Kulit Bundar

New Age of Sports Community

Ange Loosa “The Last Ninja”: Dari Kinshasa Ke Oktagon UFC


Jakarta – Ada petarung yang jalannya rapi—naik level perlahan, dibangun promotor, dijaga matchmaking. Tapi ada juga petarung yang hidupnya seperti koper di bandara: selalu berpindah, selalu mengejar kesempatan berikutnya. Ange Loosa termasuk yang kedua. Ia lahir pada 18 Maret 1993 di Kinshasa, Republik Demokratik Kongo, lalu tumbuh menjadi petarung yang identitasnya dibentuk oleh perpindahan, adaptasi, dan daya tahan. Di UFC, ia bertarung di divisi welterweight, membawa gaya kickboxing ber-stance orthodox yang agresif—keras di depan, cepat menyala, dan sering mencoba menyelesaikan laga sebelum cerita berkembang terlalu panjang.

Julukannya, “The Last Ninja”, terdengar seperti karakter film—dan memang ada sesuatu yang “ninja” dari cara Loosa bertarung: langkahnya ringan, kombinasi pukul-tendangnya eksplosif, lalu tiba-tiba ia sudah menekan lawan di pagar oktagon, memaksa duel jadi pertukaran yang tidak nyaman. Dari data yang tercatat, ia punya 5 kemenangan KO/TKO dan 1 kemenangan submission, serta enam penyelesaian ronde pertama—tanda bahwa ketika ia menemukan ritme, ia bisa menutup lampu lebih cepat dari perkiraan penonton.

Namun yang membuat kisah Loosa menarik bukan hanya cara ia menyerang, melainkan cara ia “bertahan sebagai orang”—petarung kelahiran Kongo yang dikenal sebagai petarung Swiss di berbagai profil, lalu berlatih di kamp elite Amerika. Di atas kanvas oktagon, identitas itu menyatu menjadi satu kalimat: petarung perantau yang selalu siap dipanggil, kapan pun, melawan siapa pun.

Profil singkat Ange Loosa

    • Nama: Ange Loosa
    • Julukan: The Last Ninja
    • Lahir: 18 Maret 1993, Kinshasa, RD Kongo
    • Divisi: Welterweight (170 lbs)
    • Stance: Orthodox
    • Rekor pro:10 menang – 5 kalah – 1 no contest
    • Gaya utama: kickboxing agresif, tekanan tinggi, finisher cepat

Akar gaya: kickboxing yang membentuk kebiasaan “mulai cepat”

UFC mencatat fakta yang sederhana tetapi “menjelaskan” banyak: Loosa berkarier pro sejak 2013, dengan lima kemenangan KO, satu submission, dan enam penyelesaian ronde pertama. Artinya, sejak awal ia terbiasa memulai laga dengan niat tegas—bukan sekadar mengumpulkan poin.

Kickboxing—terutama yang dibawa ke MMA modern—sering melahirkan petarung dengan kebiasaan tertentu: kontrol jarak, tempo yang dipercepat, dan insting menembak kombinasi ketika lawan ragu sepersekian detik. Pada Loosa, kebiasaan itu muncul dalam bentuk agresivitas yang “langsung”: ia maju, mendorong lawan bereaksi, lalu mencari celah untuk menyelesaikan.

Dan di welterweight, divisi yang penuh petarung besar dengan daya pukul berat, sifat seperti ini bisa jadi pisau bermata dua. Ia bisa mencuri kemenangan cepat—atau terseret ke pertarungan panjang yang menguji stamina dan disiplin. Itulah mengapa perjalanan Loosa di UFC terasa seperti drama berseri: kadang meledak, kadang menyesakkan, tapi jarang membosankan.

Pintu UFC yang tidak biasa: Contender Series, kalah tapi tetap dipanggil

Banyak orang membayangkan Dana White’s Contender Series (DWCS) sebagai jalur “menang lalu kontrak”. Loosa mengalami versi yang lebih keras: ia tampil di DWCS Season 5 dan kalah keputusan juri dari Jack Della Maddalena—nama yang kemudian terbukti menjadi salah satu striker terbaik di kelasnya.

Anehnya, kekalahan itu tidak menutup pintu. Loosa justru terlihat cukup kompetitif untuk membuat UFC mengingat namanya. Dan ketika kebutuhan datang—ketika kartu pertandingan membutuhkan pengganti—Loosa menjadi tipe petarung yang dicari promotor: siap tempur, siap berangkat, siap ambil risiko.

Debut UFC mendadak: UFC Fight Night “Luque vs Muhammad 2” melawan Mounir Lazzez

April 2022, pada event yang dikenal sebagai UFC Fight Night: Luque vs Muhammad 2, Loosa mendapat debut UFC melawan Mounir Lazzez—sebuah panggilan yang datang dalam konteks perubahan kartu (short-notice).

Hasilnya tidak manis: Loosa kalah unanimous decision. Tetapi, untuk petarung yang masuk lewat situasi darurat, debut seperti ini sering menjadi “pajak” yang harus dibayar—pajak berupa pengalaman: merasakan tempo UFC, merasakan bagaimana hakim menilai, merasakan bahwa setiap detik yang terbuang untuk adaptasi bisa menjadi ronde yang hilang.

Di titik ini, banyak karier berhenti. Tapi Loosa bukan petarung yang hidup dari jalur mulus.

Malam yang penting: kemenangan pertama di UFC 278

Agustus 2022, Loosa akhirnya mendapat momen yang ia butuhkan—kemenangan pertamanya di UFC, saat menghadapi A.J. Fletcher di UFC 278.

Kemenangan pertama selalu punya makna psikologis: ia mematahkan narasi “tidak cocok di level ini”. Ia juga memberi petarung ruang bernapas—ruang untuk percaya bahwa gaya bertarungnya bisa berhasil jika ia cukup disiplin memilih momen, bukan hanya maju dengan emosi.

UFC Paris: menang atas Rhys McKee, membuktikan bisa “bertahan sampai habis”

September 2023 di Paris, Loosa menghadapi Rhys McKee dan menang unanimous decision. Laporan pertandingan menggambarkan bagaimana Loosa mendominasi awal, lalu harus bertahan dari tekanan di akhir—sebuah gambaran yang terasa akrab bagi petarung agresif: kamu bisa unggul besar, tetapi satu momen lengah bisa mengubah semuanya.

Kemenangan ini penting karena menampilkan sisi lain Loosa: bukan hanya finisher ronde pertama, tetapi juga petarung yang bisa menyimpan energi, mengelola ronde, dan tetap keluar sebagai pemenang ketika lawan mencoba membalikkan keadaan.

Kontroversi yang mengganggu momentum: No Contest vs Bryan Battle

Maret 2024, Loosa tampil di co-main event melawan Bryan Battle, namun laga berakhir No Contest akibat eye poke tidak sengaja. Insiden itu juga memicu tensi tinggi setelah keputusan diumumkan—momen yang membuat publik makin mengenal Loosa bukan hanya karena gaya tarungnya, tapi juga karena emosinya yang meledak ketika merasa pertarungan “dirampas” oleh keadaan.

Untuk petarung yang mencari stabilitas, No Contest adalah hasil yang paling menyebalkan: tidak menang, tidak kalah, tetapi tetap memakan waktu kamp, pemotongan berat, dan risiko cedera.

Dua ujian berat: kalah dari Gabriel Bonfim, lalu tumbang oleh comeback Phil Rowe

Juli 2024, Loosa menghadapi Gabriel Bonfim dan kalah unanimous decision.

Lalu Juni 2025, ia bertarung melawan Phil Rowe di Atlanta. Pertarungan itu menjadi salah satu contoh paling “kejam” tentang betapa cepat MMA bisa berubah: Loosa akhirnya kalah KO/TKO pada ronde 3 (4:03)—hanya kurang dari satu menit sebelum ronde berakhir—setelah Rowe menemukan momen untuk membalikkan laga dan menutup dengan rentetan pukulan.

Dua hasil ini membuat rekor Loosa di UFC tampak naik-turun, tetapi juga mempertegas identitasnya: ia jarang terlibat pertarungan yang hambar. Entah ia sedang menekan lawan, atau sedang bertahan dari badai, duel Loosa biasanya punya tensi.

Prestasi dan hal menarik yang membuat Ange Loosa berbeda

Finisher ronde pertama yang nyata

UFC menuliskan enam penyelesaian ronde pertama, dengan kombinasi KO dan submission—ciri petarung yang tidak membutuhkan banyak waktu untuk “membaca” lawan.

Jalur masuk yang “anti dongeng”

Loosa kalah di DWCS, tetapi tetap dipanggil UFC, lalu bertahan dan mengumpulkan laga-laga penting. Tidak banyak petarung yang menempuh rute seperti ini.

Identitas perantau: Kongo–Swiss–Amerika

Berbagai profil besar mencatat asalnya dari RD Kongo, namun ia juga dikenal sebagai petarung Swiss dan berlatih di tim besar (misalnya tercantum Kill Cliff FC di beberapa data). Ini membuat ceritanya terasa global—seperti MMA modern itu sendiri.

“The Last Ninja” dan pertarungan melawan waktu

Ange Loosa bukan kisah petarung yang dibesarkan oleh jalur nyaman. Ia adalah petarung yang hidup dari kesempatan—dari panggilan mendadak, dari kartu yang berubah, dari malam ketika kamu harus siap bertarung meski dunia baru mengenal namamu.

Di UFC, ia datang dengan kickboxing agresif, stance orthodox, dan reputasi sebagai petarung yang bisa menyelesaikan laga cepat. Rekornya (10-5-1 NC) mungkin tidak membuatnya langsung masuk percakapan gelar, tetapi gaya dan jalannya menjadikannya sosok yang selalu relevan di divisi welterweight: petarung yang bisa mengacaukan rencana siapa pun jika diberi ruang satu ronde saja.

Dan mungkin itulah esensi “The Last Ninja”: bukan soal menjadi yang paling terkenal, tetapi soal tetap berdiri—mengasah senjata, kembali ke oktagon, dan terus mencari satu malam besar berikutnya.

(PR/timKB).

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda