Jakarta – Charles “InnerG” Johnson bukan petarung yang sejak kecil sudah merancang jalan menuju UFC. Lahir pada 10 Januari 1991 di Topeka, Kansas, Amerika Serikat, Johnson justru menemukan dunia bela diri secara tidak sengaja. Pada 2012, ketika sedang pulang dari kuliah, sang kakak membutuhkan partner latihan gulat untuk persiapan sebuah pertandingan amatir. Johnson sendiri sudah memiliki latar belakang kuat sebagai pegulat sekolah menengah dan atlet atletik. Ketika lawan sang kakak batal bertanding, ia ditawari mengambil pertarungan. Setelah hanya sekitar satu setengah minggu berlatih, Johnson menerima kesempatan tersebut—dan langsung jatuh cinta pada MMA.
Perjalanannya menuju level profesional tidak berlangsung mulus. Johnson harus menjalani berbagai pekerjaan agar tetap bisa berlatih dan bertahan hidup, mulai dari pertukangan, mekanik mobil, retail hingga menjadi pelatih gulat sekolah menengah selama lima tahun. Ia juga pernah menghadapi periode sangat sulit ketika kehilangan beasiswa kuliah dan mengalami homelessness. Namun, pengalaman tersebut justru membentuk mentalitas kompetitifnya. Sebelum masuk UFC, Johnson membangun reputasi sebagai salah satu flyweight paling berbahaya di sirkuit regional. Ia menjadi juara Legacy Fighting Alliance (LFA) Flyweight dan berhasil mempertahankan gelarnya beberapa kali. Sebelum memasuki UFC, rekornya telah mencapai 11-2.
Debut UFC Johnson terjadi pada 23 Juli 2022 di UFC London, menghadapi prospek tak terkalahkan Muhammad Mokaev. Johnson kalah melalui keputusan mutlak, tetapi kekalahan tersebut menjadi pengalaman penting menghadapi level kompetisi tertinggi. Ia kemudian bangkit dengan kemenangan split decision atas Zhalgas Zhumagulov dan menghentikan Jimmy Flick melalui pukulan serta elbow pada ronde pertama. Setelah itu, ia mengalami beberapa kekalahan beruntun, termasuk dari Ode’ Osbourne, Cody Durden dan Rafael Estevam. Fase tersebut menjadi titik evaluasi besar dalam kariernya. Johnson menyadari bahwa kemampuan teknis saja tidak cukup; ia harus belajar mengatur latihan, pemulihan, strategi dan kondisi mental secara lebih matang.
Perubahan itu terlihat jelas sepanjang 2024. Johnson meraih kemenangan atas Azat Maksum dan Jake Hadley sebelum menghasilkan salah satu momen paling penting dalam kariernya. Pada 13 Juli 2024, ia menghadapi Joshua Van dan mencetak kemenangan KO hanya dalam 20 detik pada ronde ketiga. Hasil itu semakin bernilai karena Van kemudian berkembang menjadi juara kelas flyweight UFC. Johnson bahkan hingga kini menjadi satu-satunya petarung yang pernah mengalahkan Van dengan KO. Pada Oktober 2024, ia kembali menang melalui keputusan mutlak atas Sumudaerji, memperlihatkan bahwa dirinya bukan hanya spesialis knockout, tetapi juga mampu bertarung efektif selama tiga ronde.
Karier Johnson kemudian memasuki fase baru. Setelah kalah dari Ramazon Temirov pada Maret 2025, ia bangkit secara spektakuler dengan KO atas Lone’er Kavanagh pada Agustus tahun yang sama. Kavanagh saat itu dipandang sebagai salah satu prospek menarik di divisi flyweight. Johnson kemudian melewati dua pertarungan penting pada 2026: kalah dari Alex Perez melalui TKO pada Januari, sebelum membalas dengan kemenangan split decision atas Bruno Silva pada Maret. Pada Juni, ia menyerah kepada Asu Almabayev melalui submission, tetapi kembali menunjukkan ketangguhan dengan kemenangan submission atas Eduardo Henrique lewat Scottish twister pada ronde ketiga UFC 330, 15 Agustus 2026. Hasil tersebut membawa rekor profesionalnya menjadi 20-9.
Secara teknis, Johnson bertarung di kelas flyweight (125 pound) dan memiliki tinggi sekitar 175 cm dengan reach 178 cm. Ia menggunakan stance switch dan menggabungkan fondasi gulat dengan striking yang dinamis. Statistik kariernya menunjukkan delapan kemenangan KO/TKO dan empat kemenangan submission, sementara kemampuan bertarungnya tidak terbatas pada satu metode penyelesaian. Johnson dikenal agresif, memiliki volume serangan tinggi, dan nyaman menciptakan pertarungan dalam tempo cepat. Latar belakang gulat membuatnya mampu menggabungkan tekanan, kontrol posisi dan striking, sedangkan kemampuan grappling-nya berkembang hingga menghasilkan kemenangan submission di level UFC.
Menariknya, Johnson tidak memandang pertarungan hanya sebagai adu kekuatan. Ia menyebut Max Holloway sebagai salah satu figur yang paling ia kagumi karena kebebasan dan kreativitasnya ketika bertarung. Ia juga mengagumi nama-nama seperti Samart Payakaroon, Pernell Whitaker, Dominick Cruz dan Jon Jones—petarung yang menurutnya memiliki kecerdasan serta kemampuan defensif tinggi. Filosofi tersebut membantu menjelaskan evolusi Johnson: bukan sekadar maju menyerang, tetapi membaca ritme, menemukan flow state dan berusaha tampil sesuai kemampuannya sendiri, bukan mengikuti level lawan. Ia pernah menegaskan bahwa ketika dirinya benar-benar masuk ke “flow”, sangat sedikit petarung yang mampu mengimbangi ritmenya.
Di luar cage, Johnson tetap memiliki sisi kreatif yang kuat. Ia pernah menempuh pendidikan Graphic Communication/Design, menyukai desain grafis, musik, video game seperti League of Legends, serta berbagai budaya pop. Namun di dalam cage, perjalanan hidupnya menjadikan “InnerG” sebagai petarung yang keras kepala dalam arti positif: seseorang yang sudah terbiasa kehilangan sesuatu, bangkit, lalu membangun kembali dirinya. Dari pegulat sekolah di Kansas, pekerja serabutan dan juara LFA hingga veteran UFC dengan 29 pertarungan profesional, Charles Johnson membuktikan bahwa perjalanan menuju level elite tidak selalu berbentuk garis lurus. Kadang, justru luka, kegagalan dan kesempatan yang datang secara kebetulan yang membentuk seorang petarung menjadi jauh lebih lengkap.
(PR/timKB)
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda