Jakarta – Di dunia submission grappling, ada petarung yang membuat penonton menahan napas karena ledakan—scramble cepat, inversi liar, dan ancaman yang muncul seperti kilat. Tapi ada juga tipe yang membuat penonton “terseret” pelan-pelan ke dalam ketegangan yang berbeda: ketegangan yang dibangun lewat kontrol, keputusan yang nyaris tanpa salah, dan strategi panjang yang terasa seperti permainan catur. João Pedro Bueno Mendes, yang lebih dikenal sebagai “Bisnaga,” berdiri tegak di golongan kedua itu.
Lahir pada 1997, Bisnaga adalah petarung asal Brasil, sabuk hitam Brazilian Jiu-Jitsu di bawah André Galvão, dan salah satu wajah penting Atos Jiu-Jitsu—sebuah akademi yang terkenal melahirkan juara-juara yang bukan hanya kuat, tapi juga “rapi” secara sistem.
Di ONE Championship, ia bertarung di divisi featherweight submission grappling (sekitar 70 kg)—kelas yang menuntut keseimbangan antara kecepatan, ketelitian, dan kemampuan mengontrol tempo ketika lawan mencoba mengubah laga menjadi chaos.
Dan seperti julukannya yang terdengar ringan, permainan Bisnaga justru terasa berat bagi lawan: bukan karena ia selalu mencari drama, melainkan karena ia bisa membuat lawan perlahan kehilangan ruang, kehilangan pilihan, lalu kehilangan harapan.
Identitas “Bisnaga” di panggung ONE
Profil resmi ONE menempatkan Mendes sebagai atlet Brasil dengan batas 70 kg (154,3 lbs) dan tinggi sekitar 176 cm, mewakili Atos Jiu-Jitsu.
Di balik data itu, yang paling menonjol adalah “bahasa tubuh” permainannya: metodis, teknis, dan sangat rapi—sebuah gaya yang terasa kontras jika disandingkan dengan lawan bertipe eksplosif seperti Fabricio “Hokage” Andrey. Pertemuan gaya seperti ini bukan sekadar duel dua atlet, tetapi duel dua filosofi: momen vs akumulasi, ledakan vs struktur.
Dari Atos dan André Galvão
Nama Atos Jiu-Jitsu di dunia grappling sering diasosiasikan dengan satu kata: sistem. Atlet Atos umumnya dibentuk bukan hanya untuk “bisa submission,” tapi untuk menang lewat rangkaian keputusan benar—posisi, pegangan, arah pinggul, sudut, dan cara menutup jalur kabur.
Dalam materi dan catatan Atos, Bisnaga disebut menerima sabuk hitam dari André Galvão pada Juni 2018, serta dikenal memiliki prestasi besar di level sabuk berwarna (termasuk klaim “5x IBJJF World Champion” di kategori colored belts pada materi Atos).
Fase ini penting, karena sabuk hitam di lingkungan seperti Atos sering berarti “siap diuji setiap hari.” Di tempat seperti itu, atlet tidak hanya belajar menyerang—mereka belajar menahan godaan untuk bergerak sia-sia. Mereka belajar hemat energi, menjaga struktur, dan menyusun kemenangan seperti menyusun bangunan: satu batu demi satu batu.
Dari sana, Bisnaga membentuk ciri khasnya: mengutamakan kontrol posisi, transisi halus, dan strategi jangka panjang.
Gaya bertarung
Jika harus menggambarkan Bisnaga untuk penonton baru, analoginya begini: ia bukan “pemburu highlight,” ia “pemburu posisi”.
-
- Kontrol posisi dulu, baru ancam
Bisnaga cenderung memastikan struktur aman—baru kemudian meningkatkan tekanan. Ia tidak terburu-buru mengejar leher atau lengan jika pondasi posisinya belum kokoh. - Transisi halus yang memotong opsi
Banyak grappler terlihat dominan karena kuat secara fisik. Bisnaga terlihat dominan karena membuat lawan kehabisan pilihan. Ketika lawan mencoba keluar, ia sudah menutup pintu berikutnya. - Strategi panjang: menang lewat akumulasi
Ia nyaman bekerja selama durasi penuh—menang kecil demi menang kecil. Bagi lawan yang berharap laga berubah jadi scramble liar, ini terasa menyiksa: seperti dikejar sesuatu yang pelan tapi pasti.
- Kontrol posisi dulu, baru ancam
BJJHeroes bahkan menyebut Bisnaga sebagai salah satu representasi utama Atos dan salah satu grappler papan atas di featherweight, status yang dibangun lewat kemenangan-kemenangan penting di tur IBJJF.
Kisah “underdog” IBJJF Worlds 2025 yang mengangkat namanya
Salah satu bab paling menarik dari narasi Bisnaga adalah kisahnya di IBJJF World Championship 2025. Dalam artikel “5 Things to Know” dari ONE, diceritakan bahwa ia masuk ke turnamen itu dengan peringkat rendah dan bahkan menjadi salah satu unggulan terbawah—seeded nomor 22 dari 23 atlet di divisi featherweight.
Yang terjadi kemudian terasa seperti cerita film olahraga: Bisnaga justru berkembang dalam peran underdog. Ia melaju melalui bracket dengan cara yang sangat “dirinya”—metodis, sabar, dan disiplin—lalu menumbangkan unggulan teratas Meyram Maquiné di final. ONE menggambarkan bagaimana spider guard Bisnaga yang “immaculate” menjadi kunci, dan ia meraih emas melalui keputusan wasit.
Di sinilah publik melihat hal yang sering luput dari mata penonton kasual:
Spider guard bukan hanya “gaya.” Itu alat untuk mengontrol jarak, memaksa lawan menanggung beban postur, dan menciptakan jalur transisi yang stabil. Bila dieksekusi rapi seperti Bisnaga, spider guard bisa menjadi mesin pelan-pelan yang mematahkan ritme lawan tanpa perlu ledakan.
Menjejak ONE Championship
Masuk ONE Championship membuat nama Bisnaga melangkah dari “orang yang dihormati komunitas grappling” menjadi figur yang dilihat publik lebih luas. ONE membingkai dirinya sebagai bintang teknis yang siap memperlihatkan taktik tingkat tinggi di panggung besar—bukan sekadar bertahan, tetapi memimpin permainan.
Lalu datanglah pertandingan yang seolah “ditulis” untuk mempertegas identitasnya: duel melawan Fabricio “Hokage” Andrey.
ONE mengumumkan laga featherweight submission grappling antara Andrey dan Mendes untuk ONE Fight Night 40, menonjolkan keduanya sebagai ace BJJ dengan gaya yang bertabrakan.
Dalam materi jelang laga, ONE juga menekankan bahwa Andrey memburu “statement finish” saat menghadapi Bisnaga—yang secara implisit mengakui satu hal: Mendes adalah tipe lawan yang tidak mudah diberi panggung untuk highlight.
Bisnaga si “arsitek” vs lawan yang eksplosif
Bila ada lawan yang hidup dari chaos, Bisnaga hidup dari struktur. Dan justru karena itu, duel melawan grappler eksplosif sering menjadi panggung ideal untuknya.
-
- Lawan ingin mempercepat tempo → Bisnaga cenderung memperlambat dan memotong jalur scramble.
- Lawan ingin menang lewat momen → Bisnaga membangun akumulasi sampai momen itu tak pernah muncul.
- Lawan suka menyerang dari gerakan besar → Bisnaga sering menang lewat gerakan kecil yang tepat: sudut pinggul, kontrol pergelangan, penempatan kaki.
Bagi penonton, duel seperti ini terasa seperti “dua musik” yang berbeda dipaksa bermain di panggung yang sama. Bagi atlet, ini ujian identitas: siapa yang mampu memaksakan permainan?
Mengapa gaya teknisnya membuat lawan lelah mental
Ada alasan mengapa grappler taktis sering terasa “menyeramkan” bagi sesama atlet:
1. Ia menghukum kesalahan kecil
Banyak petarung kuat bisa memaafkan kesalahan lawan karena mereka berharap ledakan berikutnya menutupinya. Bisnaga tidak seperti itu. Kesalahan kecil—tangan terlalu tinggi, pinggul terlalu terbuka, postur terlalu tegak—bisa ia jadikan pintu masuk.
2. Ia tidak panik ketika submission belum datang
Petarung yang terburu-buru biasanya membuka celah. Bisnaga justru mengurangi celah itu. Ia akan menunggu sampai jalur kuncian benar-benar “bersih,” atau sampai lawan frustrasi dan menawarkan celahnya sendiri.
3. Ia membuat lawan kehabisan opsi, bukan kehabisan tenaga
Banyak laga grappling terlihat seperti adu kardio. Laga Bisnaga sering terlihat seperti adu kesabaran dan kecerdasan. Lawan bisa saja masih kuat—tapi tidak tahu harus ke mana.
“Bisnaga” dan nilai seorang teknisi di era grappling modern
João Pedro Bueno Mendes “Bisnaga” adalah bukti bahwa grappling tidak selalu harus meledak-ledak untuk mematikan. Ia lahir pada 1997, ditempa di Atos di bawah André Galvão, mengantongi kisah underdog di IBJJF Worlds 2025 yang membawanya ke sorotan, dan kini berdiri sebagai salah satu bintang featherweight submission grappling di ONE Championship.
Jika banyak atlet datang untuk “mencari submission,” Bisnaga datang untuk mengendalikan pertarungan—dan dari kontrol itu, submission biasanya hanya soal waktu.
(PR/timKB).
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda