilangan gelar turnamen, Sonrak juga kehilangan kesempatan memperoleh kontrak besar ONE Championship yang akhirnya menjadi milik Dedduanglek.
Alih-alih berhenti, kekalahan itu menjadi titik balik. Sonrak kemudian memindahkan pusat latihannya ke Fairtex Training Center di Pattaya. Di sana, ia mendapatkan akses terhadap pelatih serta rekan latihan berkualitas tinggi yang membantu membangun kembali permainan striking-nya. Perubahan tersebut terlihat jelas ketika ia mulai tampil reguler di ONE Friday Fights. Debutnya terjadi pada 20 Januari 2023 melawan Tai Sor Jor Piek Uthai dan berakhir dengan kemenangan angka. Setelah itu, jalannya tidak selalu mulus. Ia kalah dari Superlek Jitmuangnon, Paruehatnoi TBM Gym dan Mongkolkaew Sor Sommai, sebelum kembali membangun momentum.
Momentum besar mulai datang pada 2024. Pada ONE Friday Fights 56, Sonrak menghadapi Masaya Katsuno dalam laga flyweight Muay Thai. Ia menunjukkan karakter khasnya dengan terus menekan dan akhirnya menghentikan Katsuno melalui KO pada ronde kedua. Beberapa bulan kemudian, ia mengalahkan Alfie Ponting lewat keputusan mayoritas dan Yuki Kasahara melalui keputusan mutlak. Dalam pertarungan melawan Kasahara, tangan kiri Sonrak menjadi senjata utama untuk membuka pertahanan lawan, sebelum ia memanfaatkan lutut dan siku dalam pertarungan jarak dekat. Kemenangan itu membawa rekor keseluruhannya saat itu menjadi 66-22.
Tahun 2025 memperlihatkan versi Sonrak yang semakin matang. Ia memenangkan empat pertandingan beruntun di ONE, termasuk kemenangan atas Joachim “Pantera” Ouraghi dan Petwichit Singha Mawynn. Pertarungan melawan Petwichit menjadi salah satu penampilan pentingnya karena Sonrak tidak sekadar mengandalkan agresivitas. Ia membaca jarak terlebih dahulu, kemudian berulang kali menembus pertahanan lawan dengan pukulan kiri sebelum menutup laga dengan tekanan dan serangan siku. Namun, rentetan tersebut akhirnya terhenti ketika ia kalah dari Khunponnoi Sor Sommai dan kemudian Samingdam Looksuan.
Menariknya, Sonrak justru kembali memperlihatkan daya ledaknya pada akhir 2025. Menghadapi Yamin PK Saenchai di ONE Friday Fights 130, ia menjatuhkan lawannya dengan hook kanan pada ronde pertama. Pada Januari 2026, ia kembali mencatat kemenangan spektakuler atas Buakhiao Por Paoin. Kali ini, tekanan konstan, hook, dan pukulan lurus kiri membuat Buakhiao dua kali jatuh sebelum laga dihentikan pada ronde kedua. Dua kemenangan KO tersebut memperlihatkan evolusi seorang petarung yang mulai menggabungkan kekuatan alami dengan pengaturan jarak dan counter-striking yang lebih matang.
Secara gaya, Sonrak adalah southpaw dengan karakter Muay Mat—petarung yang mengandalkan pukulan keras dan tekanan jarak dekat. Ia gemar memotong ruang, memasuki pocket, lalu menghujani lawan dengan straight left, hook, low kick, dan siku. ONE Championship menggambarkannya sebagai petarung yang membangun permainannya melalui tekanan tanpa henti, pukulan bertenaga, low kick, dan serangan siku dari jarak dekat. Mentalitasnya pun sejalan dengan gaya tersebut: ia lebih memilih mengambil inisiatif daripada menunggu lawan bekerja.
Puncak dramatis perjalanan Sonrak datang pada Maret 2026 ketika ia akhirnya mendapatkan kesempatan menghadapi kembali Dedduanglek. Namun, sejarah kembali berulang. Dalam pertarungan tiga ronde di Lumpinee Stadium, Dedduanglek mampu mengontrol jarak dengan middle kick dan push kick, sementara Sonrak terus maju dengan pukulan keras. Dedduanglek akhirnya menang melalui keputusan mutlak. Empat bulan kemudian, Sonrak kembali kalah dari Wuttikrai Wor Chakrawut melalui keputusan mutlak.
Hingga Oktober 2026, catatan yang dikutip ONE menunjukkan Sonrak telah mengumpulkan 9 kemenangan dan 8 kekalahan di ONE Championship, sementara catatan karier yang dilaporkan sebelum kekalahan-kekalahan 2026 berada di angka 71-24. Dengan dua kekalahan tambahan pada 2026, rekornya secara keseluruhan berada di sekitar 71-26, tergantung cakupan pencatatan pertandingan yang digunakan.
Namun, angka bukan satu-satunya cara memahami perjalanan Sonrak. Dari pedesaan di perbatasan Myanmar-Thailand, kekalahan di Road to ONE, masa sulit di awal karier ONE, hingga bangkit sebagai salah satu petarung Fairtex yang paling berpengalaman, kisahnya lebih tepat dibaca sebagai perjalanan tentang ketahanan. Sonrak mungkin belum mendapatkan kontrak besar yang sejak lama ia incar, tetapi setiap kali kariernya tampak berada di ujung, ia selalu menemukan alasan untuk kembali ke ring. Dan bagi seorang petarung, kemampuan untuk bangkit setelah jatuh sering kali sama pentingnya dengan kemampuan menjatuhkan lawan.
(PR/timKB)
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda