Menguak Tradisi Unik Di Panggung Olahraga Dunia

Eva Amelia • 05/11/2026 • 5 min read
Menguak Tradisi Unik Di Panggung Olahraga Dunia

Jakarta – Ajang olahraga internasional seperti Olimpiade, Kejuaraan Dunia, atau Asian Games selalu menyuguhkan pemandangan yang ikonik dan berulang dari masa ke masa. Ketika seorang atlet berhasil keluar sebagai juara dan berdiri di podium tertinggi, mengalungkan medali emas, mereka hampir selalu melakukan satu ritual yang sama di hadapan puluhan juru kamera. Para atlet tersebut mengangkat medali kemenangan mereka, mendekatkannya ke mulut, lalu dengan ringan menggigitnya. Pemandangan ini seolah telah menjadi kewajiban tak tertulis yang melengkapi selebrasi kemenangan. Fenomena ini kerap memancing rasa penasaran publik global. Mengapa para juara dunia ini begitu gemar menggigit medali mereka? Apakah tindakan tersebut memiliki makna filosofis yang dalam, atau sekadar tren konyol yang menular dari satu atlet ke atlet lainnya?

Untuk memahami tradisi unik ini secara menyeluruh, kita harus melirik sejarah masa lalu yang berkaitan erat dengan metode pengujian keaslian logam mulia. Pada masa lampau ketika mata uang emas murni masih banyak digunakan dalam sistem transaksi perdagangan internasional, emas dikenal memiliki karakteristik fisik yang khas. Logam mulia ini memiliki tingkat kepadatan yang tinggi namun di sisi lain memiliki struktur yang relatif lunak dan mudah dibentuk apabila dibandingkan dengan jenis logam campuran lainnya seperti besi, perunggu, atau nikel. Tradisi menggigit koin emas atau logam mulia lainnya dilakukan oleh para pedagang untuk menguji tingkat kemurniannya. Jika koin tersebut digigit dan meninggalkan bekas gigitan berupa sedikit lekukan tipis di permukaannya, maka dapat dipastikan bahwa koin tersebut terbuat dari emas murni asli. Sebaliknya, jika gigi terasa sakit dan permukaan logam tetap keras tanpa cacat sedikit pun, maka sudah dipastikan benda tersebut merupakan logam palsu atau sekadar besi lapis emas.

Meskipun logika kuno tersebut sangat masuk akal pada era perdagangan masa lampau, pertanyaannya kemudian adalah apakah metode uji keaslian ini masih relevan jika diterapkan pada medali emas modern? Jawabannya tentu saja tidak. Berdasarkan standar resmi yang ditetapkan oleh Komite Olimpiade Internasional maupun berbagai federasi olahraga dunia lainnya, medali emas yang diperebutkan oleh para atlet top dunia sebenarnya sama sekali tidak terbuat dari emas murni murni seratus persen. Sejak terakhir kali emas murni digunakan pada ajang Olimpiade Musim Panas di Stockholm pada tahun 1912 silam, komposisi medali emas mengalami pergeseran besar karena alasan efisiensi anggaran dan ketersediaan material. Saat ini, sebuah medali yang disebut sebagai medali emas sebagian besar justru tersusun dari bahan dasar logam perak murni berkualitas tinggi. Lapisan emas murni yang melapisi bagian luar medali tersebut kuantitasnya sangatlah sedikit, yakni hanya seberat minimal enam gram saja berdasarkan regulasi ketat Olimpiade. Oleh karena itu, jika seorang atlet benar-benar menggigit medali emas dengan kekuatan penuh demi menguji keasliannya, mereka tidak akan menemukan bekas gigitan emas murni melainkan justru berisiko merusak gigi mereka sendiri.

Lalu, jika alasan uji kemurnian sudah tidak lagi relevan di era modern ini, apa yang sebenarnya memotivasi para atlet untuk terus melanjutkan tradisi menggigit medali? Jawabannya justru bergeser dari ranah fungsional menuju ranah industri media massa dan fotografi modern. Di era digital dan dunia penyiaran olahraga global saat ini, para fotografer profesional dari berbagai kantor berita dunia berlomba-lomba untuk mengabadikan momen paling emosional dan ikonik dari seorang juara. Para fotografer di pinggir lapangan sering kali meneriakkan instruksi atau memberikan gestur kepada para atlet peraih medali untuk berpose secara khusus. Pose menggigit medali terbukti menjadi salah satu sudut pandang visual yang paling diminati oleh para juru kamera karena menghadirkan ekspresi wajah yang sangat natural, penuh suka cita, dan interaktif. Ketika seorang atlet menggigit medali, mereka secara tidak sadar mendekatkan wajah mereka ke arah medali tersebut, menciptakan fokus visual yang kuat, serta sering kali menampilkan senyuman lebar bercampur rasa bangga yang luar biasa di depan kamera. Pose semacam ini dinilai jauh lebih hidup dan dinamis dibandingkan sekadar berdiri tegak kaku sambil memegang medali di depan dada.

Selain faktor permintaan dari para fotografer media massa, ada pula aspek psikologis yang mendalam mengenai alasan mengapa para atlet begitu menikmati momen tersebut. Kemenangan dalam sebuah kejuaraan tingkat dunia atau Olimpiade adalah puncak dari kerja keras bertahun-tahun, keringat, air mata, pengorbanan mental, serta latihan fisik yang melelahkan. Ketika medali tersebut akhirnya resmi dikalungkan di leher mereka, banyak atlet merasa bahwa pencapaian luar biasa itu terasa seperti mimpi atau sesuatu yang tidak nyata. Tindakan fisik berupa menggigit medali memberikan sensasi nyata yang dapat dirasakan oleh indra perasa mereka. Sentuhan logam dingin pada bibir dan gigi mereka bertindak sebagai bentuk konfirmasi fisik bahwa momen kejayaan ini benar-benar terjadi di dunia nyata dan bukan sekadar khayalan semata. Ini adalah cara instan bagi tubuh dan pikiran sang atlet untuk membumikan rasa bahagia yang meluap-luap.

Di samping itu, kebiasaan ini juga telah berubah menjadi sebuah tradisi turun-temurun yang secara otomatis ditiru oleh para atlet muda dari senior-senior terdahulu. Ketika seorang atlet tumbuh dewasa dengan menyaksikan idola olahraga favorit mereka merayakan kemenangan dengan menggigit medali di layar kaca televisi, tindakan tersebut tertanam di dalam alam bawah sadar mereka sebagai simbol universal kesuksesan tertinggi. Oleh karena itu, ketika giliran mereka sendiri yang berhasil berdiri di podium juara, secara naluriah mereka akan mengulangi gestur ikonik yang sama tanpa perlu berpikir panjang. Tindakan tersebut telah bertransformasi menjadi semacam bahasa tubuh universal dalam dunia olahraga yang langsung dimengerti oleh jutaan penonton di seluruh penjuru dunia tanpa perlu diterjemahkan lagi dengan kata-kata.

Meskipun tradisi ini telah mendarah daging dan mendatangkan banyak foto ikonik yang menghiasi halaman utama surat kabar internasional keesokan harinya, tindakan menggigit medali ini terkadang tidak selalu berujung pada momen yang mulus. Dalam beberapa kesempatan langka, antusiasme berlebihan yang ditunjukkan oleh para atlet justru berbuah insiden kecil yang memalukan namun menggelitik. Salah satu contoh kasus yang paling sering dikenang terjadi pada atlet lari cepat asal Jerman, David Storl, yang secara tidak sengaja mematahkan giginya sendiri ketika melakukan selebrasi menggigit medali perak yang baru saja ia menangkan di ajang kejuaraan dunia atletik. Insiden serupa juga pernah dialami oleh beberapa atlet lainnya yang terlalu bersemangat menggigit medali mereka dengan tenaga penuh, sehingga meninggalkan cerita lucu di balik gemerlapnya pesta kemenangan. Pengalaman-pengalaman unik semacam ini pada akhirnya justru semakin menambah daya tarik serta warna tersendiri dalam sejarah panjang tradisi olahraga dunia.

Pada akhirnya, tradisi menggigit medali emas di atas podium kemenangan merangkum perjalanan panjang dari sebuah metode uji transaksi ekonomi kuno hingga menjelma menjadi sebuah bahasa visual modern yang penuh makna emosional. Tindakan sederhana ini bukan lagi sekadar urusan memeriksa kualitas kadar logam mulia, melainkan sebuah perayaan simbolis atas dedikasi, ketekunan, dan puncak prestasi tertinggi seorang manusia dalam bidang olahraga. Melalui satu gigitan kecil pada sepotong logam berharga tersebut, para atlet merangkum seluruh letih, peluh, dan air mata perjuangan hidup mereka ke dalam satu bingkai abadi yang disaksikan oleh seluruh umat manusia di muka bumi. Tradisi ini akan terus hidup, diwariskan dari satu generasi juara ke generasi berikutnya, sebagai pengingat abadi bahwa kerja keras dan ketekunan pada akhirnya selalu berbuah manis di garis finish.

Bagaimana pandangan Anda mengenai tradisi unik para atlet dunia yang satu ini?

(EA/timKB)

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...