Jakarta – Ada kisah petarung yang dimulai dari gym besar, fasilitas lengkap, dan jalur karier yang sudah “tersedia”. Tapi kisah Farid Basharat terasa seperti ditulis dari halaman yang lebih keras: perpindahan, adaptasi, dan perjuangan membangun hidup baru—sebelum akhirnya membangun reputasi di arena yang tak memberi ampun, UFC.
Farid lahir pada 2 Agustus 1997 di Paktia, Afghanistan. Ia kemudian pindah ke Inggris bersama keluarga sebagai pengungsi ketika masih kecil—sebuah bab yang kelak membentuk wataknya di dalam oktagon: tenang, rapat, dan tak mudah digeser. Bersama kakaknya, Javid Basharat, Farid tumbuh di Inggris dan menjadikan bela diri bukan sekadar hobi, melainkan bahasa untuk bertahan dan berkembang.
Di UFC, Farid bertarung di divisi bantamweight (135 lbs). Julukannya: “Ferocious”—ganas. Bukan karena ia selalu berburu KO, melainkan karena ia mengunci pertarungan dengan disiplin: memadukan striking yang efisien dengan grappling yang lengket, lalu menutup laga melalui submission atau menang angka lewat kontrol. Dan sampai data terbaru yang banyak dipakai publik, ia masih tak terkalahkan: 14-0.
Profil singkat Farid Basharat
-
- Nama: Farid Basharat
- Julukan: Ferocious
- Lahir: 2 Agustus 1997, Paktia, Afghanistan
- Stance: Orthodox
- Divisi: Bantamweight UFC
- Rekor profesional: 14-0 (1 KO, 6 submission, 7 decision)
- Basis tim (tercantum di profil): Xtreme Couture
- Afiliasi/camp tambahan: tercatat/tersebut berasosiasi dan berlatih di American Top Team pada periode tertentu
Pengungsi, saudara, dan kompetisi yang membentuk mental petarung
Dalam cerita Farid, ada satu elemen yang sering muncul: keluarga. Wikipedia mencatat Farid dan kakaknya tiba di Inggris bersama ibu mereka sebagai pengungsi saat kecil, lalu bertemu kembali dengan sang ayah. Sejak itu, dua bersaudara ini hidup dalam “kompetisi” yang nyaris permanen—bukan kompetisi yang memecah, tapi kompetisi yang mendorong mereka maju setiap hari.
Di banyak karier petarung, ada momen ketika bela diri berubah dari aktivitas menjadi identitas. Pada Farid, peralihan itu terasa wajar: ketika hidup menuntut adaptasi cepat, olahraga tarung memberi struktur—rutinitas, disiplin, dan tujuan.
Julukan “Ferocious” pun menjadi semacam “terjemahan” dari perjalanan itu: bukan sekadar gaya liar, melainkan ketegasan—ketegasan dalam mengambil posisi, mengontrol ritme, dan menuntaskan peluang.
Membangun rekor di sirkuit Inggris, menang dengan kuncian dan ketenangan
Farid memulai karier profesionalnya terutama di kancah regional Inggris. Dalam catatan karier yang dirangkum, ia membangun rekor tak terkalahkan melalui kombinasi hasil yang khas untuk petarung berorientasi kontrol: submission dan decision, diselingi momen finishing cepat seperti KO via head kick pada periode awal.
Yang menarik, sejak fase ini terlihat identitasnya:
-
- Ia tidak terburu-buru mengejar KO jika tidak perlu.
- Ia nyaman “memenangkan ronde”, menempelkan lawan pada permainan grappling, lalu menguras opsi lawan satu per satu.
Di divisi bantamweight—kelas yang cepat dan penuh atlet eksplosif—kemampuan untuk tetap rapi sering lebih berharga daripada sekadar keberanian bertukar pukulan.
Dana White’s Contender Series dan tiket kontrak
Lonjakan terbesar karier Farid datang ketika ia mendapat panggilan ke Dana White’s Contender Series (Season 6). Di sana, ia menghadapi Allan Begosso dan menang via unanimous decision—kemenangan yang mengantar Farid mendapatkan kontrak UFC.
Ini penting karena Contender Series bukan hanya soal menang; ini soal menang dengan meyakinkan. Farid melakukannya dengan cara yang menjadi cirinya: rapat, disiplin, dan efektif.
“Ferocious” yang menang lewat kontrol—dari debut sampai jadi salah satu unbeaten paling menonjol
Masuk UFC, Farid tidak berubah menjadi petarung yang mendadak flamboyan. Justru ia semakin mempertegas identitasnya: menang dengan keputusan yang jelas, atau mengakhiri laga lewat submission ketika celah terbuka.
Beberapa tonggak penting di UFC yang tercatat luas:
1. Debut: menang angka di UFC 285
Farid menjalani debut UFC melawan Da’Mon Blackshear di UFC 285 (4 Maret 2023) dan menang via unanimous decision.
Debut adalah ujian saraf. Bagi Farid, itu jadi deklarasi: ia bukan hanya “prospek tak terkalahkan”, ia petarung yang bisa menang rapi di bawah tekanan panggung besar.
2. Momen submission yang mengangkat namanya: Paris
Pada 2 September 2023, Farid menghadapi Kleydson Rodrigues dan menang lewat arm-triangle choke ronde pertama.
Ini salah satu gambaran paling jelas tentang “Ferocious”-nya: saat orang mengira ia akan terus menang angka, ia menunjukkan bahwa ia bisa menutup pintu dengan kuncian.
3. Konsistensi menang ronde: Taylor Lapilus
Di 13 Januari 2024, Farid mengalahkan Taylor Lapilus via unanimous decision.
4 Ujian tak terduga: naik ke featherweight karena lawan overweight
Pada UFC 308 (26 Oktober 2024), Farid melawan Victor Hugo—yang semula dijadwalkan di bantamweight, tetapi berubah menjadi featherweight setelah Hugo gagal timbang secara ekstrem. Farid tetap menang via unanimous decision.
Ini momen yang sering membedakan petarung serius: ketika situasi berubah, ia tetap stabil.
5. Kemenangan paling “dewasa”: Chris Gutiérrez
Pada UFC 320 (4 Oktober 2025), Farid menang unanimous decision atas Chris Gutiérrez, menegaskan posisinya sebagai unbeaten yang terus menumpuk kemenangan di UFC.
Hingga titik ini, sumber-sumber statistik menempatkannya pada rekor 14-0, dengan kemenangan yang banyak datang dari submission (6) dan decision (7)—persis seperti deskripsi gaya bertarungnya: memadukan striking dan grappling, lalu memaksa lawan bertahan lama dalam posisi tidak nyaman.
Orthodox, “rapat”, dan ganas dalam detail kecil
Farid bertarung dengan orthodox stance.
Namun yang membuatnya menonjol bukan sekadar kuda-kuda, melainkan cara ia memenangi ruang:
-
- Striking untuk membuka pintu, bukan sekadar adu keras: ia memakai pukulan/tendangan untuk menciptakan reaksi—lalu masuk ke clinch atau transisi grappling.
- Grappling yang menempel: ketika Farid sudah mendapat kontak, ia jarang memberi lawan jarak nyaman.
- Submission sebagai klimaks, bukan kebetulan: arm-triangle di UFC membuktikan bahwa finishing-nya lahir dari posisi dominan, bukan “tebakan”.
Itulah “Ferocious” versi Farid: bukan petarung yang selalu heboh, tapi petarung yang membuat lawan kehabisan opsi.
Dua rumah latihan—Xtreme Couture dan American Top Team
Farid tercantum berlatih di Xtreme Couture (Las Vegas) pada profil publik seperti Wikipedia dan ESPN.
Di sisi lain, jejak kampnya juga kuat di American Top Team—terlihat dari afiliasi di FightMatrix dan unggahan media sosialnya yang menyebut periode latihan panjang di sana.
Model “dua rumah” ini umum pada petarung elite modern: mereka mencari sparring terbaik, pelatih spesifik, dan ekosistem latihan yang paling cocok untuk kebutuhan tiap camp.
Rekor unbeaten, rentetan menang di UFC, dan status prospek elite Afghanistan
Prestasi terbesar Farid Basharat saat ini sederhana namun mahal: tak terkalahkan—dan bukan tak terkalahkan di level rendah, melainkan tak terkalahkan sambil terus mengumpulkan kemenangan di UFC.
Ia juga dijadwalkan menghadapi Jean Matsumoto pada 7 Februari 2026 (UFC Fight Night 266).
Bagi petarung yang lahir dari kisah pengungsian, jadwal laga berikutnya selalu terasa lebih dari sekadar pertandingan: itu kelanjutan dari narasi—bahwa identitas, asal, dan masa lalu bisa dibawa naik kelas, ronde demi ronde.
“Ferocious” yang paling berbahaya adalah yang tidak panik
Di bantamweight UFC, banyak petarung cepat dan kuat. Tetapi yang paling berbahaya sering kali adalah yang tidak panik—yang tetap rapi ketika lawan mulai liar, yang tetap sabar ketika penonton ingin perang, dan yang tetap cerdas saat peluang submission muncul sepersekian detik.
Farid Basharat adalah tipe itu.
Dan bila rekor 0 di kolom kekalahannya tetap bertahan seiring level lawan naik, “Ferocious” bisa berubah makna: bukan hanya julukan, melainkan peringatan—bahwa ada seorang petarung dari Paktia yang datang jauh-jauh untuk membuktikan satu hal: ia tidak lahir di jalur mudah, jadi ia tidak terbiasa menang mudah.
(PR/timKB).
Sumber foto: instagram
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda