Perjalanan Karier Black Panther Di ONE Championship

Piter Rudai 11/02/2026 5 min read
Perjalanan Karier Black Panther Di ONE Championship

Jakarta – Ada petarung yang tumbuh dari sorak-sorai kemenangan sejak awal. Ada juga yang kariernya dibentuk oleh satu momen pahit—kekalahan yang memaksa dirinya bertanya ulang: apakah aku benar-benar cocok di panggung sebesar ini?

Black Panther termasuk tipe kedua. Dan justru dari titik rapuh itu, kisahnya menjadi menarik: ia jatuh, menata ulang diri, lalu kembali dengan cara yang lebih bising—menang, menyakiti lawan, dan membuat orang menoleh.

Kini, Black Panther dikenal sebagai petarung Muay Thai asal Thailand berusia 26 tahun yang bernaung di Venum Training Camp dan berada di bawah bimbingan Team Mehdi Zatout. Ia bertarung di divisi flyweight Muay Thai ONE Championship, sebuah kelas yang padat talenta dan tak pernah kehabisan striker berbahaya.

Namun, yang membuat namanya benar-benar “meledak” bukan sekadar label gym atau status flyweight. Namanya naik karena satu hal: gaya bertarung agresif yang hidup—seolah ia selalu ingin mengubah setiap detik pertarungan menjadi badai.

Dari Nama Lama ke “Black Panther”

Di dunia Muay Thai Thailand, nama ring sering membawa cerita—kadang lucu, kadang penuh makna, kadang juga seperti mantra untuk membentuk karakter. Dalam sebuah feature, ONE mengungkap alasan di balik nama Black Panther: nama itu dipilih karena mencerminkan gaya serangannya yang cepat dan agresif, juga tidak jauh dari makna nama lamanya, “Jong-Ang-Dam.” Ia menyukai nama itu, merasa cocok, lalu memakainya terus sampai sekarang.

Perubahan nama ini terasa seperti momen “lahir ulang”. Seolah ia tidak hanya mengganti label, tapi juga menegaskan versi dirinya yang ingin ditampilkan di ring: cepat, menyerang, dan tidak ragu mengunci lawan ke mode defensif.

Tempat Agresi Dipoles Jadi Senjata

Berlatih di Venum Training Camp bukan sekadar soal fasilitas. Bagi banyak petarung, itu soal kultur: sparring keras, tempo latihan tinggi, dan pola menyerang yang tidak setengah-setengah. Nama Mehdi Zatout sendiri dikenal sebagai figur penting di ekosistem Venum Training Camp—seorang striker berpengalaman yang kemudian membangun tim dan atmosfer latihan yang kompetitif.

Bagi Black Panther, lingkungan ini seperti bengkel yang tepat untuk “mesin” agresifnya. Ia bukan petarung yang ingin menang cantik tanpa risiko. Ia petarung yang ingin menang sambil meninggalkan pesan: kalau kamu berdiri di depanku, kamu harus siap diseret masuk ke pertarungan yang tidak nyaman.

Agresif, Penuh Tekanan, dan Selalu Mencari Momen Jatuhan

Kalau harus menggambarkan Black Panther dalam satu kalimat: ia menyerang seperti ingin menutup pintu keluar lawan.

Beberapa ciri yang paling menonjol dari gaya bertarungnya:

1. Kombinasi cepat untuk memecah ritme

Ia jarang “memotret” dengan satu serangan. Ia lebih suka merangkai pukulan dan tendangan menjadi aliran. Tujuannya sederhana: membuat lawan tidak sempat mengatur napas dan membaca pola.

2. Tendangan keras sebagai pengikis tenaga

Di flyweight, perbedaan stamina sering menentukan pemenang. Black Panther memanfaatkan tendangan sebagai cara menguras tenaga—mengganggu kaki, memecah keseimbangan, dan memaksa lawan bekerja lebih keras untuk bertahan.

3. Mental bangkit saat ditekan

Banyak striker agresif rapuh ketika diserang balik. Black Panther justru dikenal punya determinasi untuk bangkit dari tekanan—sebuah kualitas yang ONE juga sorot dalam narasi kebangkitannya.

Pernah Tersandung, Lalu Menolak Menjadi Catatan Kaki

ONE mencatat bahwa karier Black Panther di organisasi ini sempat dimulai dengan hasil yang tidak ideal—ia mengalami kekalahan lebih dulu, lalu bangkit dengan kemenangan-kemenangan berikutnya.

Momen seperti ini biasanya menjadi garis pemisah: sebagian petarung kehilangan keyakinan, sebagian lagi menjadikannya pelajaran brutal. Black Panther memilih opsi kedua. Ia kembali, memperbaiki detail, dan perlahan membangun kebiasaan penting: tidak panik ketika pertarungan tidak berjalan sesuai rencana.

Panggung ONE, terutama di Lumpinee, punya tekanan yang tidak semua orang bisa tanggung. Kamu tidak hanya melawan lawan, tetapi juga melawan ekspektasi, lampu, kamera, dan sorak penonton yang bisa berubah dingin dalam satu ronde. Bertahan dari fase awal itu sendiri sudah menjadi “prestasi mental”.

Malam yang Mengubah Sorotan

Puncak yang membuat nama Black Panther kembali dibicarakan luas adalah kemenangannya atas Johan Estupiñan.

Dalam laporan dan highlight resmi, ONE menyebut Black Panther meraih kemenangan TKO ronde kedua atas Estupiñan pada ONE Fight Night 37 (7 November 2025) di Bangkok, bahkan menjatuhkan Estupiñan beberapa kali sebelum penghentian.

Yang membuat kemenangan ini terasa lebih “bercerita” adalah konteksnya: beberapa sumber menyebut ia tampil sebagai pengganti mendadak namun tetap tampil meyakinkan dan menang meledak.

Di titik ini, Black Panther seperti mengirim sinyal yang sulit diabaikan:

ia bukan cuma petarung agresif—ia petarung yang bisa memanfaatkan momentum, mengubah tekanan menjadi keberanian, dan menutup pertandingan dengan cara yang meninggalkan gema.

Menjaga Api

Kemenangan atas Estupiñan tidak berdiri sendiri. ONE bahkan menarasikan kemenangan itu sebagai bagian dari kemenangan beruntun—momen yang menegaskan bahwa Black Panther sedang berada dalam fase “naik”.

Kemudian, ONE mengumumkan bahwa Black Panther akan mencoba memperpanjang laju tersebut saat menghadapi Diego Paez dalam laga flyweight Muay Thai di ONE Fight Night 40 (13 Februari 2026).

Inilah fase yang biasanya menentukan: ketika seorang petarung mulai punya momentum, lawan yang datang berikutnya sering lebih rumit—lebih taktis, lebih kuat, lebih siap menghadapi tekanan. Momentum diuji bukan hanya oleh skill, tetapi oleh kemampuan menjaga fokus saat sorotan semakin terang.

Mengapa Black Panther Terasa “Berbeda” di Tengah Ramainya Flyweight

1. Ia punya cerita kebangkitan yang nyata

ONE sendiri menyoroti transformasi: dari fase awal yang sulit, menuju periode kemenangan. Narasi ini membuat setiap penampilan terasa seperti lanjutan dari perjalanan, bukan sekadar statistik.

2. Agresifnya tidak sekadar “maju buta”

Ada petarung yang agresif tapi mudah dihukum karena terburu-buru. Black Panther cenderung agresif dengan struktur: kombinasi, tekanan bertahap, dan penempatan serangan yang bertujuan memecah pertahanan.

3. Ia bertarung dengan identitas yang kuat

Nama “Black Panther” bukan gimmick kosong—ONE mengaitkannya langsung dengan gaya serangnya. Saat identitas dan gaya bertemu, seorang petarung biasanya lebih konsisten.

Ambisi Sang “Black Panther” dan Bayangan Takhta Flyweight

Black Panther sedang menulis versi dirinya yang paling berbahaya: petarung yang pernah tersandung, belajar dari rasa malu, lalu kembali dengan pukulan dan tendangan yang seolah ingin membayar semuanya.

Di divisi flyweight Muay Thai ONE, jalur menuju puncak selalu berdarah dan penuh nama besar. Tapi Black Panther punya dua modal yang sering tak terlihat di data statistik: keberanian untuk terus menyerang dan kemauan untuk bangkit dari tekanan.

Jika ia bisa menjaga momentum, mengatasi ujian demi ujian, dan tetap mempertahankan gaya agresifnya tanpa kehilangan disiplin, maka ambisinya untuk mengejar gelar dunia bukan sekadar mimpi—melainkan rute yang sedang ia buka sendiri, langkah demi langkah, ronde demi ronde.

(PR/timKB).

Sumber foto: google

Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda

Loading next article...