Jakarta – Ada petarung yang kariernya meledak karena satu KO, lalu namanya terbang dibawa algoritma highlight. Tapi ada juga petarung yang jalannya lebih sunyi—lebih berat—karena ia harus membangun reputasi lewat hal-hal yang sering tidak terlihat di layar: ketekunan, disiplin teknik, dan keberanian untuk kembali setelah dua kekalahan yang terasa seperti cap “belum cukup”.
Di Lumpinee Stadium, tempat ONE Friday Fights digelar hampir setiap pekan, kisah-kisah semacam itu tidak pernah habis. Dan di antara deretan nama Thailand yang datang dan pergi di panggung internasional, Petsangwan Sor Samarngarment berdiri sebagai contoh klasik petarung muda yang belum menemukan malamnya—namun terus mengumpulkan pelajaran di level tertinggi.
Menurut profil resmi ONE Championship, Petsangwan berasal dari Thailand, memiliki tinggi 170 cm (5’6”), berusia 23 tahun, dan bernaung di PK Saenchai Muaythaigym—kamp yang dikenal sebagai “pabrik” petarung dengan teknik rapi dan mental baja.
Soal tahun lahir, data ONE hanya menampilkan usia; sementara catatan pihak ketiga menempatkannya di awal 2000-an (sering disebut 2002, ada juga yang mencatat 2003).
Yang paling penting: di ONE, ia sudah dua kali tampil—dan dua-duanya berakhir dengan kekalahan via unanimous decision.
Di atas kertas, itu “0-2”. Tapi di dalam ring, dua laga itu adalah peta: menunjukkan gaya, menunjukkan ketahanan, dan menunjukkan bagian mana yang harus ia ubah bila ingin mengubah nasib.
Profil singkat Petsangwan Sor Samarngarment
-
- Nama tanding: Petsangwan Sor Samarngarment
- Asal: Thailand
- Usia: 23 tahun (data ONE)
- Tinggi: 170 cm (5’6”)
- Camp/Tim: PK Saenchai Muaythaigym
- Kelas tanding di ONE Friday Fights: ia tampil pada batas 118 lbs dan 122 lbs (sering dipetakan publik sebagai strawweight/catchweight ringan di kartu Muay Thai ONE)
- Rekor di ONE: 0–2 (2 kalah UD)
Anak muda dari sistem Muay Thai Thailand: rapi, tradisional, dan “bermain ronde”
Jika ada satu kata untuk menggambarkan Petsangwan, itu adalah: teknisi. Ia membawa rasa Muay Thai Thailand yang “klasik”: kombinasi pukulan-tendangan yang berlapis, penggunaan jarak dengan tendangan badan/teep, lalu masuk ke clinch untuk mengunci tempo.
Gaya seperti ini lahir dari sistem latihan yang repetitif—hari demi hari—yang membuat petarung terbiasa menilai pertarungan sebagai rangkaian keputusan kecil: langkah kaki, sudut serang, timing tendangan, dan kontrol kepala di clinch. Dan bernaung di PK Saenchai mengisyaratkan lingkungan yang menuntut disiplin teknik—bukan sekadar agresif tanpa bentuk.
Masalahnya, ONE Friday Fights bukan panggung yang selalu ramah bagi petarung “rapi”. Atmosfernya mendorong tempo tinggi; penonton menyukai adu serang; dan sistem penilaian mengapresiasi efektivitas yang terlihat jelas. Itu memaksa petarung tradisional untuk membuat pilihan sulit: tetap jadi teknisi, atau menjadi teknisi yang lebih “menyengat”.
ONE Friday Fights 28: sembilan menit perang, lalu pelajaran pertama
Laga debut Petsangwan di ONE terjadi pada ONE Friday Fights 28. Lawannya Mahahin Petkiatpet pada 118 lbs Muay Thai, dan hasil akhirnya: Petsangwan kalah via unanimous decision.
ONE dalam report berbahasa Indonesia menggambarkan pertandingan itu sebagai duel yang intens: kedua petarung saling menyerang dengan pukulan, tendangan, siku, dan lutut—dan intensitas meningkat setiap ronde. Pada akhirnya, Mahahin keluar sebagai pemenang angka mutlak, namun disebut “harus berjuang keras” untuk mengamankan kemenangan tersebut.
Kekalahan angka seperti ini biasanya menimbulkan dua efek pada petarung muda:
-
- Efek mental: kamu sadar kamu bisa bertahan di panggung besar—tapi bertahan saja tidak cukup.
- Efek teknis: kamu mulai paham bahwa “rapi” harus dibarengi “terlihat menang” di mata juri—entah lewat momen besar, tekanan yang konsisten, atau serangan yang paling bersih.
Debut itu tidak memberi Petsangwan kemenangan, tetapi memberi sesuatu yang lebih dasar: pengalaman menghadapi ritme ONE tanpa “runtuh”.
ONE Friday Fights 115: pertarungan brutal di 122 lbs, tetapi skor tetap tidak berpihak
Ujian kedua datang di ONE Friday Fights 115 (4 Juli 2025). Kali ini lawannya Maisangkum Sor Yingcharoenkarnchang, dan hasilnya kembali sama: Petsangwan kalah via unanimous decision pada 122 lbs Muay Thai.
ONE bahkan menampilkan sorotan video khusus yang menyebut duel itu sebagai “all-out war” dan “epic showdown”—sebuah isyarat bahwa pertarungan berlangsung keras dan menghibur, meski hasil akhirnya tetap milik Maisangkum.
Di titik ini, rekor 0-2 sering membuat orang luar cepat memberi label. Namun bagi petarung Muay Thai Thailand, kekalahan keputusan di dua event besar juga bisa dibaca sebagai: ia belum menemukan cara untuk memenangi ronde dengan bahasa penilaian ONE.
Karena pada panggung seperti Friday Fights, “perang” saja tidak otomatis berarti menang. Yang dicari adalah efektivitas paling jelas—serangan yang paling terlihat, kontrol yang paling meyakinkan, dan momen yang mengunci narasi ronde.
Gaya bertarung Petsangwan: clinch tradisional dan teknik dasar, tapi butuh “tanda baca” yang lebih tegas
Dari dua pertandingannya, kita bisa merangkum identitas Petsangwan dalam tiga hal:
1. Muay Thai tradisional yang komplet
Ia bukan petarung yang mengandalkan satu senjata. Ia membawa kombinasi pukulan dan tendangan, serta bersedia masuk ke jarak clinch—ciri khas petarung Thailand yang nyaman bertarung di semua jarak.
2. Ketahanan dan kemauan beradu di tempo tinggi
Dua laga berakhir keputusan mutlak berarti ia mampu bertahan tiga ronde penuh di atmosfer yang brutal.
3. Tantangan utama: membuat teknik “terlihat menang”
Di Friday Fights, petarung tradisional sering perlu menambahkan “tanda baca” yang tegas: knockdown, rangkaian serangan bersih yang jelas, atau kontrol clinch yang dominan sampai lawan terlihat kalah posisi. Tanpa itu, ronde-ronde ketat bisa condong ke lawan yang tampak lebih ofensif.
Aspek menarik: justru karena belum menang, ia jadi cerita yang mudah meledak jika satu malam berpihak
Ada alasan mengapa petarung seperti Petsangwan tetap relevan untuk diikuti: narasi “mencari kemenangan pertama” selalu punya daya ledak.
Satu kemenangan saja bisa mengubah persepsi:
-
- dari “0-2” menjadi “bangkit”,
- dari “teknisi yang kalah angka” menjadi “teknisi yang akhirnya menemukan formula”,
- dari “nama pelengkap” menjadi “nama yang mulai dicari lawan”.
Dan menariknya, perkembangan terbaru menunjukkan ONE masih melihat nilai pada namanya. Dalam pengumuman kartu ONE Friday Fights 139, ONE menempatkan Petsangwan dalam laga melawan sensasi muda Prancis Sandro Bosi pada partai strawweight Muay Thai—pertandingan yang dipasarkan sebagai duel antara “Thai technician” dan “French phenom.”
Ini bukan jenis matchmaking yang biasanya diberikan pada petarung yang dianggap “habis”. Ini justru memberi peluang: jika Petsangwan mampu mematikan hype lawan, ia bisa melompat secara naratif dalam semalam.
Apa yang perlu berubah agar Petsangwan menang di ONE?
Jika kita bicara dalam bahasa praktis—apa yang biasanya mengubah nasib petarung tradisional di Friday Fights—maka ada tiga area yang paling menentukan:
-
- Mulai lebih cepat
Banyak teknisi tradisional “membaca ronde” terlalu lama. Di Friday Fights, ronde pertama sering menentukan momentum. Petsangwan butuh start yang lebih tegas agar juri tidak melihatnya tertinggal sejak awal. - Clinch yang benar-benar dominan (bukan sekadar bertahan)
Clinch Thailand bisa jadi senjata penentu—tapi hanya jika ia terlihat mengontrol: mengangkat siku, mengunci kepala, mendaratkan lutut yang jelas, dan membuat lawan tampak kalah posisi. - Momen besar minimal satu kali per pertarungan
Knockdown, serangan bersih yang menggoyang, atau kombinasi yang memaksa lawan mundur nyata. Satu momen semacam itu sering menjadi “jangkar” penilaian juri.
- Mulai lebih cepat
Jalan Petsangwan belum panjang, tapi pintunya masih terbuka
Petsangwan Sor Samarngarment sudah merasakan dua malam keras di ONE: kalah UD di ONE Friday Fights 28 dan kalah UD di ONE Friday Fights 115.
Itu membuatnya berada di persimpangan klasik petarung muda Thailand: apakah ia akan menjadi teknisi yang tenggelam di angka, atau teknisi yang menemukan formula untuk membuat tekniknya “terlihat menang” di panggung global.
Jika benar ia akan bertemu Sandro Bosi di ONE Friday Fights 139, maka pertarungan itu bisa menjadi titik balik yang tajam—karena tidak ada panggung yang lebih cocok untuk mengubah cerita selain Lumpinee, pada malam ketika semua orang datang untuk melihat bintang baru… dan justru pulang dengan nama yang selama ini “diam-diam” menunggu giliran.
(PR/timKB).
Sumber foto: onefc.com
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda