Jakarta – Silviu “Hitman” Vitez bukan tipe petarung yang menunggu kesempatan. Ia tipe yang menciptakan kesempatan—dengan langkah maju, kombinasi berlapis, dan tekanan yang tidak memberi lawan waktu untuk merasa aman. Lahir pada 7 Februari 1995 di Câmpia Turzii, Rumania, Vitez tumbuh sebagai salah satu wajah yang mewakili gelombang baru striker Eropa: petarung yang mempelajari Muay Thai bukan sebagai “gaya eksotis”, melainkan sebagai bahasa bertarung yang harus dikuasai sampai fasih—lalu dibawa untuk menantang siapa pun di ring paling keras.
Di ONE Championship, namanya melekat dengan satu kata: atraktif. Bukan atraktif karena gaya aneh atau gerak teatrikal, melainkan karena ia bertarung seperti seseorang yang yakin satu hal: kalau kamu memberinya ruang satu inci saja, ia akan memaksa pertukaran serangan sampai lawan kehabisan napas.
Profil dan identitas: “Hitman” di kelas flyweight
Di panggung ONE, Vitez tercatat bertarung pada batas flyweight Muay Thai (ONE mencantumkan tinggi 171 cm dan batas bobot sekitar 60,2 kg / 132,7 lbs untuk profilnya), serta berafiliasi dengan tim MFC Noia / Sityodtong.
Detail ini penting karena menunjukkan satu hal yang sering luput: ia bukan “petarung Eropa yang sesekali mampir”. Ia membangun karier sebagai striker yang serius, dengan basis latihan yang membuatnya siap menghadapi gaya Thailand yang sangat spesifik.
Yang membuatnya menonjol adalah label “ultra-agresif” yang bukan sekadar narasi promosi. ONE sendiri menulis bahwa ia telah menjalani lebih dari 60 pertarungan sejak debut profesionalnya pada 2016—jam terbang yang biasanya hanya dimiliki petarung yang hidupnya memang berputar di sekitar ring.
Dari Eropa ke peta dunia: gelar yang mengangkat namanya
Sebelum ONE memanggil, Vitez lebih dulu mengukir legitimasi di sirkuit striking Eropa. Dalam daftar prestasi yang sering disebut, ada dua yang paling menonjol:
Gelar ISKA European (membuktikan ia bukan sekadar petarung “tahan banting”, tetapi juga kompetitif di jalur gelar).
WAKO-Pro World K-1 Lightweight Champion, sebuah pencapaian yang menegaskan kualitas kickboxing-nya di level dunia.
Gelar-gelar itu membentuk reputasi Vitez sebagai “produk jadi”: petarung yang sudah terbiasa bertanding keras, sering bertarung di luar negeri, dan sanggup mempertahankan intensitas sepanjang ronde. Maka ketika ONE akhirnya mengundangnya ke ONE Friday Fights pada 2023, undangan itu terasa seperti konsekuensi alami dari perjalanan yang sudah ia bangun sendiri.
Undangan ONE Friday Fights: saat reputasi diuji di Lumpinee
Masuk ke ONE lewat format ONE Friday Fights itu seperti masuk sekolah yang gurunya tidak pernah memberi keringanan. Banyak petarung bisa terlihat hebat di panggung regional, tetapi berubah biasa-biasa saja ketika bertarung di Lumpinee Boxing Stadium—arena yang menguji timing, clinch, ketenangan, dan kemampuan bertahan dalam tempo tinggi.
Menjelang debutnya, ONE bahkan menulis artikel khusus tentang peluang “breakout moment”-nya. Mereka menekankan bahwa Vitez datang sebagai striker yang mendominasi Eropa dan sempat menembus peringkat dunia versi media kickboxing.
Ini semacam pengantar yang halus: kamu punya reputasi—sekarang buktikan.
Debut di ONE Friday Fights 2: siku yang mengubah malam
Debutnya datang di ONE Friday Fights 2 (Januari 2023) melawan Yodlekpet Or Atchariya. Secara hasil, Vitez kalah melalui TKO ronde 2 (pada 2:10).
Namun yang membuat laga itu sering diingat bukan hanya karena angka di catatan—melainkan bagaimana cara pertarungannya berakhir.
Dalam rangkuman takeaways, ONE menggambarkan laga itu kompetitif di ronde pertama, tetapi kemudian Yodlekpet tetap tenang dan “measured”. Di ronde kedua, sebuah siku tajam membuka luka yang serius di kepala Vitez, dan dokter ringside menilai ia tak bisa melanjutkan, sehingga laga dihentikan.
Bagi petarung tekanan seperti Vitez, momen seperti ini sering menjadi pelajaran paling mahal: agresivitas memang senjata, tetapi melawan elite Thailand, agresivitas tanpa manajemen jarak bisa mengundang senjata paling kejam—siku yang datang dari sudut tak terlihat.
ONE Friday Fights 9: perang melawan Seksan, kalah tapi “terlihat”
Beberapa bulan setelahnya, Vitez kembali bertemu nama yang identik dengan pertarungan brutal: Seksan Or Kwanmuang. Di ONE Friday Fights 9 (Maret 2023), ia kalah lewat unanimous decision.
Tapi ada hal yang lebih penting dari sekadar menang-kalah: melawan petarung seperti Seksan, kamu tidak sekadar diuji teknik—kamu diuji nyali dan stamina, diuji apakah kamu bisa tetap menyerang ketika pertukaran mulai liar, diuji apakah kamu bisa tetap berdiri saat tekanan publik ikut menekan.
Dan di titik ini, citra “Hitman” mengeras: ia adalah petarung yang, bahkan ketika kalah, tetap memaksa laga menjadi ramai.
ONE Friday Fights 63: duel tiga ronde yang memaksa rapi
Pada ONE Friday Fights 63 (Mei 2024), Vitez kembali menapaki ring dan menghadapi Ayumu Kimura. Hasilnya lagi-lagi kekalahan unanimous decision.
Buat petarung agresif, kekalahan angka seperti ini biasanya menandai “batas baru”: lawan yang bisa bertahan dari tekanan, membaca ritme, dan memaksa kamu bertarung lebih rapi daripada sekadar menyerang. Ini semacam pergeseran halus: dari petarung yang menang karena volume, menjadi petarung yang harus menang karena kualitas pilihan serangan.
ONE Friday Fights 83: melawan Panpayak, benturan kelas dan pengalaman
Oktober 2024, Vitez bertemu salah satu nama paling dihormati di generasi modern: Panpayak Jitmuangnon. Di ONE Friday Fights 83, ia kalah via unanimous decision.
Dalam laporan ONE, Panpayak menggunakan pengalaman veteran untuk mengontrol laga—terutama lewat teep dan kontrol jarak di ronde ketiga—meski tetap ada momen tukar pukulan keras yang menunjukkan Vitez tidak sekadar “bertahan hidup”.
Di sini, terlihat jelas mengapa Vitez dicap atraktif: melawan teknisi sekaliber Panpayak pun, ia masih menemukan cara membuat pertarungan terasa “hidup”.
ONE Friday Fights 111: main event yang berakhir cepat, dan pelajaran tentang tempo
Juni 2025, Vitez kembali menjadi pusat perhatian: ia tampil di main event flyweight Muay Thai melawan Petsukumvit Boi Bangna pada ONE Friday Fights 111. Hasilnya, ia kalah TKO ronde 2, dan ONE menulis bahwa Petsukumvit “crushed” Vitez di ronde kedua.
Kekalahan TKO ini terasa seperti pengingat keras tentang gaya ultra-agresif: semakin kamu menekan, semakin kamu harus mampu mengelola risiko. Di level ONE, petaritaan kecil—posisi kaki yang terlalu maju, dagu yang sedikit terbuka, atau ritme yang bisa ditebak—cukup untuk mengubah pertandingan dalam hitungan detik.
Gaya bertarung: mengapa Vitez selalu menarik ditonton
Ada alasan mengapa penonton mudah ingat pada “Hitman”: gaya ofensifnya punya ciri yang jelas.
-
- Pressure sebagai identitas
Ia jarang memberi lawan waktu “mengatur napas”. Bahkan saat lawan mundur, Vitez cenderung mengejar dan menutup sudut. - Kombinasi tangan–kaki khas Muay Thai modern
Ia tidak hanya mengandalkan satu senjata. Tekanan itu biasanya datang lewat kombinasi berlapis yang memaksa lawan terus merespons. - Keberanian bertukar pukulan
Ini sisi yang membuatnya atraktif—tapi juga sisi yang paling mahal jika timing lawan lebih matang.
- Pressure sebagai identitas
ONE sendiri menempatkannya berulang kali melawan lawan elite. Dan itu biasanya berarti satu hal: organisasi menilai ia punya sesuatu yang membuat kartu pertandingan “hidup”—entah ia menang atau kalah.
Aspek menarik: simbol “Muay Thai Eropa” yang naik kelas
Vitez juga menarik karena ia mewakili cerita yang sedang tumbuh di dunia striking: petarung Eropa yang tidak lagi datang ke Thailand untuk “belajar”, tetapi datang untuk mengukur diri.
Ia sudah membawa gelar, membawa reputasi, membawa jam terbang 60+ laga, lalu menantang para “pemilik rumah” di Lumpinee.
Dan meski hasilnya tidak selalu berpihak, keberanian untuk terus mengambil pertarungan sulit—mulai dari Yodlekpet, Seksan, Panpayak, hingga Petsukumvit—membuatnya tetap relevan sebagai nama yang selalu punya potensi menciptakan malam gila.
“Hitman” dan bab berikutnya
Dalam dunia Muay Thai di ONE, ada dua cara untuk bertahan: menjadi petarung yang selalu menang, atau menjadi petarung yang selalu membuat orang ingin menonton. Silviu “Hitman” Vitez—setidaknya sampai titik ini—berdiri kuat pada kategori kedua, sambil terus mengejar kategori pertama.
Jika ia mampu merapikan detail kecil—cara masuk jarak agar tidak “terbuka” untuk siku, manajemen tempo saat menekan, serta disiplin defensif di tengah kombinasi—maka gaya ultra-agresifnya bisa berubah dari sekadar tontonan menjadi senjata untuk menanjak.
(PR/timKB).
Sumber foto: google
Download aplikasi Kulit Bundar untuk membaca berita dan artikel lebih mudah di gadget anda