Perjalanan Karier Mohammed “The Motor” Usman Di UFC

Piter Rudai 28/12/2025 6 min read
Perjalanan Karier Mohammed “The Motor” Usman Di UFC

Jakarta – Di dunia MMA modern, nama Usman sudah identik dengan kegigihan, tekanan konstan, dan disiplin keras. Jika selama bertahun-tahun nama itu melekat pada sosok Kamaru Usman, sang mantan juara welterweight UFC, kini sorotan kian kuat mengarah pada sang adik, Mohammed Usman. Dijuluki “The Motor”, ia adalah representasi petarung heavyweight era baru: kuat, eksplosif, namun tetap sabar dan terukur dalam menghabisi lawan.

Anak Imigran, Mimpi Besar

Mohammed Usman lahir pada 1 April 1989 di Dallas, Texas, Amerika Serikat, dari keluarga asal Nigeria. Besar di lingkungan sederhana sebagai anak imigran, ia tumbuh dalam budaya kerja keras dan disiplin yang kuat. Orang tuanya menanamkan nilai bahwa satu-satunya jalan keluar dari keterbatasan adalah pendidikan, kerja keras, dan keberanian mengambil risiko.

Sejak kecil, Mohammed sudah aktif di dunia olahraga. Tubuh besarnya, tenaga yang di atas rata-rata, serta sifat kompetitif membuatnya menonjol di berbagai aktivitas fisik. Seperti banyak anak Amerika lainnya, ia sempat menyalurkan bakatnya lewat olahraga lain sebelum akhirnya menemukan “rumah” di dunia seni bela diri campuran.

Namun ada satu hal yang membedakannya: ia tumbuh dengan melihat langsung perjalanan kakaknya, Kamaru, yang harus bekerja ekstra keras untuk menembus MMA elit. Dari situ, Mohammed belajar bahwa bakat saja tidak pernah cukup – mental baja dan ketekunan adalah kunci sesungguhnya.

Dari Petarung yang Sedang Mencari Arah ke “The Motor”

Lahir dengan tubuh besar dan fisik kuat, Mohammed nyaris “ditakdirkan” untuk masuk ke kelas berat. Namun, perjalanan menuju status petarung profesional tidak terjadi dalam semalam. Ia melalui berbagai gym, pelatih, dan kompetisi kecil demi satu tujuan: menjadi petarung kelas dunia.

Di awal karier, gaya bertarungnya cenderung liar dan mengandalkan tenaga. Seiring waktu, jam terbang dan latihan intens membuatnya berevolusi menjadi petarung yang jauh lebih rapi. Dari sinilah julukan “The Motor” muncul: ia tidak hanya kuat, tetapi juga terus “menyala” sepanjang ronde, menekan lawan dengan intensitas yang jarang turun.

Rekor profesionalnya kemudian terbentuk dengan kuat: 17 kemenangan, 5 kekalahan, dan 1 hasil imbang, dengan 4 kemenangan lewat KO/TKO dan 2 kemenangan via submission. Distribusi ini memperlihatkan bahwa ia bukan hanya pemukul keras, tetapi juga mampu mengakhiri laga di matras saat peluang grappling terbuka.

Tiket Emas: Menjuarai The Ultimate Fighter 30

Momentum terbesar dalam karier Mohammed Usman datang ketika ia bergabung dengan ajang reality show prestisius The Ultimate Fighter (TUF) musim ke-30. TUF telah lama menjadi salah satu jalur utama bagi petarung berbakat untuk mendapatkan kontrak UFC, dan bagi Mohammed, ini adalah ajang pembuktian sekaligus “pintu besar” ke panggung utama.

Selama TUF 30, Mohammed memperlihatkan kombinasi:

    • Tekanan konstan
    • Pukulan keras dengan tangan kanan
    • Kesabaran memilih momen untuk masuk

Ia tidak sekadar ingin menang, tapi ingin menunjukkan bahwa dirinya layak berdiri sejajar dengan para heavyweight terbaik di dunia. Di final, kemenangan yang diraihnya mengukuhkan statusnya sebagai juara TUF 30 dan sekaligus memastikan kontrak resmi bersama UFC.

Bagi seorang petarung yang bertahun-tahun berjuang di bawah radar, momen itu adalah puncak emosional: sebuah validasi atas segala kerja keras, pengorbanan, dan kesabarannya menunggu kesempatan besar.

Heavyweight dengan Potensi Besar

Setelah menjuarai TUF 30, Mohammed resmi menjadi bagian dari divisi heavyweight UFC, salah satu kelas paling keras dan paling brutal di MMA. Di kelas inilah satu pukulan bisa mengubah karier, dan satu kesalahan kecil bisa berujung KO.

Sebagai petarung heavyweight:

    • Ia bertarung dengan stance ortodoks, mengandalkan jab untuk mengukur jarak.
    • Pukulan kanan lurus dan hook-nya menjadi senjata utama untuk membuka dan mengakhiri serangan.
    • Di saat yang sama, ia tetap memiliki kemampuan grappling dan submission, yang tercermin dari 2 kemenangan via kuncian dalam kariernya.

Gaya bermainnya sering kali dimulai dengan fase pembacaan ritme lawan. Mohammed jarang langsung “menerjang” tanpa perhitungan. Ia menggunakan jab dan gerakan kepala untuk memancing reaksi, lalu memanfaatkan celah dengan kombinasi yang keras dan akurat. Jika pertarungan berlanjut ke clinch atau ground, kemampuan grappling-nya membuatnya tetap berbahaya.

Di UFC, ia menghadapi lawan-lawan yang bukan hanya besar dan kuat, tetapi juga berpengalaman. Hasilnya pun naik-turun – sesuatu yang wajar di kelas berat yang begitu kompetitif. Namun, satu hal yang konsisten dari setiap penampilannya: niat untuk mengakhiri pertarungan. Tidak heran jika banyak penggemar menganggap setiap laga Mohammed Usman sebagai “fight to watch”.

Mesin Berat yang Terus Menekan

Julukan “The Motor” bukan sekadar gimmick. Gaya bertarung Mohammed mencerminkan mesin besar yang terus berputar:

    • Tekanan maju (forward pressure)
      Ia jarang membiarkan lawan nyaman berdiri di jarak ideal. Dengan langkah konsisten ke depan, ia memaksa lawan untuk selalu bereaksi.
    • Striking kuat dan lugas
      Ia mungkin bukan striker paling flamboyan, tetapi setiap pukulan datang dengan niat “menghancurkan”. Hook kanan, overhand, dan kombinasi ke kepala dan tubuh menjadi senjata favoritnya.
    • Grappling sebagai senjata cadangan mematikan
      Meski lebih dikenal sebagai striker, catatan 2 kemenangan submission menegaskan bahwa ia sangat berbahaya ketika pertarungan menyentuh matras. Ia memanfaatkan kekuatan fisik untuk mengontrol posisi, lalu mencari leher atau lengan lawan ketika ada peluang.
    • Mentalitas finisher
      Dari total kemenangan yang didapat lewat KO/TKO dan submission, terlihat jelas bahwa ia lebih suka menyelesaikan laga ketimbang mengandalkan keputusan juri.

Di kelas heavyweight, di mana imbalan dan risiko sama besarnya, gaya seperti ini membuat Mohammed menjadi sosok yang sangat menarik: tidak selalu “rapi”, tetapi selalu berbahaya.

Hidup di Bayang-Bayang Sang Kakak, Lalu Menulis Nama Sendiri

Salah satu aspek paling menarik dari sosok Mohammed Usman adalah identitasnya sebagai adik dari Kamaru Usman, mantan juara welterweight UFC. Bagi banyak orang, hal ini mungkin tampak seperti “jalan pintas” menuju sorotan. Namun, di balik itu, terdapat tekanan mental besar: ekspektasi publik, perbandingan terus-menerus, hingga anggapan bahwa ia hanya “ikut nama besar kakaknya”.

Alih-alih terpuruk oleh bayang-bayang tersebut, Mohammed menjadikannya bahan bakar. Ia memilih jalur berbeda: bukan di welterweight, tetapi di heavyweight – dunia yang jauh lebih brutal, lebih berat, dan penuh risiko. Di kelas ini, ia membangun identitasnya sendiri sebagai “The Motor”, bukan sekadar “adiknya Kamaru”.

Perjalanan hidupnya juga diwarnai ujian pribadi yang berat, termasuk kehilangan orang-orang terdekat, yang ia akui sebagai motivasi untuk bertarung dengan hati dan determinasi penuh. Di setiap laga, ia seperti membawa cerita bahwa ia sudah pernah melalui hal yang lebih menyakitkan daripada sekadar pukulan atau tendangan di oktagon.

Posisi di Divisi Heavyweight dan Masa Depan “The Motor”

Dengan rekor 14 kemenangan dan 6 kekalahan di UFC dan level profesional, serta komposisi kemenangan yang didominasi KO/TKO, Mohammed Usman jelas bukan petarung yang bisa diremehkan. Ia mungkin belum duduk di jajaran penantang gelar, tetapi:

  • Ia sudah membuktikan diri sebagai finisher berbahaya.
  • Ia membawa nama besar, bukan hanya karena keluarga, tetapi juga karena performa.
  • Ia bersaing di salah satu divisi paling “kejam” di UFC, di mana satu kemenangan besar bisa mengubah posisi peringkat secara drastis.

Ke depan, perkembangan Mohammed akan banyak ditentukan oleh:

  1. Kemampuan mengasah cardio dan pertahanan untuk menghadapi lawan yang teknikal serta memiliki jangkauan mirip.
  2. Variasi striking dan permainan clinch yang lebih kaya, agar ia tidak mudah terbaca sebagai “pure power puncher”.
  3. Kematangan taktik – kapan menekan, kapan menghemat energi, dan kapan memindahkan pertarungan ke ground.

Jika ia mampu menggabungkan kekuatan alami heavyweight dengan taktik cerdas dan disiplin teknis, bukan tidak mungkin “The Motor” akan menjadi salah satu ancaman serius di papan atas divisi heavyweight UFC.

Mesin Berat yang Terus Menyala

Dari Dallas menuju panggung dunia, dari bayang-bayang kakak hingga menorehkan namanya sendiri, Mohammed “The Motor” Usman adalah kisah tentang ketekunan dan keyakinan. Ia bukan produk instan—perjalanan panjang di level regional, ujian mental, dan pertarungan keras di TUF 30 membentuknya menjadi petarung heavyweight yang matang.

Dengan kombinasi striking kuat, kemampuan grappling, mental finisher, dan aura “mesin” yang tak pernah benar-benar padam, Mohammed Usman telah memantapkan dirinya sebagai salah satu tokoh penting di lanskap heavyweight UFC modern.

Perjalanannya masih jauh dari kata selesai, dan justru di situlah daya tariknya: setiap kali “The Motor” masuk oktagon, para penonton tahu satu hal—selalu ada kemungkinan besar bahwa laga akan berakhir sebelum bel terakhir berbunyi.

(PR/timKB).

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Berita Lainnya

Loading next article...