Vindes: Sekadar Sport Gimmick atau Sebuah Model Community Engagement? 

Boas Simanjuntak 25/07/2022 3 min read
Vindes: Sekadar Sport Gimmick atau Sebuah Model Community Engagement? 

Bukan baru kali ini saja, Vindes (Vincent-Desta) mengadakan pertandingan olahraga dengan jangkauan puluhan ribu hingga jutaan penonton melalui kanal Youtube. Mulai dari dua pertandingan tenis meja atau pingpong antara Desta melawan Onad dan Abdel hingga pertandingan bulutangkis yang melibatkan Raisa dan Hesti. Semua pertandingan diadakan pada masa pandemi Covid-19 yang angkanya naik-turun, namun dari sisi pemasaran sebuah produk bisa dibilang meraih keuntungan melalui penonton dan iklan. Dua pertanyaan yang patut diajukan adalah “Apakah yang dilakukan Vindes bisa dianggap momen kebangkitan sebuah cabang olahraga tertentu?” dan “Mengapa bentuk yang dilakukan Vindes bisa menjadi contoh untuk memasarkan cabang olahraga tertentu?” 

Foto: Vindes

 

Momen kebangkitan 

Jika dibandingkan antara tenis meja dan bulutangkis, mulai dari kompetisi di dalam negeri hingga paparan melalui media sosial sang atlet dari masing-masing cabang olahraga, jelas bahwa bulutangkis serta atletnya lebih dikenal di Indonesia. Namun, jika mencermati kedua cabang olahraga tersebut ada tiga hal yang bisa dijadikan acuan dasar mengapa Vindes mau mengadakan kegiatan olahraga, yaitu: 

  1. Bulutangkis dan tenis meja adalah dua cabang olahraga yang sifatnya ‘Anak nongkrong banget’. Walaupun, mungkin saat ini sudah berkurang ketersediaan lapangan bulu tangkis atau meja pingpong di tempat di mana kita tinggal. 
  1. Terjangkau, dari sisi pengadaan tempat bertanding antar warga. Jika dibandingkan dengan sepakbola, yang masih dianggap sebagai “olahraga rakyat”, lapangan bulutangkis dan meja pingpong tidak membutuhkan biaya dan tempat yang besar. 
  1. Mudah dilakukan, dari sisi teknik olahraga tetapi tetap membutuhkan pola latihan yang benar agar tidak cedera. 

Tiga hal di atas bisa juga menjadi acuan untuk para pihak yang berkepentingan, dari negara hingga warga, untuk memilih mana yang, mulai dari karir sebagai atlet atau pelatih hingga manajemen klub olahraga untuk pendapatan dan mempopulerkan cabang olahraga, bisa menjadi andalan Indonesia pada kompetisi dalam dan luar negeri. 

Pemasaran Cabang Olahraga 

Di era industri 4.0, sudah lazim untuk memasarkan sebuah produk melalui media baru yang dikenal dengan media sosial. Vindes melakukan hal yang sama dengan warga lain yang sedang memasarkan produknya. Lalu, apa yang menjadi pembeda antara Vindes dengan panitia penyelenggara kegiatan olahraga pada umumnya? Ada lima hal menarik yang bisa kita pelajari dari Vindes, antara lain: 

  1. Positioning. Vindes adalah selebritis (penyiar radio, VJ MTV, host TV, dan bintang iklan). 
  1. Network. Publik yang menjadi pengikut Vindes adalah modal sosial untuk mendapat dukungan setiap mereka mengadakan acara. 
  1. Channel. Ruang jangkauan atau media yang menargetkan sebuah paket kecil keluarga (orang tua dari Gen X atau Milenial Awal dan anak-anak dari Gen Z). 
  1. Content. Acara olahraga yang berbalut humor atau senang-senang berhadiah, sebuah bentuk yang unik yang menjadi hiburan di tengah pandemi Covid-19. 
  1. Impact. Alat jualan melalui pembelian souvenir oleh para pengikut Vindes sebagai ‘menjadi bagian dari Vindes’. 

Butuh proses untuk membuktikan, apakah trend keterlibatan selebritis di Indonesia, dalam hal kepemilikan klub olahraga maupun menjadi Event Organizer pertandingan olahraga, efektif untuk menggerakkan publik di Indonesia seperti menjadi pendukung pertandingan atau kompetisi olahraga yang sifatnya internasional (EPL, NBA, Major League, TdF, Wimbledon, dll).  

Tetapi, dalam konteks Vindes serta manajemennya, mereka telah membuktikan sebuah rangkaian antara trik pemasaran (Sport Gimmick) dengan keterlibatan warga (Community Engagement), yaitu: Knowledge/Pengetahuan; kebanyakan warga di Indonesia sudah akrab dengan internet dan media sosial, sehingga banyak orang yang merasa FOMO/Fear of Missing Out atau ketakutan kehilangan kesempatan. Setiap orang berlomba untuk memasok pengetahuan, dari yang sumbernya belum tentu benar hingga sumber terpercaya. Orang Indonesia kan senang jika dianggap sebagai ‘Ahli’ terhadap isu tertentu, Engagement/Keterikatan; setelah merasa dirinya sudah memiliki pengetahuan akan dilanjutkan dengan rasa ingin tahu serta mau terlibat sebagai pengikut atau penonton, dan Ownership/Rasa Memiliki; dampak akhir dari terlibat dalam sebuah kegiatan adalah mau mempunyai sesuatu agar dianggap sebagai bagian yang tidak terpisahkan. 

Harapan kita, tidak hanya model Vindes yang akan muncul di masa depan olahraga Indonesia, harus ada model lain untuk sport gimmick dengan community engagement. Sebuah modal besar untuk cabang olahraga yang bisa menjadi alat untuk mempromosikan Indonesia di tingkat global. Semoga… 

(BS/timKB) 

Sumber foto: Youtube Vindes

Loading next article...