Jakarta – Di divisi flyweight UFC—tempat kecepatan jadi mata uang dan kesalahan sekecil apa pun bisa berujung petaka—Cody Marcus Brian Durden hadir dengan gaya yang terasa “keras kepala” dalam arti terbaiknya: southpaw, maju dengan striking agresif, lalu tiba-tiba mengubah arah pertarungan lewat takedown dan kuncian. Ia bukan tipe yang menunggu momen aman; ia lebih sering menciptakan kekacauan, lalu mencari celah untuk menyelesaikan. Di atas kertas, rekornya mencerminkan identitas itu: 17 menang, 9 kalah, 1 imbang, dengan 6 kemenangan KO/TKO dan 6 kemenangan submission.
Durden lahir pada 29 Maret 1991 di Covington, Georgia, Amerika Serikat, dan dikenal dengan julukan “Custom Made”—sebuah nama yang pas untuk petarung yang seolah “dibentuk sesuai pesanan” oleh kerasnya sirkuit regional Amerika: bertarung dari bawah, belajar dari kekalahan, lalu menempel di UFC bukan sebagai bintang instan, melainkan sebagai pekerja yang tak pernah berhenti datang ke kantor.
Profil singkat Cody Durden
-
- Nama lengkap: Cody Marcus Brian Durden
- Lahir: 29 Maret 1991, Covington, Georgia
- Divisi: Flyweight UFC
- Stance: Southpaw
- Julukan: Custom Made
- Gaya: striking agresif + grappling, brown belt Brazilian Jiu-Jitsu
- Rekor pro: 17-9-1 (6 KO/TKO, 6 submission)
Dari Georgia ke panggung besar: “produk” dari kerja panjang di regional
Sebelum namanya muncul di grafis UFC, Durden adalah petarung yang meniti karier lewat rute yang biasa ditempuh banyak atlet Amerika: sirkuit regional—arena tempat kamu tidak dibesarkan oleh hype, melainkan oleh jam terbang. Di sana, petarung belajar bertahan dari hal-hal yang tak terlihat di tayangan TV: jadwal yang berubah, lawan yang sering berbeda gaya, kamp yang tidak selalu mewah, serta kebutuhan untuk menang agar bisa dapat kesempatan berikutnya.
Yang membuat Durden menonjol sejak awal adalah paketnya yang “tidak satu dimensi”. Ia memang dikenal suka menekan dan melempar serangan, tetapi ia juga punya dasar grappling yang serius—tercatat brown belt BJJ—yang membuatnya nyaman ketika pertarungan berubah jadi perebutan posisi di matras.
Masuk UFC 2020: debut yang langsung “ribut” dan berakhir imbang
Durden masuk UFC pada 2020 dan debutnya terjadi pada UFC Fight Night 173 (UFC Vegas 5) melawan Chris Gutiérrez, sebagai pengganti untuk Luke Sanders. Pertarungan itu tidak berjalan seperti debut “aman”—justru berakhir draw (imbang), sebuah hasil yang jarang dan biasanya menyisakan perdebatan soal penilaian ronde.
Bagi banyak petarung, debut adalah soal menenangkan diri. Bagi Durden, debut justru jadi tanda: ia tidak datang untuk jadi figuran. Bahkan ketika hasilnya imbang, ia sudah menunjukkan ciri khas yang kelak sering terlihat—tempo tinggi, kemauan untuk adu fisik, dan keberanian membawa pertarungan ke wilayah yang membuat lawan tidak nyaman.
Turun ke flyweight: keputusan besar, konsekuensi besar
Setelah debut, Durden kemudian berpindah fokus ke flyweight. Perubahan divisi selalu menuntut penyesuaian—bukan cuma angka timbangan, tapi juga ritme. Flyweight bergerak lebih cepat; transisi lebih rapat; kesalahan kecil lebih sering dihukum.
Di fase awal flyweight, Durden mengalami pasang-surut. Ia dijadwalkan melawan Jimmy Flick, sempat tertunda, lalu kalah melalui flying triangle choke ronde pertama—sebuah pengingat pahit bahwa di divisi ini, satu momen grappling bisa langsung mengakhiri malam.
Tak lama setelah itu ia kembali jatuh lewat submission (guillotine) melawan Muhammad Mokaev, prospek yang dikenal punya grappling mencekik.
Namun justru di sinilah karakter Durden terasa: ia tidak mengubah dirinya menjadi petarung “aman”—ia malah membangun ulang, memperbaiki detail, lalu kembali dengan kemenangan.
Momentum kemenangan: ketika “Custom Made” mulai menemukan bentuknya
Setelah melewati kekalahan, Durden mencatat beberapa kemenangan penting yang membangun reputasinya sebagai petarung yang bisa menang dalam berbagai cara.
Salah satu momen yang menonjol adalah kemenangan TKO ronde pertama atas JP Buys—hasil yang memperlihatkan sisi striking agresifnya bisa benar-benar mematikan ketika timing bertemu jarak.
Lalu ia meraih kemenangan keputusan atas Aori Qileng, Carlos Mota (pengganti mendadak), Charles Johnson, dan Jake Hadley—serangkaian kemenangan yang menggambarkan bahwa Durden bukan hanya “finisher”, tetapi juga mampu mengelola laga tiga ronde ketika perlu.
Di titik ini, ia terlihat seperti petarung yang semakin komplet: striking-nya memaksa lawan menghormati jarak, sementara ancaman grappling-nya membuat lawan tidak bisa asal menekan.
Identitas teknik: southpaw agresif dengan fondasi kuncian
Di data UFC Stats, Durden tercatat southpaw—detail kecil yang sebenarnya besar, karena southpaw di flyweight sering menciptakan sudut serang yang mengganggu (terutama untuk straight kiri dan set-up ke clinch).
Sementara itu, catatan menang-kalahnya menunjukkan keseimbangan metode kemenangan: 6 KO/TKO dan 6 submission.
Inilah yang membuat Durden sulit ditebak oleh lawan level menengah:
-
- Kalau lawan terlalu fokus menghindari pukulan, Durden bisa masuk ke clinch, menyeret ke bawah, dan berburu kuncian.
- Kalau lawan terlalu fokus menahan takedown, Durden bisa memaksa pertukaran pukulan dan mencuri momen KO/TKO.
Ditambah lagi, ia dikaitkan dengan American Top Team (varian gym di Atlanta/Gwinnett) di beberapa profil—lingkungan latihan yang dikenal menyeimbangkan striking dan grappling secara modern.
Naik-turun yang membentuk: pelajaran dari laga-laga berat
Karier Durden di UFC juga diisi oleh ujian-ujian berat, termasuk kekalahan lewat face crank submission dari Tagir Ulanbekov di UFC 296—contoh bagaimana detail kontrol dan grappling elite bisa mengubah jalannya pertarungan di level atas.
Tetapi di UFC, bertahan lama bukan hanya soal menang terus. Bertahan lama adalah soal mampu “kembali bekerja” setelah kalah: memperbaiki kekurangan, menerima fight berikutnya, dan tetap relevan di roster yang sangat kompetitif. Di titik ini, Durden sudah membuktikan dirinya sebagai tipe petarung yang tidak mudah tergeser—karena ia punya gaya yang selalu menyulitkan.
Prestasi dan hal menarik dari Cody Durden
Beberapa poin yang paling menonjol dari perjalanan “Custom Made”:
-
- Masuk UFC sejak 2020 dan langsung debut sengit (hasil draw vs Chris Gutiérrez).
- Paket komplet: southpaw striker + grappler dengan brown belt BJJ.
- Keseimbangan finishing: 6 KO/TKO dan 6 submission—angka yang jarang “seimbang” untuk petarung yang basisnya striking.
- Rekor profesional 17-9-1 yang menunjukkan volume laga tinggi dan pengalaman menghadapi banyak gaya.
“Custom Made” sebagai tipe petarung yang selalu dibutuhkan UFC
Cody Durden mungkin bukan petarung yang dibungkus sebagai bintang sejak awal. Tetapi justru itu esensi julukannya: Custom Made—dibentuk oleh kerasnya regional, ditempa oleh naik-turun di UFC, dan disusun ulang setiap kali ada bagian yang harus diperbaiki.
Di flyweight, ia adalah kombinasi berbahaya: southpaw yang agresif, punya tenaga untuk memaksa pertukaran, dan punya grappling yang cukup licin untuk mengubah arah pertarungan kapan saja. Rekornya—dengan KO dan submission yang sama-sama kuat—membuktikan bahwa ia tidak hidup dari satu rencana. Dan di UFC, petarung seperti itu selalu punya tempat: petarung yang bisa mengacaukan “game plan” lawan, membuat laga jadi keras, dan memaksa siapa pun bekerja untuk menang.
(PR/timKB).
Sumber foto: youtube
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Berita lainya
Newcastle Menang Telak Saat Jamu PSV Eindhoven
Gol Tunggal Moises Caicedo Bawa Chelsea Kalahkan Pafos
Barcelona Hantam Slavia Praha 4-2