Jakarta – Ada petarung yang masuk UFC lewat satu malam sempurna—sekali tampil di Dana White’s Contender Series, langsung dapat kontrak, lalu hidupnya berubah. Tapi ada juga petarung yang harus menempuh rute lain: menang dulu, pulang tanpa kontrak, kembali lagi, jatuh, bangkit, lalu mencoba lagi sampai pintu itu benar-benar terbuka.
Kisah Steven Nguyen—lahir 19 Mei 1993 di Wichita, Kansas, Amerika Serikat—lebih dekat ke jalur kedua. Ia kini dikenal sebagai petarung featherweight UFC dengan julukan “The Ninja”, seorang striker yang bekerja dengan ritme cepat, namun punya kemampuan submission yang nyata. Dan yang membuat perjalanannya terasa “film banget” adalah fakta bahwa karier UFC-nya lahir dari ketekunan mengejar kesempatan, bukan hanya dari bakat.
Nguyen bertarung dari Dallas, Texas, berlatih di Fortis MMA—gym yang terkenal keras, detail, dan sangat taktis.
Di atas kertas, ia punya label “striker”, tetapi angka-angka kariernya bercerita lebih lengkap: rekor profesional 10-2, dengan 5 kemenangan KO/TKO, 3 submission, dan 2 kemenangan keputusan.
Profil singkat Steven Nguyen
-
- Nama: Steven Nguyen
- Julukan: The Ninja
- Tanggal lahir: 19 Mei 1993
- Tempat lahir: Wichita, Kansas, AS
- Tinggi / jangkauan: 180 cm (5’11”) / reach 73”
- Divisi: Featherweight (145 lbs) UFC
- Camp: Fortis MMA (Dallas, Texas)
- Stance: tercatat Switch di UFCStats/ESPN
- Rekor pro: 10-2-0
Wichita, Kansas: awal yang sederhana, mimpi yang tidak sederhana
Wichita bukan kota yang selalu disebut pertama ketika orang membicarakan “pabrik petarung” Amerika. Tapi justru dari tempat seperti itulah banyak kisah pekerja keras lahir—petarung yang tumbuh bukan dari sorotan, melainkan dari kebiasaan: latihan, ulangi, latihan lagi.
Dalam data profil pertarungannya, Wichita adalah titik mula. Lalu Dallas menjadi tempat ia membangun versi terbaik dirinya—bermukim dan bertarung atas nama Fortis MMA, gym yang identik dengan struktur dan disiplin.
Julukan “The Ninja” terasa cocok bukan karena ia “menghilang”, tapi karena cara bertarungnya sering seperti sesuatu yang datang tiba-tiba: serangan yang meledak cepat, perubahan ritme, lalu selesai—entah lewat pukulan atau kuncian.
Fortis MMA: menempa striker yang tidak lupa cara mengunci
Di ESPN, Nguyen terdaftar sebagai “Striker”.
Namun, ketika kamu melihat komposisi kemenangannya, kamu menemukan satu hal penting: ia bukan striker yang kosong ketika pertarungan masuk ke grappling. Tiga kemenangannya datang lewat submission, dan UFC.com bahkan merangkum profilnya sebagai petarung dengan kemenangan KO dan submission, termasuk beberapa jenis kuncian (misalnya guillotine dan rear-naked choke) serta sejumlah finis ronde pertama.
Di featherweight, kombinasi seperti ini berbahaya: lawan yang fokus menahan pukulan bisa lengah saat clinch; lawan yang menyiapkan takedown bisa dihukum dengan serangan balik dan scramble.
Jalur masuk UFC: DWCS bukan sekali—tapi berkali-kali
Bagian paling “menggigit” dari kisah Nguyen adalah bagaimana ia tidak berhenti mengetuk pintu.
2021: Menang di DWCS, tapi pulang tanpa kontrak
Pada Dana White’s Contender Series 2021 Week 4 (21 September 2021), Nguyen menang unanimous decision atas Theo Rlayang.
Banyak petarung mengira kemenangan saja cukup. Tapi tidak selalu. Dalam artikel UFC.com berjudul Just The Beginning (Maret 2024), Nguyen bercerita bahwa momen itu berat—ia menang, namun tidak langsung ditandatangani.
Di titik itu, karier seorang petarung sering pecah jadi dua: ada yang kecewa dan menurunkan standar, ada yang menjadikannya api. Nguyen memilih yang kedua.
2023: Kembali ke DWCS dan akhirnya “mengambil” kontrak
Pada DWCS Season 7, Week 6 (12 September 2023), Nguyen menang lewat KO/TKO ronde 2 atas A.J. Cunningham.
Laporan Yahoo Sports menekankan konteks yang membuat kemenangan ini terasa seperti penebusan: Nguyen sudah beberapa kali mencoba di DWCS—termasuk pernah kalah KO di kesempatan sebelumnya—dan kali ini ia tahu “menang saja tidak cukup”; ia butuh performa yang memaksa UFC berkata ya.
Akhirnya, kontrak itu datang. Dan “The Ninja” resmi masuk roster UFC.
Debut UFC: pelajaran keras sebelum kemenangan pertama
Masuk UFC bukan garis finish—itu garis start baru.
Dalam catatan pertarungan ESPN, Nguyen menjalani debut UFC melawan Jarno Errens pada 23 Maret 2024, dan kalah unanimous decision.
Bagi petarung yang terbiasa mengakhiri pertarungan, kekalahan keputusan sering terasa seperti dihukum oleh waktu: tidak ada momen “selesai”, tidak ada tombol reset—hanya 15 menit yang memaksa kamu menilai diri sendiri ronde demi ronde.
Namun di situlah karakter petarung dibentuk: dari bagaimana ia merespons malam yang tidak berjalan sesuai rencana.
Momen yang mengubah narasi: kemenangan UFC pertama yang brutal
Lalu datang malam yang membuat nama Nguyen makin dikenal.
ESPN mencatat pada 26 Juli 2025, Nguyen menghadapi Mohammad Yahya dan menang via KO/TKO pada ronde kedua (5:00).
Sherdog merinci penyelesaiannya sebagai TKO (eye injury)—penghentian dokter akibat kerusakan pada mata lawan.
UFCStats juga menyediakan detail statistik pertarungan tersebut, menunjukkan volume serangan besar yang menggambarkan bagaimana laga itu berjalan satu arah.
Yang membuat laga ini melekat di kepala publik adalah betapa kejamnya pertarungan itu. Beberapa media bahkan menyorot kekhawatiran penonton terhadap cedera mata yang dialami Yahya dan mempertanyakan mengapa laga tidak dihentikan lebih cepat (meskipun sumber tabloid perlu dibaca dengan hati-hati, poin utamanya tetap: pertarungan itu brutal dan kontroversial).
Bagi Nguyen sendiri, ini lebih dari sekadar “W” di kolom kemenangan. Ini adalah pembuktian bahwa ia benar-benar bisa mengubah kesempatan menjadi hasil—sesuatu yang sudah ia latih sejak DWCS: ketika pintu terbuka sedikit, ia akan mendobraknya, bukan mengetuk pelan.
“The Ninja”: striker yang punya jalan keluar lain
Nguyen sering dilihat sebagai striker, dan memang porsi kemenangan KO/TKO-nya besar—5 dari 10 kemenangan.
Namun ada detail yang membuatnya menarik untuk ditonton di UFC:
-
- Stance switch (menurut UFCStats/ESPN) membuat sudut serangnya lebih dinamis—jab, cross, dan tendangan bisa datang dari ritme yang berubah-ubah.
- Submission solid: tiga kemenangan submission berarti saat pertarungan masuk ke scramble, ia bukan “tamu” di grappling.
- Finishing mindset: UFC.com menyorot profilnya sebagai petarung dengan kemenangan KO dan submission serta sejumlah finis cepat.
Dalam divisi featherweight, itu kombinasi yang biasanya mengantar petarung menuju pertarungan-pertarungan besar—karena ia bisa menang dalam lebih dari satu skenario.
Kisah “yang tidak berhenti mencoba”
Jika kamu merangkum Steven Nguyen hanya dengan statistik, kamu mungkin melihatnya sebagai petarung 10-2 dengan kemenangan KO dan submission. Tapi jika kamu melihat rutenya, kamu akan menemukan cerita yang lebih kuat: ia pernah menang di DWCS dan tidak ditandatangani, lalu kembali; ia pernah gagal, lalu kembali; ia akhirnya masuk UFC, kalah debut, lalu kembali—dan menang dengan cara yang tidak bisa diabaikan.
Di dunia MMA, banyak hal tidak pasti—matchmaking, cedera, momentum. Tapi satu hal dari kisah Nguyen terasa jelas: julukan “The Ninja” bukan hanya soal gaya bertarung. Itu juga soal mentalitas—bergerak diam-diam, terus memperbaiki diri, dan muncul pada saat yang tepat.
(PR/timKB).
Sumber foto: instagram
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda